Friday, November 3, 2017

Part I: Dibalut Senja, Dia bernama Laila

Tags

Pernah aku membaca dalam salah satu novel; lalu kenangan..., semua akan tersimpan rapi dalam ingatan.
-------------
Setiap dari kita pasti punya kesan terhadap pengalaman yang pernah kita lalui. Kesan itu menggumpal dan kemudian berevolusi menjadi satu bagian yang melayang-layang berupa bebayang dalam benak kita. Kita biasa menyebut bebayang yang melayang-layang itu sebagai kenangan. Bersamaan dengan berlalunya waktu, kenangan membuat kita beranggapan bahwa pengalaman yang pernah kita lalui seakan baru terjadi kemarin lalu. Yang juga berseolah, pikir kita, waktu begitu teramat singkat mengikis lembar demi lembar pengalaman setelah kenangan membalut-nya.
Kenangan memang aneh dan begitu menjengkelkan, mengingat ia hanya hadir ketika kesemuanya sudah harus berlalu. Tapi, begitulah takdir kenangan. Kita tidak bisa lari dari garis takdir itu, apalagi sampai hendak mengubahnya. Hanya bisa dioboti, kata pepatah bijak bilang. Terlepas dari itu, kenangan teramat adil. Sangat teramat adil. Baik yang kaya maupun yang miskin, yang baik maupun yang jahat, yang pintar maupun yang bodoh, bahkan yang tampan/cantik maupun yang buruk rupa, kesemuanya, oleh kenangan, akan dikenangi kenangan yang setimpal terhadap kesan dari pengalaman masing-masing. Seperti kenanganku tentang dia.
-------------
Seperti biasa, dalam kenangku, dia datang menghampiriku dengan pakaian serba putih. Langkah kaki kecilnya yang begitu pelan terlihat gontai dan penuh gemulai, seraya langkah para bidadari ketika memangkas jarak di negeri Kayangan. Rambut hitamnya yang panjang diikat rapi ke belakang. Wajahnya yang sangat halus tampak cergas memainkan kaidah kecantikan. Matanya begitu hitam nan pekat dengan tatapan jernih dan bening, tapi tegas. Aku selalu terkesima dengan mata itu. Di bawah pelopok matanya sebelah kiri ada satu titik hitam. Kotoran dari lalat itu bukan malah membuatnya tidak punya estetik, tapi membuat siapa saja yang memandang akan terpesona. Benar-benar tidak ada cela di setiap bagian tubuhnya. Jika Hayati ditempat sebagai “Permataku Yang Hilang” oleh Zainuddin dan Annelies Mallema digambarkan sebagai “Bunga Penutup Abad” oleh Minke, maka dia adalah Alegori Kehdupanku.
Ketika dia menatap dengan penuh sayu, terlukislah sebuah senyum tersamar namun tampak pasti dari tarikan bibir ke samping sepanjang dua senti. Senyum itu mengingatkanku pada titik kecil dari seberkas sinar yang hanya dapat aku temukan di sebuah petak ruang kecil tersembunyi di dalam diriku sendiri. Sebuah senyum yang kesempurnaanya tidak dapat aku jelaskan dengan pasti namun selalu memberikan makna dari alegori di kehidupanku. Alegori yang mana aku tidak lagi bisa membedakan mana yang nyata dan yang fana, hanya cinta.
-------------
Kala itu senja menggantung di ufuk barat. Sembari membiarkan dirinya bersiap-siap lenyap oleh waktu, perlahan namun pasti, senja berubah menjadi keremangan gelap malam begitu menyedihkan. Bau deburan ombak dan desiran angin dari pantai menyelinap tanpa permisi menusuk ke bagian tubuhku hingga ke sumsum tulang. Kenangan itu masih tersimpan rapi seperti permintaanya. Kalimat-kalimat yang diucapkannya pun masih teramat jelas jika disebut sebagai kenangan di masa lalu, seolah-olah, dalam perasaanku, dia baru saja mengatakannya.
“Bisakah kau tetap mencintaiku?” Dia bertanya sembari menopang dagu dengan telapak tangan kanannya.
Aku tidak pernah tahu mengapa dia berkata seperti itu. Ada rasa kaget sebenarnya. Dia pun sangat tahu kalau aku tidak pernah percaya dengan kata tetap atau abadi selama manusia masih terikat oleh waktu. Aku teramat benci terhadap waktu. Waktu membuat apa yang kita miliki jadi fana, begitulah alasanku membenci waktu. Selama waktu masih meng-ikat kita, satu ketika kataku padanya, jangan pernah berharap apa yang kita rasakan atau apa yang kita miliki akan abadi. Keindahaan, kasih sayang, cinta, dan maupun lainnya yang diharapkan kita sebagai perwujudahan kebahagian hanya akan berakhir sia-sia, serta membuat kita kecewa. Waktu membuat kesemuanya jadi fana.
