Sunday, November 6, 2016

Kebun Laras, 06 November 2016

Tags

 04 November 2016, di Krapyak, Wedomartani, Ngemplak, Sleman. 
Tempat yang biasa dipakai acara pelatihan HMI itu. Saya diberi mandatkan oleh Ketua Umum HMI Cabang Yogyakarta, M. Adil Muktafa, untuk memberikan sambutan dan sekaligus membuka acara Penataran Korps HMI- Wati (baca: KOHATI). 

Penataran KOHATI adalah wadah pembinaan yang diperuntukkan bagi anggota muda KOHATI sebagai media rekrutmen dan untuk mengenal, memahami, serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap KOHATI.

Kebingungan muncul ketika M. Adil Muktafa secara tiba-tiba memberikan mandat itu. Bingung tentang topik apa yang hendak aku angkat dalam sesi sambutan tersebut.

Adapun untuk statusku yang jomblo bukanah suatu persoalan. Juga terkait nanti ada dugaan permainan politik asmara di penataran KOHATI oleh kawan-kawan di pengurus HMI Cabang Yogyakarta, itu juga lain persoalan. Karena bukan itu yang membuatku bingung. 

Kebingungan itu terus menyertai. Bingung tentang apa yang hendak aku sampaikan pada sesi sambutan di penataran KOHATI? Pertanyaan inilah yang terus mengulang sampai aku berangkat ke tempat penataran KOHATI.

Apakah aku hendak memberikan sambutan seperti yang biasa disampaikan oleh pengurus lainnya. Suatu sambutan sebagaimana tujuan KOHATI adalah terbentuknya kader akhwat menjadi sosok Mar’atussholehah. Maka, menjadi sepatutnya di Penataran kali ini para peserta harus membentuk dirinya sebagai muslimah yang kaffah. Muslimah yang sholehah. Muslimah yang didambakan KOHATI sebagai sosok Mar’atussholehah

Dimana sosok tersebut,  menurut pandangan Islam menempatkan perempuan pada posisi terhormat. Perempuan sebagai Tiang Negara. Yang apabila perempuan itu baik, maka baiklah negara, dan apabila perempuan itu rusak, maka rusak pulalah negara? 

Aku tak mau mengambil topik itu. Topik tersebut terlalu sering disampaikan. Sudah menjadi topik yang terlalu sering dipakai, atau klise.

Pada tengah perjalanan. Ketika motor Matic yang kami –waktu itu aku bersama dengan Fredy- kendarai melalui jalan setapak. Dimana jalan setapak itu memisahkan, dan juga membedakan hingar bingar kota Yogyakarta dengan pelosok perdusunannya. Pada waktu itulah aku teringat pada suatu kisah. Kisah Janji Indah dalam sebuah Novel. 

Pramoedya Anata Toer yang kisahkan Janji Indah itu. Kisah itu ia tuturkan dengan berat hati melalui surat terbuka yang terbingkai dalam Novel berjudul: Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer. Kisah Janji Indah itu bermula pada masa penjajahan setelah Belanda, tahun 1943. 

Janji itu terdengar dengan penuh sayup. Kala itu Hindia-Belanda dalam keadaan yang serba sulit dan demikian sempit. Karena pada tahun tahun sebelumnya dengan menggunakan taktik perang Jerman, Jepang melancarkan perang kilat ke Asia Tenggara. 

Semua negeri jajahan negara Barat tumbang dan jatuh ke tangan balatentara Dai Nippon atau Jepang. Pada waktu itu juga, maret 1942, Jawa jatuh ketangan Jepang. Hindia-Belanda kala itulah telah ditunggai Jepang.

Janji Indah itu terdengar sayup. Mengapa sayup? Karena janji itu tidak terdengar jelas. Seolah janji itu bisa diterpa oleh angin yang begitu pelan. Dan keberadaan janji itu hanya mengada saja. Janji indah itu, Jepang berjanji ingin memberikan kesempatan belajar bagi para kaum perempuan ke Tokyo dan Singapura. Akan tetapi mereka tidak pernah sampai untuk belajar. 

