Sunday, July 10, 2016

Cerita Ramayana: Dewi Shinta

Tags

Siapa yang tak kenal atau tak pernah dengar cerita Ramayana? Sujiwo Tejo pernah berkata; "Yang tak kenal cerita Ramayana tentu boleh hidup di dunia, tetapi hidup kalian kurang lengkap tanpa ceritanya."

Cerita Ramayana adalah cerita yang kompleks, dimulai dari sayembara untuk mendapatkan Dewi Sukesi. Dewi Sukesi adalah gadis yang cantik jelita, senyumnya laksana bunga teratai yang baru mekar di taman Argasoka. Taman yang dikenal lebih indah dari pada surga. Tatapannya yang teduh seperti embun pagi yang malas untuk jatuh tanah. Dari tatapan itu akan membuat lelaki siap mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya.

Dari sayembara, Dewi Sukesi memasang syarat yang berat untuk siapa saja yang ingin menjadi suaminya. Salah satu dari duanya, adalah menerjemahkan arti wejangan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruati Diyu. Dari sekian banyak raja yang ingin menyunting Dewi Sukesi adalah Raja dari Negeri Lokapala. Raja Lokapala, yaitu Prabu Danareja. Prabu Danareja mengutus atau bahasa modernnya adalah mendelegasikan ayahnya untuk melamar Dewi Sukesi untuknya. Ayahnya adalah Begawan Wisrawa, seorang pertapa sakti mandraguna.

Ketika Begawan Wisawa sampai ketempat sayembara, dan hendak menafsirkan wejangan Sastra Jendra kepada Dewi Sukesi, para Dewa di kayangan tak merestui, dan membuat bumi gonjang ganjing dengan kekuasan oleh dewa. Mengapa demikian?

Tak tahukah kalian, kawan?
Sastra jendra adalah wejangan untuk memahami isi dunia. Konon dalam ceritanya, mahkluk apapun yang mendengarkan wejangan tersebut, baik itu hewan atau manusia akan diangkat derajatnya. Jika ia hewan, maka ia akan jadi setara dengan manusia, dan jika ia manusia, maka ia akan sejajar dengan para dewa. Inti dari wejangan Sastra Jendra sebenarnya adalah cinta. Cinta itu sendiri adalah keindahan. Adapun keindahan adalah keseimbangan bahagia dan derita.

Tapi harus tetap diingat, kawan, wejangan Sastra jendra tidaklah sama dengan konsep Yin dan Yang, ataupun filosofi Kapak Naga Geni 212 punya Wiro Sableng.
Dari kegagalan Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi dalam memahami sastra jendra. Maka lahirlah seorang anak yang melambangkan kegelapan. Yang kemudian kita anggap sebagai raja durjana bagi dunia, yaitu Rahwana.

Dari sisi lain kawan, yang sangat menarik dalam cerita ini adalah kisah cinta Rama dan Dewi Sinta. Dari turur cerita yang ada, baik itu karangan Sri Teddy Rusdy, Sujiwo Tejo, Shindhunata dll. Menganggap pernikahan atau percintaan kedua sejoli itu - Rama dan Dewi Sinta- sebagai pernikahan yang Sakral.

Dewi Sinta dilambangkan sebagai perwakilan dari bumi. Sedangkan Rama sebagai titisan Dewa Wisnu mewakili langit, yang diturunkan ke dunia untuk menjaga harmonisasi semesta. Dari kisah cinta Rama dan Sinta, maka muncullah sang pihak ke-tiga, yaitu Rahwana.

Dewi Sinta. Semua dalang sepakat bahwa dia bukan wanita biasa, karena, kalau wanita biasa sukanya hanya es krim dan coklat, walau lebih suka kepastian. Sinta bagi Rahwana adalah bunga teratai yang berkilau di atas lumpur. Adapun bagi Rama, dia laksana gemercik sungai-sungai jernih di hutan yang sepi.

Meski para dalang mengetahui bahwa Sinta adalah Dewi yang cantik jelita, tetapi mereka tak mampu memahami kecantikannya. Karena, ketika Sinta berjalan, ia seramping seberkas cahaya Ilahi yang memancar dari mata asmara Dewa Surya. Kata-katanya yang merdu, bagaikan suara embun yang malas jatuh dari pucuk-pucuk kembang-kembangan karena tiupan angin. Langkahnya yang gemulai, bagaikan daun-daun bertebangan. Adapun untuk bunga pudak selalu memperelok diri, ketika itu mengiri jika menyaksian batisnya yang putih seakan menyala-nyala seperti bianglalai. Akar-akar bunga mawar dan melati menjadi lemas tak berdaya, dan mengadu iri kepada dewa; "Hey Dewa, bukankah engkau ciptakan keberadaan kami untuk memperindah bumi?, tetapi kenapa Dewi Sinta lebih indah dari pada kami?. Dan lihatlah bunga angsoka yang menempel di tubuh Sinta seakan ingin memilih mati dari pada harus di singkirkan dari buah dadanya yang bundar laksana sepasang mata matahari senja.

Bagi yang memandangnya, keindahan Sinta bukan karena rambutnya yang mengurai keemas-emasan, melainkan karena kesucian yang berterbangan di benaknya. Mata Sinta memang menarik hati, tapi bagi yang memandanya akan lebih tertarik pada terang ilahi yang memancar dari mata itu. Bukan pula pada bibirnya yang merah sesegar buah delima itu yang memperindah Sinta, tapi kata-kata manis yang melambangkan suara ilahi jika ia berkata.


Oh Sinta, engkaulah wanita dambaan hati bagi seorang pujanggawan yang ingin mencari keindahan dunia ini.


EmoticonEmoticon