“Bisakah kau tetap mencintaiku?” Ulangnya bertanya.
Aku masih diam belum menjawab, sembari memilih kata-kata yang tepat agar tidak merasa kecewa ketika mendengar apa yang akan menjadi jawabanku. Sebenarnya jawaban dari pertanyaan itu sangat mudah; tinggal bilang Ya atau Tidak. Tapi, entah kenapa aku begitu susah untuk memilih tenunan kata-kata sebagai penjelasan. Sebelum menjawab kulihat dia sepintas, dan sebaris senyum itu masih tetap terulas indah di wajahnya. Seolah-olah, dalam pikirku, senyum itu dipertahankan agar mendapakan jawaban seperti yang dia harapkan. Belum tahu, jawabku.
“Seperti halnya alasan kenapa aku bisa mencintamu yang sampai saat ini masih belum aku ketahui jawabannya, aku kira pertanyaan tadi sama begitu susahnya aku jawab. Tapi bukan berarti aku membiarkan per-tanyaan itu dengan jawaban menggantung, tidak. Aku memang tidak tahu jawabannya. Maaf,” kataku meneruskan.
“Ya, seperti dugaanku, kau akan menjawab seperti itu. Tidak perlu merasa terbebani dengan pertanyaan tadi, jadi tidak perlu minta maaf. Tapi mendengar jawabanmu yang penuh pertimbangan, ini pertama kalinya aku melihat. Sebelumnya? Tidak. Dan dari sini aku punya satu kenyakinan pada suatu saat kau akan menemukan jawabannya. Entah itu melalui aku atau orang lain, aku tidak tahu. Tapi ini hanya firasat saja, jadi tidak perlu dipertanyakan.”
-------------
Kini sudah sepuluh tahun kenangan itu berlalu. Bila aku mengenang percapakan kala itu, aku merasa sedih. Tentu tindakan sedih adalah tinda-kan sia-sia belaka, aku sangat tahu. Waktu pun tidak akan kembali terulang dengan tindakanku -merasa sedih, tapi demikianlah perasaan itu muncul seketika saat mengenangnya. Apa yang jadi firasatnya kalau aku akan menemukan jawaban itu memang benar, tapi setelah bertahun-tahun percakapan itu sudah berlalu. Dan menambah kesedihan lagi adalah saat aku mengenang permintaannya.
“Aku harap sampai kapanpun kau tidak melupakan aku. Kenanglah aku. Walaupun waktu akan mengikis kebersamaan kita menjadi puing masa lalu, aku harap di bagian petak ingatanmu bisa menyimpan rapi kenangan kita,” katanya.
Bagaimana tidak membuat bertambah merasa sedih. Dia yang pernah bertanya bisakah aku tetap mencintanya dan bahkan meminta untuk mengenangnya, ternyata tidak sedikitpun mencintaiku. Terus kenapa dia bertanya dan meminta seperti itu?
-------------
Sebenarnya, tidak seperti remaja yang berpacaran pada umumnya, kami tidak pernah tahu kapan kami secara resmi menjadi sepasang kekasih. Aku memang tidak pernah menyatakan cinta padanya, dan dia tidak pernah bertanya sejak kapan kami menjadi sepasang kekasih. Jadi tidak ada persoalan bagi kami untuk mempermasalahkan sejak kapan hubungan itu bermula. Pernah satu ketika ada orang yang bertanya sejak kapan kami jadian, aku menjawab tidak tahu. Aneh, mesti itu jawaban yang mereka keluarkan ketika mendengar penjelasanku. Tapi aku memang tidak tahu sejak kapan, dan di mana tempat kejadian itu bermula.
Pertama kali bertemu dengannya, usiaku mau memasuki 14 tahun. Kala itu aku berdiam diri di sebuah gubuk yang aku bangun sendiri di atas pohon mangga di belakang rumah. Di tempat ini pula kami sering meng-habiskan waktu bersama. Banyak yang kami obrolkan, mulai dari urusan sekolah, apa yang kami suka dan benci, cita-cita yang kami impikan, dan bahkan sampai pada karya sastra.
Kira-kira waktu itu, pertemuan pertama kami, berada pada kisaran pukul 15.30 dan 16.00. Aku memperkiran kira-kira itu karena senja yang biasa menggantung di ufuk barat sana belum tampak.
Jauh sebelum aku sadar ada seseorang di bawah dan berkata apakah boleh naik atau tidak, aku masih tenggelam dalam bacaan buku. Buku itu berisi kumpulan cerita pendek yang tebalnya sangat minta ampun, berwarna orange. Aku memperkiran ketebalan buku itu lebih tebal daripada kitab-kitab suci kaum beragama. Tebal sekali. Aku sampai pada bacaan di halaman sekian dengan judul “Sepotong Senja Untuk Pacarku.” Tapi sebelum benar-benar tahu alasan mengapa Sukab, tokoh utama cerita ini, mengirimkan sepotong senja dalam sebuah amplop kepada pacarnya, aku terkaget karena seorang anak gadis tiba-tiba muncul seketika dan berkata.
