Thursday, September 28, 2017

Sebuah Surat: Teruntuk Kamu, Far.

Tags


Teruntuk kamu, Far.

Dari balik jendela kamar, senja telah tiba ketika surat ini mulai saya tulis. Keredupan sinar matahari pun pelan-pelan dijemput oleh keremangan malam, serta telah siap pula diganti dengan malam yang pekat. Sedang dalam keadaan temaramnya hati dari dalam kamar, akal memberontak dan bersiteguh pada pendiriannya. Akal tidak mau diminta seirama oleh hati yang ingin mencurahkan perasaan. Saya pun terduduk lesu penuh kegamangan. Seketika itu pula tangan mulai berhenti menuliskan surat ini.

Ketika akal dan hati masih belum bisa dilerai dalam pertikaiannya, tiba-tiba sebuah ilham datang memberikan pencerahan dan berucap lirih: “Kau terpelajar, cobalah bersetia dengan kata hati”. Melalui nasehat ilham inilah, saya mampu memantapkan niat diri untuk melanjutkan surat ini, Far. Tentu untuk bersetia dengan kata hati saya. Begitulah kira-kira bila saya melukiskan situasi ketika hendak menuliskan surat ini kepada kamu.

Kalau kamu ingin tahu, Far. Sebelum mematapkan niat diri itu, sama seperti halnya tokoh utama Zainuddin dalam novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk” yang dikarang oleh Buya Hamka ketika menulis surat pertama kalinya kepada Hayati, gemetar kala jari-jemari tangan ini ketika hendak menenun kata demi kata dari setiap huruf-huruf yang tertera di keybord notebook.

Betapa tidak, Far. Kala jari-jemari ini mulai melakukan tugasnya untuk menenun kata demi kata supaya tersimpul menjadi kalimat yang berisikan curahan hati, akal dengan kewenangannya melarang dan tidak mau berkata mufakat dengan hati. Saya-pun merefleksikan diri, mencari jawaban mengapa akal bersikap demikian. Usut punya usut, ternyata tindakan akal itu berkonklusi dari premis-premis logika sederhana, seperti pelajaran silogisme Matematika ketika SMA kelas 3.

Premis Pertama. Siapa saya yang telah berani menuliskan surat, dan bahkan begitu lancang sampai berkeinginan mengirimkannya pula? Apakah perasaan yang tidak bisa terbendung ini tidak sadar sama sekali kalau, orang yang hendak dikirimkan surat itu merupakan wanita yang sudah punya kekasih dan juga termasuk sanak keluarga pula? Hilang kemana-kah kesadaran itu sehingga tetap berani dan begitu langcang? Meskipun sebagai anak cucu Adam saya masih punya hak mencurahkan perasaan hatinya.

Premis Kedua. Apakah hati tidak ada ketakutan kalau nanti, ketika surat ini telah sampai kepada tangan si wanita, Ia akan berkenan untuk menerima, dibaca, dan kemudian surat ini dianggap sebagai surat pembualan kata-kata tanpa isi? Tidak kah? Kata akal membuat premis yang kedua.

Tetapi, karena niat diri telah dimantapkan, saya mohon bersudilah kamu, Far. Bersudi untuk menerima dan rela meluangkan sedikit saja waktu berhargamu untuk membaca surat ini. Jari-jemari yang tadi berhenti seketika, kini telah kembali meneruskan tugasnya menenun kata demi kata dari curahan hati yang begitu dingin ini.

Jujur, Far, awalnya saya belum tahu secara pasti bagaimana perasaan ini bisa tumbuh dan berkembang biak. Tidak pernah hati ini mengira akan diundang merajut serpihan kasih dari benang-benang asmara yang sebelumnya telah lama kusut. Namun yang pasti, Far, tanpa didasari dari usut punya usut, perasaan saya kepada kamu muncul sejak dari pertemuan ketidak-sengajaan itu. Sejak saat itu kamu telah menyusup menjadi bebayang halus yang menghantui benak saya. Dan pula, sejak saat itu kamu sudah menjadi konsumsi hati saya.

