Monday, April 11, 2016

Derita Ken Dedes: Wanita di Balik Tahta.

Tags

Pagi kala itu. Hyang Surya terus menyingsing ke atas, singkirkan rerintik embun yang menempel di dedaunan pohon dan rerumputan. Tepat di daerah kekuasaan Tunggul Ametung, di Tumapel, seorang gadis terlebur dalam kesunyiaan.

Oh, maaf, dia bukanlah seorang gadis lagi. Dia telah jadi wanita dewasa saat itu. Malamnya Si Tunggul Ametung telah menggaulinya setelah menyelesaikan hari wadad pernikahan selama 40 hari lamanya.

Dalam sedihnya pada kesunyian dari bilik agung Tumapel, dia berlutut menghadapi peraduan. Air matanya memang telah mengering, tetapi dalam hatinya masih terus mengucur tiada henti. Dalam ingatannya, dia tidak akan bisa melupakan pada peristiwa pertama kali sadar dari pingsanya. Tubuhnya dibopong dan diturunkan dari kuda. Dibawanya dia masuk ke ruang besar ini dan digeletakkannya dia di tempat peraduan itu juga.

Di hari itulah dia sadarkan diri, bahwa dia telah diculik oleh sang pengusa Akuwu Tumapel. Seorang Sudra yang di-ksatria-kan oleh paduka Raja Sri Kretajaya Kediri. Dia kecamkan kenyataan yang diterimanya oleh sang pengusa itu lewat kata-kata keluhan.

"Bagaimana seorang Brahmani diculik dan diperlakukan begitu hina? Apakah meraka hendak melupa pada Triwangsa pada tahun 1137 Saka? Ketika Prabu Erlangga naik menjadi Raja Kahuripan (nenek moyong kerjaaan Kediri) dan memaklumatkan Magna Charta ala Jawa lebih luas dari pada maklumat bersejarah Raja Jhon di Inggris."

Di tempat peraduan itu pula, dia teringat pada suatu pokok cerita tentang perkawanin wanita kasta Brahmana dengan seorang pria dari kasta Ksatria. Ayahnya, Mpu Parwa, telah kisahkan cerita padanya akan pelajaran tatatertib Triwangsa. Begini ceritanya:

Kala itu, tahun 1107 Saka. Sri Ratu Srengga dari Kerajaan Kediri telah mangkat -meninggal dunia. Pertentangan dan percekcokan terjadi di istana. Putra mahkota Raden Dandang Gendis (Raja Kretajaya Kediri) telah lama melarikan diri dari istana ke Gunung Willis.

Di sana, sang putra mahkota jatuh cinta pada gadis anak Brahmana Sri Brahmanaraja. Aminasi nama gadis itu. Sri Brahmanaraja sebenarnya telah melarang percintaan itu terjadi. Ia tahu betul keadaan istana raja dari kasta Ksatria. Disuruhnya Dandang Gendis untuk memikirkan kembali akan niat mengawini putrinya. Ia peringatkan jangan sampai cinta dibutakan nafsu. Karena ia sadar, bahwa anaknya hanyalah seorang gadis desa. Jadi tidak pantas untuk duduk di singgahsana sebagai permaysuri, kata Sri Brahmanaraja.

Tetapi, niatan Dandang Gendis telah bulat, dan tidak bisa dibelokkan. Malahan, Dandang Gendis berkata; "Jika sahaya disuruh memilih antara Aminasi dan mahkota, maka sahaya katidakan sekarang, bahwa sahaya lebih memilih Dewi Aminasi dari pada mahkota."

Pernikahanpun berlangsung, dan Dandang Gendis hidup di Gunung Wilis bersama istrinya. Tetapi, 3 tahun berselang, prajurit dari kerajaan kediri menjemput Dandang Gendis untuk menjadi Raja Kediri selanjutnya, karena Sri Ratu Srengga telah mangkat. Di istana, para putri kerajaan tidak menyukai Aminasi. Mereka-pun memasang racun untuk bunuh Aminasi. Aminasi akhirnya meninggal karena racun itu.

Dia bangun dari ketermenungan cerita itu. Dia sadar, kini ia telah lakukan hal yang sama seperti Aminasi, dan di setiap sudut ruang bilik Tumapel ini telah tersedia banyak racun untuk lenyapkan dirinya dari muka bumi.

Dahulu, ketika ayahnya kisahkan cerita itu. Dia hanya menginsyafi ceritanya sebagai sejarah biasa. Sekarang dia telah mengerti akan pesan moral dari cerita itu. Dia sesali kenapa harus mengerti sekarang akan pesan sejarah itu, padahal peringatan tentang perkawinan kasta Brahmana dan Ksatria telah terkandung dalam cerita sejak dahulu.

Dalam kesedihan dan keputus asaanya, dia mohonkan ampun pada ayahnya dengan meyipuhkan lutut kakinya dan jatuhkan kening menyembah kelantai. Dari sipuhan dan sembahan itu, cucuran air mata mengalir kembali, kemudian Ken Dedes berkata;

"Ayah, sekarang sahaya memang kalah menyerah. Tapi suatu hari kelak, sahayalah yang akan keluar sebagai pemenangnya. Akhir kelak nanti, sahayalah yang menang, Ayah. Agunglah Kau puncak Triwangsa, kaum Brahmana. Agunglah, Hyang Mahadewa Syiwa !"

This Is The Oldest Page

1 komentar so far

Karna Di ERTIGAPOKER Sedang ada HOT PROMO loh!
Bonus Deposit Member Baru 10%
Bonus Deposit 5% (klaim 1 kali / hari)
Bonus Referral 15% (berlaku untuk selamanya
Rollingan Mingguan 0.3% (setiap hari Kamis
Rollingan Bulanan 0.1% (setiap tanggal 2)

ERTIGA POKER
ERTIGA
POKER ONLINE INDONESIA
POKER ONLINE TERPERCAYA
BANDAR POKER
BANDAR POKER ONLINE
BANDAR POKER TERBESAR
SITUS POKER ONLINE
POKER ONLINE


EmoticonEmoticon