Monday, October 31, 2016

Madura, Engkau Tak Akan se-Asin Dahulu

Tags

Kapal laut Ferry yang sederhana itu bergerak dan terus melaju menuju ke pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Desiran angin yang cukup kencang dari arah barat menerpa tubuhku yang sedari tadi dijilati oleh semburan matahari yang panas. Sempat pula terdengar deburan ombak memecah lautan yang tenang dari atas kapal. 

Di belahan langit lainnya, tampaklah burung-burung camar berterbangan dengan kepakan sayapnya yang seolah membentuk tarian. Sedang dari kejauhan pandangan mata, jembatan Suramadu berdiri kokoh dengan tiang utama menancap ke dasar laut.

Pelan dan pelan, dalam pikirku, kapal yang aku tumpangi dengan harga karcis lima ribu rupiah itu, perlahan-lahan mulai kaburkan pandanganku terhadap pulau Madura yang semenjak dari kebarangkatannya dari pelabuhan Kamal terus kuperhatikan. Kuamati pulau yang tidak pernah mengenal semi itu dengan penuh seksama, dan kemudian kuungkapkan salam perpisahan dengan tatapan sayu;
“Engkau tidak akan se-asin dahulu lagi, Madura. Selamat tinggal semua kenangan: engkau pemilik lesung pipi itu, senyum 2 senti itu, bulu mata yang lentik itu, dan andeng-andeng itu. Semoga engkau bahagia di sana. Sayonara.” Sambil kulambaikan tangan.
****
Kurang dari seminggu lamanya, atau lebih tepatnya selama lima hari aku pulang kampung dari tempat merantau, Yogyakarta. Alasan pulang kali ini memang tidak seperti biasanya. Ya, aku disuruh pulang karena istri dari kakak sepupuku mencalon menjadi klebun atau kepala desa. Disuruhnya aku pulang bukan untuk menambah perhitungan suara untuk istri dari kakak sepupuku tersebut. Jelas bukan alasan itu. Istri dari kakak sepupuku dan aku berbeda desa, maka tidak ada nuansa politis dari kepulanganku ini.
****
Setiap aku hendak pulang ke rumah, selain untuk bersua ria dan meleburkan rasa kangenku terhadap keluarga, ada satu hal yang selalu datang secara diam-diam dan menyelinap dalam rasaku. Hal itu menyelinap diam seperti bebayang halus, dan kemudian membentuk suatu ruang tersendiri di dalam diriku.

Di dalam ruang itu, bebayang itu menyesakkan dada dan mengoyak hati. Seringkali bebayang itu mengecam untuk turuti kehendaknya, seperti inginkan suatu perjumpaan nyata. Sunguh menyayat hati. Bagaimana tidak, di ruang itu, ia dibungkus oleh derita kesendirian, perasaan sunyi dan sepi. Terkadang aku takut tidak terbiasa dengan belenggu ini. Takut membuat aku mati seketika olehnya yang sangat menyayat hati.
****
Dengan diantar oleh seorang kawan, Rian Hidayat, dari padepokan Mahzhab Karangkajen ke Terminal Giwangan, tepat pukul 11.45 malam hari, dengan memakai bus Sumber Kencono, aku pulang menuju pulau garam.

Sepi nan dingin suasana dan nuansa di dalam bus. Hanya tiga orang penumpang yang ada di dalam bus. Satu penumpang duduk paling depan di pojok kanan, satu lainnya duduk 2 baris dari tempat dudukku, dan penumpang yang ketiga adalah aku sendiri.