Jadi tidak butuh waktu lama kamu meluluh-lantahkan pertahanan hati ini. Dinding hati yang dulu pernah tersakiti itu kembali terketuk, terbuka dan lantas terjamah pula. Gimana tidak Far, dinding hati yang sedang dalam tahap pemulihan ini kembali tertenun oleh cinta tanpa permisi, tanpa juga salam. Asal masuk saja, Far. Serta-merta langsung melukis kasih dalam sukma, dan merajut benang-benang syahdu. Jangan tanya siapa pelakunya. Memang siapa lagi pelakunya kalau bukan kamu, Far?

Mungkin sedari tadi kamu bertanya-tanyakan, Far? Bertanya memang kapan dan di mana saya pernah bertemu dengan kamu? Iya, mungkin kamu akan bertanya demikian. Saya akan coba menjelaskannya kepada kamu habis ini, Far. Saya bisa berkepastian kalau kamu tidak mengingat pertemuan itu. Atau bahkan, kamu akan berkesimpulan bahwa tidak pernah mengalami pertemuan itu sama sekali.

Kalau kamu beranggapan dan kesimpulannya seperti itu sebenarnya tidaklah salah. Saya bisa memakluminya. Toh, sejak awal saya bilang kalau pertemuan itu merupakan pertemuan dalam ketidak-sengajaan. Ya, saya dipertemukan dengan kamu dalam ketidak-sengajaan. Di mana waktu pertemuaan itu tidak pernah terencanakan sama sekali. Barang mungkin, karena tanpa didasari rencana lah mengapa pertemuan itu saya bilang sebagai pertemuan ketidak-sengajaan. Ya, alasan itu bisa mendeskripsikan tentang pertemuan itu di Desa Tagungguh /Larangan.

Pada pertemuan itu kamu diam, saya pun berlaku sama. Menurut hemat saya, pertemuan ketidak-sengajaan itu dipisahkan oleh jeda dan jarak. Pada waktu itu juga, di desa Tagungguh, ada acara pemilihan Kepala Desa “Klebun”. Kalau kamu ingat, di lokasi pemilihan klebun itu ada pembatas pagar-pagar kecil. Adapun panggung yang didirikan sebagai tempat kedua calon Klebun menghadap ke arah barat. Mengikuti arah hadapan panggung, pagar itu berada agak sedikit menyerong di sebelah utara.

Di antara panggung dan pagar, ada space kosong yang diisi kursi-kursi sederhana berwarna biru. Kamu duduk di kursi itu bersama orang-orang yang tidak lagi asing dalam pengetahuan saya. Sambil bersenda gurau dan tertawa kamu saat itu. Sekitar 3 meter dari belakang kamu, di luar pagar, saya berada sembari melihat aktivitas kamu. Dari sana dan berangkat dari waktu itulah pertama kali saya melihat kamu, Far. Karena itulah kamu mungkin tidak bisa menyadari pertemuan tersebut.

Berselang beberapa saat kemudian, kamu berdiri dan beranjak meninggalkan tempat itu. Entah kamu mau kemana. Saya coba mengikuti kamu dari belakang. Tentu tujuan saya hanya satu, berkenalan dengan kamu. Tetapi apa daya, ternyata tangan tidak sampai. Harapan ternyata tidak bisa menjadi kenyataan. Pada saat itu, ketika saya mulai mengikuti kamu melewati jalan setapak, dari belakang, Ibu memanggil dan meminta saya menemani beliau untuk duduk bareng di kursi biru tempat kamu tadi itu.

Lama kemudian, setelah selesai menemani Ibu, saya mulai mencari-cari kamu ada di mana. Sembari menyurusi setiap tempat, menengok kanan dan kiri di lokasi pemilihan Klebun, ternyata kamu sudah tidak ada di sana lagi.  Entah kamu ada dimana pada saat itu. Mungkin kamu sudah pulang, mungkin. Saat itu saya tidak menemukan kamu ada dimana.

