Thursday, September 7, 2017

Curhatan Mahasiswa Kusam

Tags

Saya putuskan untuk menuliskan cerita ini, karena mendiamkan kelalaian, bagi penulis, adalah bentuk lain kejahatan. Tentu setiap orang, katanya, tidak pernah lepas dari kelalaian. Itu bentuk dari manusiawi, katanya, sih. Tetapi kalau kelalaian itu teramat sering terjadi atau dilakukan, maka setiap dari kita pasti akan mempertanyakan kemanusiawiannya. Se-manusiawi manusia seperti apa, sih, yang sering melakukan kelalaian? 

Kalau kelalaian seperti itu masih dikatakan adalah manusiawi juga, maka tidak ada gunanya surga diciptakan Tuhan kalau manusia tidak bisa melepaskan diri dari namanya kelalaian.

Saking teramat seringnya kelalaian itu terjadi, lama-lama setiap dari kita pasti akan merasa bosan dan muak dengan kalimat permintaan maaf yang mereka sampaikan. Iya, enggak? Lama-lama juga, dari kebosanan dan kemuakan itu, setiap dari kita pada akhirnya melawan dan mempertanyakan, kemudian mengkritiknya.

Kritikan itu wajar, kan? Apalagi bagi pihak tertentu. Tetapi kalau dari mereka tidak mau menerima krtitikan dari mahasiswanya, maka orang-orang seperti itu lebih duduk diam saja di rumah sambil minum susu, jangan kopi. Teramat kasar, kah? Tidak. Bagaimana sebuah institusi bisa memberikan sebuah pelayanan yang baik, kalau menerima kritikan saja tidak mau. Bagaimana institusi tersebut bisa menjadikan peserta didiknya menjadi insan ulil albab, kalau kritikan dari mahasiswanya saja tidak mau ditampung. Bagaimana sebuah institusi mau mengambil bagian dari pengabdian kecerdasan bangsa, kalau mereka saja tidak bisa tahan dengan krtitik.

Penulis sebenarnya tidak ingin mengatakan, seperti halnya Soe Hok Gie, bahwa guru yang tidak tahan dengan kritikan boleh masuk ke keranjang sampah. Tidak. Walaupun guru atau dosen bukanlah dewa, tetapi mereka tetap mempunyai kemulian tersendiri bagi kita. Tetapi, kebenaran itu tetap bukan milik dosen karena mahasiswa tetap bukanlah kerbau. Sama seperti halnya yang pernah disampaikan Aristoleles kepada gurunya -Plato- “Bukannya saya tidak mencintai Plato, tetapi saya lebih mencintai kebenaran.”

Tanpa basa-basi lagi, ayo kita mulai ceritanya.

Sebagai mahasiswa yang sudah masuk ke dalam kategori kusam di kampus, tentu tekanan untuk segera menyelesaikan studi datang membabibu dari berbagai pihak. Akhirnya, dengan mencoba bersemangat 45 seperti hal para pahlawan ketika melawan para penjajah, dua hari tanpa suntuk penulis mendekam di kamar kontraan untuk menyusun proposal Tugas Akhir (Skripsi).

Proposal yang mengangkat tema tentang bla bla bla dan bla itu pun kemudian penulis serahkan terlebih dahulu kepada dosen yang diinginkan penulis menjadi sebagai dosen pembimbing Skripsi. Titik abu-abu yang penuh kekusaman untuk menyelesaikan studi yang penuh liku dan cukup teramat panjang inipun kemudian mendapatkan titik terang, karena tema yang penulis angkat untuk dijakan judul skripsi mendapatkan tanggapan “oke” dari si dosen.

Si dosen itu-pun juga menyampaikan untuk segera menyerahkan proposal tersebut kepada pihak jurusan agar segera dibuatkan Surat Keputusan (SK) pembimbing tugas akhir. Mendapatkan penyampaian seperti itu, tentu membuat penulis teramat senang. Dua hari mendekam di kamar tanpa meminum kopi klothok di kedai Bento Kopi, akhirnya tidak sia-sia penulis tinggalkan.

