Friday, November 18, 2016

Lembayung Caffe: Antara Sastra, Ayu Utami & Dia

Tags

MENDUNG TELAH MENGGUYUR LANGIT. Matahari yang condong ke barat itu tertutupi oleh awan. Belum pekat dan belum menghitam sebenarnya keadaan langit, hanya berwarna abu-abu. Dari balik kedai Lembayung Caffe, saya mengambil tempat duduk paling tepi. Tidak ada teman, dan memang itu yang saya sengajakan untuk kali ini. Di tempat itu saya kembali membaca novel Ayu Utami, sembari mengorek kembali pemikiran feminisnya.

Mengomentari tulisan Ayu Utami, saya sangat sependapat dengan Sapardi Djoko Damono, yang mengatakan bahwa Ayu Utami memiliki kemampuan berbahasa, kemampuan memilih dan mengolah kata (diksi) yang demikian cemerlang. Pemilihan kata-kata Ayu Utami di setiap novelnya sangat bercahaya seraya kristal, sebagaimana yang dikatakan oleh Ignas Kleden.

Penggunaan bahasa yang canggih itu oleh Ayu Utami dikemas menjadi sebuah gagasan besar untuk merontokkan nilai-nilai moral dalam masyarakatnya. Tapi tidak mengapa, itu sah-sah saja. Karena, pendapat pribadi saya, sastra memiliki dunianya sendiri –berbeda dengan karya ilmiah, sehingga itu bisa menjadi tameng kokoh bagi setiap sastrawan untuk tidak mempertanggungjawabkan karyanya.

Karya sastra adalah ungkapan manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran kehidupan, yang ditulis oleh penilaian subjektif penulis. Oleh sebab itu, karya sastra memiliki ruang tersendiri jika disanding dengan karya Ilmiah.

Meskipun demikian, karya sastra sangat bermanfaat bagi kehidupan. Karya sastra dapat memberi kesadaran kepada pembaca tentang kebenaran-kebenaran hidup, walaupun dilukiskan dalam bentuk fiksi. Sebagaimana contohnya adalah karya sastra dari Ayu Utami dengan pemikiran feminismennya di tengah begitu kuat budaya yang menempatkan posisi laki-laki sebagai otoritas daripada perempuan.

Oleh Rian Hidayat saya disarankan untuk membaca novel Ayu Utami ketika kami sedang asik mendiskusikan sastra. Kami begitu sering terlibat obrolan ringan bertemakan sastra. Sastra sangat menarik bagi kami. Kami memandang sastra sebagai idiom kehidupan di tengah ruang perkaderan organisasi pergerakan yang kami pilih, sastra tidak memiliki ruang yang cukup lebar untuk dimasukkan sebagai bahan diskusi. Hanya Tetrologi Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang biasa mereka diskusikan. Lainnya? Jarang.

"Dalam penulisan sastra, gambaran karakter dari tokoh tergantung sisi subjektifitas penulisnya –karakter penulis. Meskipun penulis sadar akan hal itu, tetapi mereka tidak bisa melepaskan sisi tersebut. Coba kamu baca novel yang pengarangnya perempuan, pasti kamu menemukan unsur feminitas yang kuat dalam tulisannya. Ayu Utami, apalagi dengan pemikirannya yang sangat feminim, saya kira cocok untuk kamu baca sebagai percobaan dan perbandingan. Selain nanti kamu baca karya-karya Dee Lestari." Kata Rian Hidayat kala itu.

Ketika kita membaca novel yang ditulis oleh Ayu Utami, adalah pengupayakan bagaimana kita melihat struktur sosial dengan cara pandangan yang berbeda. Pendobrakan nilai-nilai sangat lantang disuarakan oleh Ayu Utami di setiap tulisannya. Dalam –novel Saman- misalnya, melalui gambaran tokoh bernama Laila, Ayu Utami mencoba membawa kita pada pemahaman bagaimana kentalnya nilai-nilai moral yang dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia:

“Barangkali saya terobsesi padanya, yang bayangannya selalu datang dan jarang pergi. Barangkali saya letih dengan segala yang menghalangi hubungan kami di Indonesia. Capek dengan nilai-nilai yang terkadang seperti terror. Saya ingin pergi dari itu semua, dan membiarkan hal-hal yang kami inginkan terjadi. Mendobrak yang selama ini menyekat dalam hubungan saya dengan sihar.” (Hal. 29)

Pada tulisan lainnya -Parasit Lajang- yang bisa dibilang sebagai cercahan pikiran dan keseharian Ayu Utami yang saat itu tidak mau menikah. Alasan-alasan lengkapnya –tidak mau menikah- tertulis secara gamblang di buku ini. Dalam buku ini, Ayu Utami banyak menyorot ketidakadilan yang merugikan perempuan, khususnya dalam hal perkawinan. Ayu Utami-pun gusar menyaksikan ketidakadilan itu.

Salah satu contohnya, Ayu Utami merasa undang-undang perkawinan di negeri ini sangat patrialkal. Terlalu mengagung-agungkan laki-laki, sehingga pada akhirnya membuat perempuan jadi terlalu bergantung kepada laki-laki. Pandangan seperti ini telah menjadi stigma yang begitu kuat yang ada dikebudayaan kita. Perempuan selalu identik adalah nomor 2 setelah laki-laki.

Dengan kata lain, wanita diposisikan sebagai pihak yang lemah. Perundang-undangan perkawinan dan sistem sosial masyarakat memelihara pelemahan itu. Undang-undang perkawinan dianggap masih kurang sadar jender. Undang-undang ini menerapkan lelaki sebagai kepala keluarga. Akibatnya, istri jadi bayar pajak lebih besar daripada suami, sebab penghasilannya dianggap pendapatan tambahan.                    

Ketika saya sudah tenggelam dalam bacaan sembari seduhan kopi berada tepat di kiri pandang saya, hujan tiba-tiba turun. Begitu cepat, dan beberapa menit setelah membuat dirinya menderas. Bumi telah basah. Saya dengar suara gemercik air di luar: Dingin.

Bagi saya suara gemercik air itu adalah nyanyian bahagia para perindu yang telah menemukan kekasihnya setelah terpisah sangat jauh. Satu butiran hujan yang menetes ke tanah serupa dengan pertemuan sepasang kekasih yang telah terpisah oleh jauh jarak dan lamanya waktu. Serupa dengan pertemuan Adam dan Hawa. Di tengah-tengah hujan itu saya teringat tentangnya.

Sama seperti halnya gemericik air yang turun dan membasahi tanah, yang menyerupai pertemuan sepasang kekasih yang telah terpisah oleh jauhnya jarak dan lamanya waktu, saya juga ingin bertemu dengannya. Hampir 5 tahun lebih saya tidak bertemu dengannya, meskipun dia sendiri bukanlah kekasih saya. Terakhir kabar yang saya dengar dari temannya, dia sudah punya kekasih. Semoga dia sehat dan bahagia selalu, serta naungan rahmat dan hidayah-Nya selalu menyertai dia. Amin 


EmoticonEmoticon