Gagal berkenalan dengan kamu secara langsung, tidak mematahkan keinginan saya untuk mengenal kamu. Akhirnya saya memakai cara lain untuk mencari dan menemukan identitas kamu -Ih, identitas, sok-sok’an seperti detektif saja saya ini. Sebut saja cara lain itu sejenis atau serupa dengan konspirasi hati, Far. Setelah berkongkalikong sana-sini, akhirnya saya bisa mendapatkan identitas kamu dari sepupu saya.

Yang membuat saya sedikit banyak kaget setelah mendapatkan identitas kamu itu, ternyata kamu masih termasuk keluarga saya dari pihak nenek. Sepupu saya yang bilang seperti itu. Benar salahnya saya kurang tahu. Yang jelas, saya tahu dan sedikit kenal dengan Ibu kamu sejak saya kecil. Jadi saya bisa percaya. Apalagi ketika nenek saya meninggal dunia, Ibu kamu datang ke rumah dan saya sedikit banyak berbicara dengan beliau. Parah sekali saya ini hingga tidak tahu kalau kamu adalah anak dari Bhi’ ****. Padahal kita adalah keluarga yang tidak begitu jauh.

Melalui kongkalikong sana-sini pula, akhirnya saya bisa mendapatkan nomor HP kamu. Bukan dari sepupu, melainkan dari saudara saya. Ketika mendapatkan nomor HP kamu, saya sudah kembali lagi ke Jogja. Sebelumnya, saudara saya jelas kaget ketika saya menelpon, dan meminta dia mencarikan nomor HP kamu. Gimana tidak Far, di rumah, saya adalah laki-laki yang jarang sekali melakukan komunikasi dengan wanita. Pemalu dan tidak bisa percaya diri di depan wanita lah alasannya, Far.

Ketidak-percayaan diri atau minder ini sudah sejak lama idap. Sejak beranjak dewasa ketika mondok di Jombang dan hingga kuliah di Jogja pun ketidak-percayaan diri pada wanita masih berlaku. Entah apa alasannya, saya pun terkadang bingung. Mungkin sudah jadi bawaan sejak kecil ketidak-percayaan diri ini, mungkin. Kalau pun melakukan komunikasi dengan wanita, itu hanya urusan sekolah, kuliah dan organisasi saja. Jarang yang lainnya.

Sebab itu, ketika waktu itu saya mengirim pesan ke kamu, saya pernah meminta kamu untuk jangan bilang siapa-siapa. Saya malu, apalagi kalau nanti terdengar sama keluarga. Dan dari ketidak-percayaan diri ini pula mengakibatkan saya lebih sering mencurahkan perasaan terhadap tulisan. Entah itu dalam buku catatan harian dan di website pribadi saya. Atapun seperti sekarang ini, melalui bentuk surat.

Lagi-lagi Far, mendengar kabar kalau saya meminta nomor HP kamu, saudara saya yang lain  pun langsung menelpon juga. Dia tanya kenapa saya meminta nomor HP kamu. Saya jawab seadanya saja. Toh, enggak ada salahnya kan kalau saya meminta nomor HP kamu, Far? Mudah-mudahan, iya. Toh, selain masih keluarga, saya juga pernah dengar pepatah bijak kalau: “Perasaan yang terlalu dipendam, tidak diluapkan dan dicurahkan, akan membendung siksa” Bukan kah begitu, Far? Semoga kamu setuju.

Setelah mendapatkan nomor HP kamu, saya langsung mengirim pesan singkat. Butuh berapa lama mungkin kamu bisa menyadari adanya pesan masuk di HP kamu itu dari siapa. Hingga ketika saya coba telpon pun tidak ada jawaban. Akhirnya, berselang beberapa hari kemudian pesan itu juga menerima balasan, dan bahkan kamu sempat menelpon balik. Terimakasih, Far. Terimakasih telah membalas pesan itu dan mencoba menelpon balik pula. Untuk selanjutnya, kamu mungkin sudah tahu bagaimana ceritanya dan ending dari saling mengirim pesan singkat itu, kan?