Namun disinilah permasalahan itupun kemudian muncul. Proposal tugas akhirnya yang penulis serahkan kepada pihak jurusan itu ternyata hingga lebih dari sepuluh hari tidak kunjung jua dibuatkan SK dosen pembimbing tugas akhir. Penulis tanyakan kepada pihak jurusan yang bertugas, katanya belum diproses karena pihak jurusan sedang sibuk. Untuk kedua kalinya-pun ketika penulis tanyakan kepada pihak jurusan tentang SK pembingan tugas akhinya penulis, juga mendapatkan jawaban sama.

Sebelumnya. Sebelum penulis menyerahkan proposal tugas akhir untuk mendapatkan SK dosen pembimbing tugas akhir itu, penulis juga meminta dibuatkan surat permohonan untuk Kerja Praktek di salah satu perusahaan. Surat permohonan untuk Kerja Praktek itupun, follow up-nya juga menuai permasalahan yang sama. Empat kali penulis mendatangi pihak jurusan, terkait apakah surat permohonan tersebut sebenarnya mau dibuatkan atau tidak. Jawaban dari pihak jurusan hanya permohonan maaf. Alasanya-pun juga sama ketika meminta SK dosen pembing, yang katanya pihak jurusan, kepala jurusan sedang sibuk dan sulit untuk ditemui.

Kalau pernyataan pihak jurusan itu memang benar. Entah kesibukan apa yang sedang dikerjakan oleh kepala jurusan, yang hingga lebih dari seminggu tidak bisa mengerjakan pekerjaan administrasi lainnya yang juga menjadi amanahnya sebagai kepala jurusan.

Tentu penulis awalnya berpositive thinking saja dengan kesibukan kepala jurusan itu. Akan tetapi, pada akhirnya ke-positive-thinking-an penulis-pun juga menimpulkan pertanyaan: Apakah tidak bisa menyisihkan waktu kesibukannya sedikit saja hanya untuk bertanda tangan dilembar surat permohonan, atau SK dosen pembimbing tugas akhir yang sampai tulisan ini dibuat belum juga mendapatkan titik terang? Apakah selama lebih dari seminggu itu waktu kerjanya hanya diisi oleh waktu kesibukkan saja? Tidak adakah prioritas lain?

Tentu permasalahan ini, bagi penulis, merupakan bentuk kelalaian. Karena yang merasakan permasalahan ini juga tidak hanya datang dari penulis saja. Tidak sedikit mahasiswa lainnya yang merasakan permasalahan ini, yang mereka sampaikan kepada penulis. Alasannya-pun memiliki kecenderungan yang sama, sibuk.

Entah kesibukan apa sebenarnya yang membuat pihak tertinggi dari pihak jurusan itu hingga mengesampingkan dan melalaikan permasalahan adiministrasi di jurusan. Padahal administrasi ini juga memiliki kedudukan yang sentral dalam manejemen kampus.

Melihat permasalahan seperti, kadang membuat penulis bingung. Bingung karena di lain sisi pihak jurusan selalu menyampaikan agar mahasiswa-mahasiswanya untuk segera dengan cepat menyelesaikan studi. Namun, di lain sisi, ketika keinginan untuk segera menyelesaikan studi itu datang malah menuai hambatan dari pihak yang mengingkan untuk segera menyelasaikan studi tersebut. Entah logika apa yang digunakan oleh pihak jurusan, yang jika dibanding dari statemennya dengan realitasnya menuai kontradiksi.

Kenapa penulis menyebutkan kelalaian merupakan bentuk lain dari kejahatan? Karena, bagi penulis, kelalaian seperti yang dikemukan di atas tersebut telah merampas hak-hak mahasiswa untuk segera dengan cepat menyelesaikan studi, dan juga telah merampas hak mahasiswa untuk mendapatkan pelayanan yang baik dari pihak jurasan.

Bukankah sesuatu yang telah melalaikan dengan mengesampingkan hak-hak mahasiswa itu merupakan kejahatan? Walaupun itu disengaja atau tidak.  Tetapi kalau ada menyebutkan kelalaian ini hanyalah permasalahan teknis dan bukanlah bentuk lain dari kejahatan, lebih baik orang-orang seperti itu duduk diam saja di rumahnya sambil minum susu, jangan minum kopi. Minuman kopi hanya untuk mereka yang mempunyai semangat tinggi untuk berkeja dan mengemban amanah dari kampus. 


EmoticonEmoticon