Aku dan Ilusi yang Menepi
Aku bertemu seorang gadis cantik tadi malam di kedai kopi. Sebuah tempat yang paling masuk akal bagi manusia gagal untuk berpura-pura baik-baik saja sambil menyesap Americano pahit, ditemani musik Hindi yang diputar terlalu pelan untuk disebut hiburan. Aku datang dengan tubuh lelah dan kepala yang penuh reruntuhan pikiran. Hari itu terlalu panjang untuk disebut hari biasa, tapi terlalu hampa untuk dikenang. Aku duduk di sudut dekat jendela, memandangi jalanan yang basah oleh sisa hujan sembari mencoba berdamai dengan fakta pahit: bahwa usia terus bergerak maju, sementara hidup masih saja tertatih di koordinat yang sama. Lalu ia datang. Berpakaian serba putih dengan bawahan rok hitam. Melangkah pelan bak bidadari mengukur jarak. Seperti sebuah adegan yang ditulis terlalu puitis oleh penulis naskah yang sedang mabuk asmara. Pintu kedai terbuka. Angin malam menyusup membawa dingin, dan di belakangnya berdiri seorang perempuan dengan rambut sedikit basah. Matanya teduh. Wajahnya, en...