Saturday, October 15, 2016

Di Negeri Cinta, Akal Digantung

Tags


Malam telah pekat. Warna kehitaman-pun kini menjilati segenap ruang, yang membuat intesitas cahaya berada pada titik ambang. Serta, membuat sekelilingnya menjadi gelap dan menggulita. Pekat! Hitam! Gelap! Gulita! Begitulah suasana di tempat itu. Yang juga, berseolah ingin melambangkan keadaan hatinya yang rapuh tak berjiwa. Begitulah bila kumengira-ngira.

Masih di tempat yang sama. Kembaliku melihat. Dalam pikirku, kini dia menjadi bagian dari epos kemanusian yang menyedihkan dan memilukan. Sangat menyayat hati. Sungguh mengiba bagi yang memandang. Tetapi, kata kawanku yang duduk di samping, anggapanku bisa terbantahkan jika orang dari Negeri Cinta mendengarnya. Mengapa? Aku bertanya.

Dahulu kala, dimana eksistensi waktu tidak berlaku dan akal mulai di kesampingkan, kawanku memulai bercerita, ada suatu Negeri. Konon, dalam penceritaanya, negeri itu indah. Reremputan harum nan hijau tumbuh di sana, sedang bunga-bunga bertebaran dan terbentang teratur dan rapi. Sangat indah, lebih Indah daripada Taman Argosaka dalam dongeng Ramayana.

Negeri indah itu di apit oleh dua alam, lanjutnya bercerita, yakni: Alam Transendental dan alam Imanental. Banyak orang-orang yang kering jiwanya ingin bermigrasi ke Negeri itu untuk mengenal semi. Tetapi, menurut perkononannya lagi, tidaklah sembarang orang yang bisa berkunjung dan sampai ke sana. Tapi, berdoalah supaya kita tak akan sampai benkunjung ke sana, nasehatnya. Mengapa? Tanyaku lagi dan heran.

Jawabnya, karena selain Negeri itu bukanlah tempat sembarang orang, dan tak akan kita temukan di peta manapun. Juga, karena siapapun yang sudah singgah ke Negeri itu susah untuk kembali, dan bahkan, ada yang bilang tidak mungkin akan kembali. Itulah dongengan Nenekku ketika aku kecil. Orang terdahulu, kata Nenekku menyebutnya Negeri Cinta. Negeri yang hanya mengedepankan perasaan hati untuk berkehendak, sedangkan akal dibuang jauh-jauh. Kalau kau tak percaya, lihat kawan kita itu, tunjuknya pada satu arah: Tersenyum, melamun, merenung dan menangis.
******

Masih di suatu tempat yang pekat, hitam, gelap dan gulita. Lihatku lagi, dia kembali tak hiraukan kenyataan. Acuhkan waktu yang terus bergulir dengan biarkan dirinya melamun dan bernostalgia pada dunia antah-berantahnya. Sebenarnya, ingin kudekati dan menasehati. Tetapi, masih ada keraguan dan kebimbangan pada diriku, dalam ketidaktahuanku. Karena dia tidak seperti yang dulu, kala kukenalinya. Begitulah dia sekarang: Pelamun dan perenung, kadang tersenyum dan kadang menangis.

Kucoba memutar waktu pada sebuah ingatan. Kira-kira lima tahun lalu. Tepatnya di sebuah persimpangan jalan setapak, di mana akal dan waktu kelak akan menjadi pembatas dan pemisah kita oleh cita dan cinta.  Di sana, lima tahun yang lalu itu, keriangan dan optimisme masih kudapati dalam dirinya. Meskipun, kala itu dia sudah mulai bercerita tentangnya, yang katanya telah menjerat rasa. Cinta.

Juga, masih sangat terniang dalam ingatku kala itu. Saat kutanyai jeratan apa itu? Aku ingin tahu, ucapku. Dan dengan entengnya dia menjawab: Kawan, terkadang pada pengetahuan, memang ada hal yang bisa engkau ketahui tanpa harus mengalaminya. Tetapi, engkau harus tahu pula, bahwa pengalaman sangat memberikan kesan terhadap rasa daripada pengetahuan itu sendiri. Juga tentang rasa, engkau tak akan bisa dapati itu dari pengatahuan logikamu. Begitulah dia bertutur kala itu, yang juga dilanjutkan dengan satu kesimpulan: Engkau tak mungkin tahu.
******

Kembali lagi di suatu tempat yang pekat, hitam, gelap dan gulita. Melihat dia sendirian dan terombang-ambing dalam Negeri antah-berantahnya itu. Kini kumantapkan niat. Kudekati dirinya. Dengan biarkan keraguan dan kebimbangan mengapung dan mengabur.
Memang menurut pendapat yang ada, yang pernah kubaca, adalah menjadi tabuh jikalau dalam perkawanan kembali memperkenalkan diri. Apalagi sampai mempertanyakan nama kembali. Tetapi, aku tidak pedulikan hal tersebut. Kutetap terus dekatinya. Ketika tepat berada di depannya, kemudian aku berkata:

Aku     : Perkenalkan, namaku Sukob. Bagaimana kabarmu?
Dia       : Engkau tak mungkin tahu.
Aku     : Perkenalkan, namaku Sukob. Kenapa engkau sampai seperti ini?
Dia       : Engkau tak mungkin tahu.
Aku     : Perkenalkan, namaku Sukob. Jerat apa yang membuatmu begini?
Dia       : Engkau tak mungkin tahu.
Aku     : Perkenalkan, namaku Sukob. Siapa namamu?
Dia       : Engkau tak mungkin tahu.

Aku tahu. Di Negeri Cinta, engkau tak lagi hiraukan waktu, dengan biarkan jerat rasamu menggerogoti rindu. Sedangkan di suatu tempat, ada kenyataaan yang siap menjatuhkan kisahmu. Aku tahu. Di Negeri Cinta, engkau telah biarkan harapmu membatu. Sedangkan jam di tanganmu terus saja melaju.  Aku tahu. Di Negeri Cinta, engkau telah bermain-main dengan waktu. Sedangkan di suatu tempat lain, dirinya siap acuhkan jerat cintamu. Aku tak tahu lagi apa yang kutahu, dengan biarkan rasamu, harapmu dan waktumu membatu dan membeku.

Setelah bosan berkata dan bertanya yang tak kunjung mendapatkan jawaban, kubalikkan badan dan meninggalnya. Langkahku terhenti di ambang pintu pagar, sambil merogoh dompet di kantong bagian belakang celana Jins. Dompet berwarna hitam-kecoklatan itu kubuka, dan kemudian terlipat menjadi dua bagian. Di dalamnya, bagian sebelah kiri terdapat satu pasang foto perempuan. Perempuan itu berkulit putih dan sedang berdiri. Badannya miring kesamping, tapi wajahnya mengahadap kamera. Dia lagi tesenyum, amat manis senyumnya, setidaknya bagiku. Berandeng-andeng kecil di bawah pelopok mata bagian kiri, dan berseragam putih abu-abu SMA: Nur Kholisatur Rohmah. Bunga Penutup Abad. Dan kemudian kuberkata: Engkau tak mungkin tahu. Sebab di Negeri Cinta, akal di gantug

******

2 komentar


EmoticonEmoticon