Aku mengambil tempat duduk pada bagian tengah di samping kiri. Dari tempat duduk, aku buka gorden jendala bus. Handphone di kantong kemeja kuambil. Aplikasi Blackberry dalam Handphone itu aku buka, sembari kemudian menuliskan status baru: Otw Pulau Garam: Madura, masihkah engkau se-asin dahulu?
****
Ternyata pemandangan Kota Yogyakarta ketika malam hari itu lebih indah, sejuk dan tenang. Di malam hari, Kota Yogykarta akan menampil pesonanya dengan kelap-kelip lampu yang berwarna-warni di setiap jalan. Suasana sepi dan nuansa sunyi akan membentuk bangunan Yogyakarta di pinggir jalan tampak eksotis dan maskulin. Sangat berbeda bila kita sandingkan pada siang hari, yang penuh macet di sepanjang jalan, debu-bedu berterbangan, dan panas dari terik matahari yang siap mengigit ubun-ubun pengendara.

Terbuai oleh suasana dan nuansa malamnya Kota Yogyakarta, membuatku merasa sedikit melankolis kala itu. Seolah waktu yang mengikatku melambat sangat pelan dan bergerak penuh sayu. Kelap-kelip lampu di sepanjang jalan maupun suasana sepi dan nuansa dari dalam bus, membaur, menyatu, dan membentuk sketsa wajah seorang gadis yang sendu dan murung. Akhh, gerututku kesal.
****
Lesung pipi itu, senyum 2 senti itu, bulu mata yang lentik itu, andeng-andeng itu, cara bicara itu, dan kesemua tentangnya, kini mulai membentuk kembali bingkai kenangan indah dan rindu dalam lamunku, dan melemparkan diriku pada sisa memori masa lalu. Sisa memori di mana dahulu, atau mungkin sampai sekarang?, aku yang kala itu masih berseragam putih-merah, pernah mengagumi seorang anak gadis di desa.

Sungguh bau kencur dan lancang. Bayangkan, anak kecil yang baru berumur 12 tahun sudah lancang mengagumi seorang gadis. Menambah kelancang lagi, mengingat gadis itu berasal dari keluarga terpandang di desa. Sempat pula, dari mengagumi itu,  aku ada rasa ingin memilikinya.
****
Mengagumi itu sungguh menakjubkan. Begitulah kira-kira bila aku gambarkan. Dari mengagumi kita belajar menghargai dan betapa penting waktu, serta makna jarak. Kita juga akan mengenal dan bertegur sapa dengan rindu dari mengagumi itu.

Dalam mengagumi dirinya, seringkali disela-sela sepiku, secara diam-diam menulis kisahnya dalam rangkaian syahdu. Bersamaan dengan sepi, selalu terlukis pula tentangnya di ruang itu: Senyum itu, cara bicara itu, bulu mata yang lentik itu, dan lesung pipi itu, selalu aku jaga dan tersimpan rapi pada satu ruang di petak hatiku bersama angan.

Kalian tidak akan tahu rasanya jikalau belum pernah mengagumi.
****
Aku tahu, tempat tinggalnya tidak terlampau jauh dari tempat tinggalku. Hanya beberapa kilometer saja jarak itu. Terpisah oleh bukit dan pasar saja. Tidak terlampau jauh. Tetapi bukankah jarak adalah jarak? Tidak peduli jauh atau dekat, jarak tetaplah jarak. Dan bukankah karena persoalan jarak pula mengapa rindu itu bisa datang menyelinap dan mengoyak hati?
****
Malam yang gelap kini dijemput oleh pagi bersamaan dengan hadirnya kembali matahari yang bangun dari balik cakrawala. Pagi datang kemudian siang akan menggantikannya. Setelah itu waktu sore muncul, dan malam datang kembali. Begitulah seterusnya ketika waktu berbicara.

Dari waktu, aku menginsyafi hakekat hidup bahwa, selain waktu mengikat dan tidak terpisahkan oleh ruang, ternyata waktu telah menjadi paduka raja yang tidak terkalahkan dan semuanya, oleh waktu, akan dibuat fana. Sama seperti halnya keindahan senja dikala sore menjelang, waktu telah mengikatnya dan membuatnya menjadi fana. Meskipun senja itu adalah yang paling indah dan paling keemas-emasan hanya akan berakhir dalam keremangan malam oleh waktu. Waktu akan membalut senja dengan kegelapan yang begitu menyedihkan. Keindahan senja akan selesai dan menjadi malam gelap, kejam, dan fana.