Iya, benar. Pada saat saya menerima balasan dari pesan yang saya kirim selanjutnya: “Apakah kamu sudah bertunangan?” dengan jawaban: “Belum, tetapi sudah punya pacar.”, saya langsung diam dan mengerti kalau: Saya sudah kalah sejak awal sebelum berjuang. Ditambah lagi ketika saya menghubungi kamu lewat pesan di Facebook. Saat bertanya tentang kamu secara dalam. Melalui pesan di FB itu saya sedikit tahu kalau, kamu tidak senang ditanya tentang urusan pribadi. Maaf. Maaf, atas kelancangan saya waktu itu, Far. Tapi, begitulah perasaan yang saya rasakan kala membaca balasan itu: Kalah sejak awal sebelum berjuang.

Far, bersamaan dengan surat ini, maafkan saya yang telah lancang memendam perasaan terlalu dalam ini kepada kamu. Jujur, Far, saya tidak dapat menekan perasaan ini dalam batas ambang yang pernah saya buat dalam aturan logika sederhana. Sejujurnya lagi, Far, saya ingin sekali menjadi laki-laki sebagaimana khususnya laki-laki yang didambakan oleh wanita, terkhusus oleh kamu.

Tetapi disitulah sebenarnya permasalahannya, Far. Karena sebagai laki-laki, saya tidak pernah bisa menangkap ihwal perasaan wanita secara bahasa khusus dan tidak peka pula. Tentu Ini akibat dari tidak pernah bisa percaya diri dan selalu minder di depan wanita. Tetapi, saya akan berjanji kepada saya sendiri, baik itu hari hari ini, esok, ataupun di suatu hari kelak nanti, jika kamu memberikan satu kesempatan ataupun tidak kepada saya, di hadapan kamu, saya akan berdiri sebagai laki-laki secara utuh. Laki-laki yang siap mental menerima segala kekurangan dari keputusan wanita yang dicintanya. Salah satu awalannya melalui surat ini, Far.

Saya akan berjanji juga kepada kamu. Yaitu, menjadi laki-laki yang benar-benar bisa menebak dan menembak hati wanita dengan tepat sasaran. Laki-laki yang bisa diharapkan dan bisa mempertanggung-jawabakan kenapa dia telah berani mencintai wanita secara jantan. Laki-laki yang tidak pernah menganggap bahwa, wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok dan harus pula diluruskan. Laki-laki yang mengerti posisi wanita sebagai bumi dalam aturan kosmologi. Laki-laki yang juga bisa berpegang teguh terhadap kesejatian cinta, baik itu diterima maupaun ditolak. Ataupun, menjadi laki-laki yang datang dan menjenguk kamu dalam suatu kunjungan yang telanjang untuk membuktikan cintanya.

Sekian dulu surat ini saya tuliskan untuk kamu, Far. Sebenarnya masih teramat banyak yang hendak saya curahkan dalam surat ini. Tetapi saya takut kalau nanti, kamu merasa bosan membaca surat yang teramat panjang. Sekali lagi saya meminta maaf bila begitu lancang dan begitu berani menuliskan curahan hati ini kepada kamu. Saya harap kamu bisa memaklumi.

Apabila kamu ada kesempatan waktu yang luang dan juga berkenan, Far. Saya akan teramat senang sekali jika kamu menengok surat ini dalam suatu kunjungan balasan surat pula. Melalui pesan singkat ke nomor HP pun tidak apa. Masih menyimpan nomor HP saya, kan? Tidak mengirim kan balasan pun juga tidak apa kok. Saya tahu aturan orang yang punya kekasih dan hak privasi seorang wanita.

Sekali lagi, teruntuk kamu, Far. Beginilah tulisan dari curahan hati yang hendak saya sampaikan kepada kamu, yang berada tengah kegamangan ketika hati bersitengang dengan kehendak akal. Sekian. Salam hormat dan terimakasih saya karena telah menyisihkan waktu berhargamu dengan menerima surat ini. Terimakasih karena telah pula membaca surat dari laki-laki yang mencintaimu.

Ditulis dari Yogyakarta: Rabu, 31 Mei 2017.


EmoticonEmoticon