Sunday, April 22, 2018

Le coup de foudre

Tags


Katakanlah apa yang kita cari adalah kebahagian. Kebahagian sendiri, meskipun terdengar sangat klise disampaikan, diselimuti oleh cinta. Benarkah memang begitu adanya? Entahlah. Dalam penggalan lirik Dewa 19: Cukup Siti Nurbaya, satu nada menyabdakan bahwa “hanya cinta yang sanggup sejukkan dunia”. Aishh, cinta.... Lagi-lagi cinta. Terkadang aku memikirkannya juga. Terlebih cinta yang tumbuh pada pandangan pertama.

Le coup de foudre” bangsa Prancis mengkalimat istilah “cinta pada pandangan pertama”. Secara harfiah istilah tersebut bermakna halilintar atau petir. Tapi jika kedua pasang mata bertemu saling bertabrakan hingga membuat detak jantung berhenti seketika, “le coup de foudre” berurusan dengan emosi yang bisa menghilangkan keseimbangan jagat. Logika kita lumpah. Segenap rasionalitas akal yang biasa menghubungkan premis mayor dan minor tidak lagi menemukan kesesuaiannya dalam membentuk konklusi. Sesat pikir.

Bagimanapun juga cinta pada pandangan pertama adalah cinta yang menggelora. Bagaima tidak. Cinta pandangan pertama itu tentang keinginan untuk menelusuri suatu hal baru dan begitu asing, seperti sebuah peta yang haus dijelajah. Aku baru menyadari itu belakangan. Ketika mata itu menabrak pandangku, tiba-tiba saja aku merasakan ketidak-seimbangan. Akal mulai dikesampingkan. Hanya hati yang berkendak. Aku juga merasakan bahasaku telah tertinggal pada pertemuan itu. Benar-benar terseret dalam satu nuansa.

Jika nuansa “le coup de foudre” ini diilustrasikan dalam sebuah miniatur lukisan seperti karya empu-empu Timur Tengah, aku tidak yakin apakah mereka, para empu itu, bisa menggambarkan perasaanku yang terseret, seolah menyelusup memasuki sebuah dunia dalam senjakala, di mana alam semesta terasa tertelan oleh ketidak-seimbangan seberkas cahaya kuning, dan serta seonggok hati yang mulai mau meloncat menyapa cinta itu, dalam sapuan warna-wanri yang tepat dan pas.


EmoticonEmoticon