Tuesday, May 1, 2018

Waktu, Kenanglah Aku

Tags

Ada rasa yang selalu ingin meloncat tak tahu diri tiap kali aku mengenangmu. tatapan matamu yang tajam tapi masih mengerlingkan sisa kepolosan dari masa kanak-kanakmu, selalu membuatku terjebak dalam segenap angan yang kubayangkan di masa lalu. dapatkah kau merasakannya? kekakuanku yang tak dapat dijelaskan, dan keragu-raguanku menatap matamu secara langsung saat berada di dekatmu.

Kumohon katakan padaku: apakah jatuh cinta membuat orang jadi bodoh, ataukah hanya orang bodoh yang dapat jatuh cinta? bisakah kau menjelaskan padaku? aku tahu bodoh dan pintar memiliki makna perbedaan yang tegas. tapi, dalam cinta –ini yang kurasakan, telah membuat keduanya jadi semu, seperti kepingan salju yang hilang ditelan waktu dan malam.

Entah aku harus memulai ini dari mana. penyesalan yang kian lama kian menggerogoti hati, dan serta ketakutakan yang kini telah menyelimuti berbagai impian yang kususun rapi seperti puzzle, yang hanya terisi bayangmu, seketika mulai berhamburan bagai pecahan logam. jatuh berkeping-keping tak beraturan. maafkan aku yang terlambat menyadari.

Ini mungkin hanya permainan kiasan yang terbilang hiperbolik: tapi, tiba-tiba malam saja melabrakku dalam kenangan. seiisi ruang kamar seketika mengundang gelap seperti dihujani tinta hitam, tanpa gerutu dan tanpa siasat. itulah saat di mana aku mulai mengenangmu kembali, melalui celah yang begitu sempit di ingatan, dan lantas melemparkan ku pada masa lalu.

Kala itu senja masih menggantung di ufuk barat. sembari membiarkan dirinya bersiap-siap lenyap oleh waktu, perlahan namun pasti, senja berubah menjadi keremangan gelap malam yang begitu menyedihkan. bau deburan ombak dan desiran angin dari pantai, menyelinap tanpa permisi menusuk ke bagian tubuhku hingga ke sumsum tulang. kenangan itu masih tersimpan rapi seperti permintaanya. kalimat-kalimat yang diucapkannya pun masih teramat jelas dan tegas bila disebut sebagai kenangan masa lalu, seolah-olah, dalam perasaanku, dia baru saja mengatakannya.

“Bisakah kau tetap mencintaiku?” dia bertanya sembari menopang dagu dengan telapak tangan kanannya.

Aku tidak pernah tahu mengapa dia berkata seperti itu. ada rasa kaget sebenarnya. dia pun sangat tahu kalau aku tidak pernah percaya dengan kata ‘tetap’ atau ‘abadi’ selama manusia masih terikat waktu. jujur bila kukatakan, aku teramat benci terhadap waktu. waktu membuat apa yang kita miliki jadi fana. selama waktu masih mengikat kita, satu waktu kataku padanya, jangan pernah berharap apa yang kita rasakan atau apa yang kita miliki akan abadi. keindahaan, kasih sayang, cinta, dan maupun lainnya yang diharapkan kita sebagai perwujudahan kebahagian hanya akan berakhir sia-sia, serta membuat kita kecewa. waktu membuat kesemuanya jadi fana.

“Bisakah kau tetap mencintaiku?” ulangnya bertanya.

Aku masih diam belum menjawab, tapi sembari mengolah kata-kata yang tepat agar tidak kecewa mendengar apa yang jadi jawabanku. sebenarnya jawaban dari pertanyaan itu sangat mudah; tinggal bilang ‘ya’ atau ‘tidak’. tapi, entah kenapa aku begitu susah memilih tenunan kata sebagai kalimat penjelasan. sebelum menjawab kulihat dia sepintas, dan sebaris senyum itu masih tetap terulas indah di wajahnya, seolah-olah, dalam pikirku, senyum itu dipertahankan supaya diberi jawaban seperti yang dia harapkan. belum tahu, jawabku.

“Seperti halnya alasan kenapa aku bisa mencintamu yang sampai saat ini masih belum kuketahui jawabannya, kukira pertanyaan tadi sama begitu susahnya kujawab. tapi, bukan berarti aku membiarkan pertanyaan itu menggantung, tidak. aku memang tidak tahu jawabannya. maaf,” kataku meneruskan.
“Ya, seperti dugaanku, kau akan menjawab seperti itu. tidak perlu merasa terbebani dengan pertanyaan tadi, jadi tidak perlu minta maaf. tapi mendengar jawabanmu yang penuh pertimbangan, ini baru pertama kalinya. sebelumnya? tidak. dan dari sini aku punya satu kenyakinan pada suatu waktu kau akan menemukan jawabannya. entah itu melalui aku atau orang lain, aku tidak tahu. tapi ini hanya firasat saja, jadi tidak perlu dipertanyakan.”

Kini sudah sepuluh tahun kenangan itu berlalu. Bila aku mengenang percapakan kala itu, aku merasa sedih. Tentu tindakan sedih adalah tindakan sia-sia belaka, aku sangat tahu. dan waktu pun tidak akan kembali terulang dengan merasa sedih, tapi demikianlah perasaan itu muncul saat mengenangnya. dan apa yang jadi firasatnya kalau kelak nanti aku akan menemukan jawaban itu, memang benar, tapi setelah bertahun-tahun percakapan itu telah berlalu. menambah kesedihan yang begitu nelangsa lagi, adalah saat aku mengenang permintaannya.

“Aku harap sampai kapanpun kau tidak melupakan aku. kenanglah aku. walaupun waktu akan mengikis kebersamaan kita menjadi puing masa lalu, kuharap di bagian petak ruang ingatanmu masih bisa menyimpan rapi kenangan kita,” katanya.

Bagaimana tidak membuat bertambah merasa sedih dan nelangsa: dia yang pernah bertanya bisakah aku tetap mencintanya dan memintaku mengenangnya, ternyata tidak sedikitpun mencintaiku. “terus, kenapa dia bertanya dan meminta demikian?” kukenang pertanyaan dan pernyataan itu. seketika itulah tangisku pun pecah, aku baru menyadari: cinta memang tak terikat waktu dan tak pernah tepat waktu. dan kuambil undangan pernikahan esok hari yang menerangkan namanya. maafkan aku yang terlambat menyadari cinta.


EmoticonEmoticon