“Hei, apakah buku bisa membuat kita berpaling dari kenyataan? Kok, dari tadi aku berteriak-teriak dari bawah tidak kau dengar. Seolah-seolah kau ada di dunia antah-berantah yang terpisah dari dunia ini,” dia menyerocoskan kata-kata.
“Oh, ya?” Hanya kalimat itu yang bisa aku katakan sebagai jawaban untuk melepas kekagetan.
Dia masih menatapku, matanya jernih dan bening. Lantas kemudian dia berkata apakah diperbolehkan duduk di gubuk juga. Itu pun kalau tidak mengganggumu, katanya meneruskan. Ya, jawabku mempersilahkan. Dia tersenyum, mungkin sebagai penanda ucapan terimakasih. Aku lihat dia secara seksama, tapi garis-garis wajahnya tidak muncul sebagai orang yang aku kenal. Jadi aku yakin tidak pernah mengenal atau setidaknya pernah bertemu dengan gadis ini sebelumnya. Tapi sebelum aku bertanya siapa dirinya, dia sudah menyerocos lagi.
“Hei, bukankah buku itu ditulis Seno Gumira Ajidarma? Buku yang menarik. Aku pernah membacanya, imajinasi penulisnya kuat dan hebat. Membaca buku itu pasti membuat kita masuk dalam dunia antah berantah yang dibuat oleh penulis, jadi tidak heran ketika kau tadi merasa demikian. Kadang memang begitu absurd kalau kita berpikir secara logis, tapi aku kira kebasurdannya itu yang menjadi keunikan dan kemenarikan dari penulis di setiap tulisannya. Bukankah begitu?”
“Oh, ya? Mungkin,” kataku seadanya.
“Hei, jawabanmu begitu aneh, seolah-olah ..... hmmm. Oh, ataukah aku di sini benar-benar tidak mengganggumu?”
“Tidak,” kataku. “Jikapun merasa terganggu sejak daritadi aku akan turun. Atau paling tidak aku telah mengusirmu.”
“Jawaban yang begitu logis, walaupun....hmmm,” katanya sembari memikirkan sesuatu. “Masih memiliki sisi aneh.”
“Hei, coba lihat itu,” tunjuknya pada satu arah di mana senja menggantung di ufuk barat sana. “Sama seperti yang dikatakan Seno, itu adalah senja paling keemas-emas. Tahukah bahwa dulu, kata Seno, ada pemuda gila yang pernah mencuri senja –lengkap dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Oleh pemuda gila itu senja ia potong dengan menyekatnya menjadi empat sisi menggunakan pisau Swiss, dan kemudian mengirim potongan senja kepada pacarnya. Tahukah kau apa alasannya?”
Aku menggelengkan.
Dia kembali menatapku, sepintas kemudian kembali memandang ke depan. “Pemuda gila itu ingin memberikan sesuatu kepada pacarnya lebih dari sekadar kata-kata. Kata pemuda itu, kata-kata saat ini sudah meluber dan tidak lagi punya makna. Oleh sebab itu ia memberikan sepotong senja kepada pacarnya. Kalau tidak salah, Alina nama pacarnya,” jelasnya dia menerangkan. “Sebuah kisah yang romantis. Bukankah begitu?” Tanyanya kemudian.
“Ya, mungkin,” jawabku pendek.
Dalam pikirku, entah alasan apa yang ada dalam benaknya tentang senja. Apakah dia tidak tahu bahwa senja adalah pembatas antara siang dan malam. Pembatas yang mana menyebabkan dua entitas itu, siang dan malam, tidak pernah bisa bersatu. Hadirnya senja merupakan penanda berakhirnya cerita dari siang kepada malam supaya tidak perlu lagi menunggu untuk bisa berjumpa. Eksistensi senja juga melambangkan bahwa kehadirannya adalah bentuk kemirisan dari keindahan. Bahkan senja yang paling keemas-emasan sekalipun hanya akan berakhir oleh malam begitu gelap, sangat menyedihkan, dan fana.
“Ya, mungkin?” Dia mengulang perkataanku. “Jawaban yang masih pendek. Tentu masih aneh. Tapi tidak apa,” katanya. “Oh, ya, namaku Laila. Kamu?” Sambil mengulurkan tangan.
Dan di tempat ini pula, bersama bau deburan ombak dan desiran angin dari pantai yang dibalutan senja, 4 tahun kemudian, dia pernah bertanya bisakah aku tetap mencintanya dan memintaku untuk mengenangnya.

4 komentar

bagus banget artikel nya gan, update terus ya gan.. coba kunjungin juga ya gan artikel saya di:
- https://goo.gl/f9L69M
- https://goo.gl/wc1Ky4

Terimakasih. Siap, saling mengunjungi.

keren gan..oh Laila..ehehehe
salam kenal dari gomugomuku.blogspot.com

Terimakasih pujiannya, Gan. Hehe
Salam kenal balik.


EmoticonEmoticon