Mereka dibawa ke sebuah tempat. Di tempat tersebut mereka menjadi santapan para tentara yang kelaparan nafsu. Tak pernah ada pendidikan. Tak pernah ada bahagia. Hanya duka, nestapa, derita, dan segala tentang kepedihan. Mereka itu Remaja. Mereka itu perempuan, dan mereka tak berdaya jika harus berhadapan dengan tentara-tentara Jepang. Melawan? Bahkan untuk menangis pun mereka hampir tak berdaya.

Dan kala teringat pada Janji Indah itulah, aku sampaikan –pada sambutan- kisah memilukan tersebut. Memilikukan. Mengingat para perawan remaja yang kala itu dijanjikan akan melanjutkan pendidikan di Jepang, ternyata malah menjadi pelampiasan kebiadaban para tentara Jepang.

Sebagaimana apa yang dikatakan oleh Pram. DENGAN HATI BERAT pula aku sampaikan kisah itu untuk mereka: Memang belum sepatunya kalian diajukan kisah yang mengguncangkan, memilukan, menakutkan, dan menyuramkan. Kalian, para perawan remaja sekarang yang hidup dalam kemerdekaan. Di bawah atap yang aman, dibela dan dilindungi. Mungkin ada diantara kalian ada yang yatim piatu, namun kalian tetap mendapatkan makan sehari-hari dan perlindungan dari marabahaya. Bila orang tua sudah tiada, pasti ada wali yang menggantikan. Bila wali sudah tiada, pasti masyarakat akan memperhatikan kesejahteraan kalian. 

Tentu, bagaimapun baik yang telah kalian peroleh dari kehidupan ini, masih ada saja yang dirasa kurang. Yang berada dalam kekurangan ingin terbebas dari kekurangannya itu, ingin mendapatkan kemakmuran yang melimpah. Yang telah berada dalam kecukupan ingin lebih cukup lagi. Dari perasaan kurang itu, dari keinginan mendapatkan yang lebih itu, timbullah impian. Dan impian itu bisa menjadi padat, menjadi cita-cita. Dan cita-cita itu menjadi pola yang menjadi dasar dan petunjuk dari perbuatan.

Sedang untuk para perawan remaja di masa pendudukan Jepang bila ada perbedaan dengan para perawan remaja sekarang hanyalah syarat hidup. Mereka - perawan remaja di masa pendudukan Jepang- juga inginkan seperti kalian untuk membuka jendela dunia dan melihat kehidupan yang besar. Ingin hidup dalam kemerdekaan. Di bawah atap yang aman, dibela dan dilindungi. Mencitakan kedudukan di masyarakat, yang kemudian semakin giat untuk belajar dan berorganisasi. Ingin memperelok diri sebagaimana kalain impikan punyai suami yang ideal. Hanyalah sarat kehidupan saja yang membedakan kalian -para perawan remaja sekarang- terhadap mereka. 

Dikala itu, mereka yang berada di masa pendudukan Jepang berada dalam kehidupan serba sulit. Hidup mereka menderita tiada habis-habisnya. Mereka kelaparan. Mereka terkena kerja tanam paksa. Mereka menjadi petani yang hak panennya dirampas. Kebebesan dan kemerdekan mereka sebagai perawan remaja juga dirampas oleh Jepang lewat Janji Indah. Begitulah keadaan mereka.Tak bisa nikmati naungun demokrasi kemerdekan, dan jua tak sempat memperelok diri. Sangat menyedihkan dan memilukan. Sedangkan kalian?

Kukisahkan Janji Indah itu terkhusus untuk kalian para KOHATI, dan secara umum untuk kalian para perawan remaja masa sekarang. Bukan melalui dari surat terbuka aku sampaikan kisah ini, melaikan lewat sambutan. Kalian yang berada di bawah naungan kemerdekaan. Serta dibela dan dilindungi oleh hukum maupun adat.

JAYALAH KOHATI. Jadilah Mar’atussholehah. Jadilah Tiang Negara. Dimana baik dan buruknya suatu negara tergantung dari keberadan kalian.


EmoticonEmoticon