Menginsayafi persoalan waktu, akupun jadi berfikir: Apakah kisahku, Maduraku yang asin itu juga akan dibuat fana olehnya? Dilema inilah yang tiba-tiba datang padaku. 
****
Pukul 08.40 Wib ketika bus Sumber Kencono sampai ke terminal Bungurasih Surabaya. Tetapi perjalanan menuju kampung halaman belumlah selesai. Kira-kira masih membutuhkan 3 jam lagi baru akan sampai di rumah. Masih ada beberapa rute perjalanan yang harus aku lalui; seperti naik bus Damri dari Burungasih ke Tanjung Perak, menyebrangi lautan dengan menunggangi kapal Ferry dari pelabuhan Tanjung Perak menuju pelabuhan Kamal, dan dari pelabuhan Kamal harus naik angkot terlebih dahulu menuju pertigaan Banyusangkah.

Ketika sampai di pertigaan Banyusangkah perjalanan juga belumlah selesai. Dari sana aku harus naik ojek menuju ke rumah atau biasanya aku dijemput oleh adik sepupu. Kira-kira 10 kilometer jarak antara Banyusangkah ke rumahku.

Dusun Glepa, desa Dupok, di kecamatan Kokop itulah tempat tinggalku berada. Desa yang teramat gersang. Jika musim penghujan telah hilang, maka datanglah kemarau panjang. Jika musim kemarau telah datang akan membuat sebagain besar dari penduduk desa berdunyun-dunyun menuju sungai. Desa yang menyedihkan, begitulah orang-orang pendatang berkata. Tapi bagiku, Dupok adalah desaku, dan akan selalu menjadi desa yang indah meskipun gersang. Karena di desa itu aku dilahirkan, karena di desa itu aku pernah satu naungan sekolah dasar dengan gadis itu, dan karena desa itu pula aku bisa mengaguminya.
****
Hari telah terik tatkala aku sampai di rumah. Di rumah sepi, hanya ada beberapa orang saja. Kala aku tanya di mana bapak dan ibu. Jawab mereka, kalau kedua orang tua berada di desa Tangungguh, tetangga Desa. Tempat tinggal kakak sepupu. Katanya mereka lagi, nanti selepas sholat Magrib tiba, aku disuruhnya ke sana.

Kulihat jam di Hanphone kini telah tunjukkan angka 12 kurang sedikit. Kuseka keringat dengan punggung tangan yang sedari tadi mengucur sedikit deras karena diserang panas yang tidak tahu diri.
****
Pada kamar yang telah sekian bulan aku tinggal itu, aku membaringkan badan di atas ranjang. Sebelum lelap menjemput dan mimpi menyerang alam sadarku, aku berguman lagi: “Madura, masihkah engkau se-asin dahulu?”

Sebelum aku benar-benar terlelap dan didekap oleh mimpi, di meja kamar ada sebuah undangan yang tertera untukku. Undangan itu tergeletak tidak rapi, berwarna ungu dengan bingkai-bingai bunga keemasan. Kuambil undangan itu, tertangkap dalam pandangku: Lesung pipi itu, senyum 2 senti itu, bulu mata yang lentik itu, dan andeng-andeng itu, dengan pinggang yang ramping itu dirangkul mesra dari belakang oleh suatu tangan lelaki yang tidak asing lagi dalam ingatanku.  Di bawah foto tertuliskan namanya, Laila Amaliyah dengan ........ akan melangsungkan Akad Pernikahan pada hari/tanggal ......... di .........

Aku kemas barang-barang yang belum 10 menit kukeluarkan ke dalam tas. Mengumpat betapa sakitnya hati yang patah, aku beranjak dari kasur untuk bersiap-siap menuju ke Banyungkah kembali, sembari diteruskan ucapan sendu:
“Madura, engkau tidak akan se-asin dahulu lagi.”
Desa Dupok, 31 Oktober 2016


EmoticonEmoticon