Wednesday, February 1, 2017

Mencintai, atau Pernikahan Hanya diukur dari Perbedaan Kelamin

Tags

Adakah Usia Tertentu Untuk Jatuh Cinta? Jawaban dari pertanyaan inilah yang ingin disampaikan oleh Gabrial G. Marques dalam novelnya: Para Pelacurku Yang Sendu.

Dalam novel ini, dikisahkan: Seorang pria lajang berumur 90 tahun, yang ingin menghadiahi hari ulang tahunnya -ke 90 tahun, dengan satu malam percintaan yang liar dengan gadis perawan. Singkat cerita, malah si pria lansia itu jatuh cinta dengan gadis tersebut, dan begitupun si gadis terhadap dirinya.

Setelah membaca novel ini, saya tertarik untuk mengomentarinya, tentang: Adakah Usia Tertentu Untuk Jatuh Cinta?

Bagiku, jawabnya adalah tidak. Jika cinta memang dibatasi oleh usia tertentu, pertanyaan saya simpel, kok: Terus, bagaimana untuk kisah Nabi Muhammad yang mencintai Siti Khatijah, dan menjadikan dia sebagai istrinya? Padahal usia mereka terpaut lebih 15 tahun. Atau, pakai contoh yang lain: Seorang anak mencintai ibunya –dalam kontek keluarga. Toh, itu adalah bentuk cinta juga, hanya pengobjekannya yang berbeda. Tetapi, keduanya sama-sama memakai bentuk cinta.

Atau lain lagi, kita ambil percontohan beberapa belas tahun yang silam. Tahun 2006 lalu. Ketika itu saya masih kecil, masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kelas 6 seingatku. 

Pada waktu itu, ada fenomena heboh di Indonesia dan media ramai memberitakannya. Yakni, kasus pernikahan Syekh Puji dengan gadis berumur 12 tahun. Semua orang berkomentar, katanya, pernikahan mereka itu tabuh dan tidak snonoh. Bagaimana bisa, kata mereka, seorang gadis berumur 12 tahun menjadi istri seorang pria berumur diatas 50 tahun, yang sebenarnya lebih pantas menjadi kakeknya daripada suaminya.

Mendengar pemberitaan heboh itu, semua orang jengkel, dan merasa iba terhadap si gadis. Tetapi, si gadis itu malah menjawab begini: Saya cinta sama suami saya. Toh, pernikahan kita syah secara agama. Apa hanya karena perbedaan usiakah, yang menghalangi kami menjadi sepasang cucu Adam dan Hawa untuk saling mencintai?

Mencoba merenungi perkataan si gadis secara filosofis, saya jadi teringat tentang kisah cinta segita dalam ramon Ramayana: Prabu Rahwana yang mencintai dewi cantik jelita, Sinta. Kemudian, Rahwana menculik Sinta, dan mengurungnya di taman Argasoka. Setiap hari, Rahwana ungkapkan cintanya. Tapi, sang Dewi cantik jelita itu menolaknya terus menurus.

Singkat cerita, sebagaimana sebelumnya, Rahwana kembali menjenguk dan berkata: Oh, Sinta, tak usah kau hunus pisau Jatayu itu. Aku hanya ingin menyentuhmu, tatkala engkau sudah mencintaiku. Sang Dewi menjawab: Rahwana, cepat kembali aku kepada suamiku. Aku tak mungkin mencintaimu, karena aku sudah menjadi kepunyaan lelaki lain. Ramawijaya namanya. Jika tidak, engkau akan dibunuh olehnya, karena telah mencintaiku dan menculikku. Sang Raja Alengka tersebut menjawab simpel: Aku memang telah salah menculikmu. Tapi, aku tak salah mencintamu. Karena cinta tidak pernah salah, Shinta, ia -cinta- hanya selalu dipermasalahkan oleh tatanan sosial.

Mencobamengambil hikmah dari jawaban Rahwana, saya berkeyakinan, bahwa: percintaan dan pernikahan si gadis dengan si pria lansia tersebut tidaklah salah. Mereka hanya dipermasalahkan tatanan sosial atau adat yang disebut kurang lazim. Tatanan sosial atau adatlah yang tidak menerima cinta mereka, tapi  cinta mereka tak pernah salah. Begitun dengan usia, tidak ada usia tertentu yang mengahalangi kisah cinta setiap manusia. Jika ada yang menyalahkan itu adalah tatanan sosial.

Untuk menyingkat waktu, dengan meminjam statemen kawanku, saya ingin membuat kesimpulan, bahwa: Mencintai, atau pernikahan dalam perbedaan usia tidaklah begitu penting, karena, yang paling penting hanyalah perbedaan jenis kelamin. Titik.


EmoticonEmoticon