Posts

Aku dan Ilusi yang Menepi

Aku bertemu seorang gadis cantik tadi malam di kedai kopi. Sebuah tempat yang paling masuk akal bagi manusia gagal untuk berpura-pura baik-baik saja sambil menyesap Americano pahit, ditemani musik Hindi yang diputar terlalu pelan untuk disebut hiburan. ​Aku datang dengan tubuh lelah dan kepala yang penuh reruntuhan pikiran. Hari itu terlalu panjang untuk disebut hari biasa, tapi terlalu hampa untuk dikenang. Aku duduk di sudut dekat jendela, memandangi jalanan yang basah oleh sisa hujan sembari mencoba berdamai dengan fakta pahit: bahwa usia terus bergerak maju, sementara hidup masih saja tertatih di koordinat yang sama. ​ Lalu ia datang. Berpakaian serba putih dengan bawahan rok hitam. Melangkah pelan bak bidadari mengukur jarak. Seperti sebuah adegan yang ditulis terlalu puitis oleh penulis naskah yang sedang mabuk asmara. ​Pintu kedai terbuka. Angin malam menyusup membawa dingin, dan di belakangnya berdiri seorang perempuan dengan rambut sedikit basah. Matanya teduh. Wajahnya, en...

Laron: Selamat Jalan, Mevrouw

“Kapan terakhir kali kau menyesal?” Ia bertanya dengan wajah begitu tenang, seakan kematian masih teramat jauh dari lehernya.  “Ada banyak berkah yang tak kusyukuri, banyak kesia-siaan yang kutelan. Mungkin, salah satunya adalah kau. Tapi tak pernah kubiarkan rasa sesal menguasaiku. Penyesalan hanya membuat usia terasa makin pendek. Hidup terlalu singkat untuk dipenuhi daftar penyesalan.” Ia menghela napas. Kali ini lebih berat dari sebelumnya. Aku tak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Aku lebih memilih menatap wajahnya yang kian tirus diterpa cahaya lampu jalan yang remang—sebuah rahasia yang makin tak mampu kuraba. Angin membawa bau tanah lembap bercampur asap kendaraan yang lewat sesekali.  Di kejauhan seekor anjing menggonggong pendek lalu sunyi kembali jatuh seperti kain hitam yang dibentangkan perlahan. Jalanan makin gelap, juga sepi—mungkin seperti hidupnya. “Kita ini seperti laron,” katanya lirih. “Satu waktu kau menjadi api dan aku menjadi laron. Di waktu lain, aku ...

Tubuh: Antara Penjara Jiwa, Medan Kekuasaan, dan Komoditas Pasar

Menyoal tubuh adalah persoalan yang tidak pernah ada habisnya selama manusia masih bertubuh (dan bersetubuh). Gugatan eksistensial muncul: Siapa aku? Siapa tubuh ini? Apakah aku berkuasa atas tubuhku, ataukah aku dan tubuh adalah dua entitas berbeda yang terpaksa tinggal dalam satu ruang?  ​Akar Sejarah: dari Penjara hingga Mesin ​Jauh sebelum tubuh menjadi diskursus sosiologi modern, peradaban Yunani Kuno telah memperdebatkannya. Kaum Cyrenaic memuja kebahagiaan tubuh sebagai pencapaian tertinggi, sementara kaum Epicurean mulai menggeser prioritas pada kebahagiaan jiwa. Aliran Orphisme mengambil posisi ekstrem dengan menyatakan soma sema—bahwa tubuh adalah kuburan bagi jiwa.  ​Pandangan ini diwarisi oleh Plato yang memandang tubuh sebagai penjara yang membelenggu jiwa dari kebenaran abadi. Dualisme ini merembes ke peradaban Romawi dan mencapai puncaknya pada era modern melalui René Descartes. Dengan diktum cogito ergo sum, Descartes memisahkan totalitas manusia: tubuh d...

Berteman dengan Sepi

Kesepian itu tidak datang tiba-tiba. Ia memang tidak mengetuk pintu, tidak membawa kabar. Ia menyelinap, perlahan, tanpa suara, melalui celah hari-hari biasa. Ia datang saat suara orang-orang mulai meredup, saat percakapan hanya tinggal formalitas, saat malam tiba dan yang tersisa hanya kamu—dengan pikiranmu sendiri. Sebelumnya aku takut dengan kesepian. Kukira itu tanda bahwa aku gagal membangun hubungan, gagal menjadi bagian dari dunia. Aku mencari cara untuk mengusirnya—dengan keramaian, dengan tawa yang dipaksakan, dengan layar-layar kecil yang selalu aktif. Tapi semua itu hanya menunda. Saat semuanya diam, kesepian kembali. Aku tetap sendirian, bahkan dalam kerumunan. Lama-lama aku lelah melawan. Maka aku belajar duduk bersamanya. Bukan menyerah, tapi mencoba mengenalnya. Seperti kau mencoba memahami seseorang yang awalnya asing, lalu perlahan kau sadari: ia tidak jahat, hanya tak terbiasa dimengerti. Rupanya kesepian tidak selalu menyakitkan. Kadang, ia hanya sunyi yang jujur....

Prahara Engineer Bangkalan: Sudah Cinta Mati Kampung, Eh Dibalas dengan Pengangguran

Suatu siang, saat sedang mengajar, ponselku berdering. Nomor lama. Teman lama. Hampir setengah tahun kami tak bertegur sapa. Naluri bilang, ini bukan sekadar “eh kabar gimana bro?” Betul saja. Telepon itu bukan salam pertemanan, melainkan keluhan berdurasi 11 menit 23 detik. Sejenis ratapan eksistensial ala Zainuddin yang baru tahu bahwa Hayati sudah menikah. Temanku ini engineer. Insinyur, kalau pakai diksi Orde Baru. Gagah. Bergelar. Bersertifikat. Eh, sayang, Bangkalan menatapnya dengan mata kosong —seperti dia bukan siapa-siapa. Dia baru  resign  pekerjaan mapan dari rantau, dari tanah Malin Kundang. Alasannya mulia: ingin dekat keluarga, berbakti kepada kampung halaman. Tapi harapannya bertepuk sebelah tangan. Lowongan kerja? Nihil. Yang ada malah beban baru di pundak keluarga. “Kulo mboten niki-ningi, mas,” katanya sambil nyengir getir. Keluhan seperti ini bukan barang baru. Apalagi bagi kami, alumni jurusan Teknik dan turunannya, yang mencoba pulang kampung dengan harap...

Dalam Sunyi, Ada Eksistensi

Terkadang ada hal yang ingin kita sampaikan bukan untuk dijawab, tapi sekadar supaya ada yang tahu bahwa kita masih ada. Malam ini aku menulis kepadamu, kawan, setelah sekian lama tak kukirimkan kabar, bukan karena aku tahu kau akan mengerti sepenuhnya, tapi karena aku merasa —dalam caramu melihat dunia ini— ada ruang kecil yang bisa kutitipi sunyi ini. Aku tinggal di kota yang bahkan belum bisa kusebut “kota” dengan sebuah rasa. Di sini aku berjalan tanpa arah yang pasti selain ke tempat kerja dan kembali ke kosan yang seperti cangkang: melindungi, tapi juga membatasi. Tak ada kawan bermain atau berdebat, tak ada famili untuk sekadar bicara tentang cuaca atau tentang bagaimana hari ini begitu panjang meski jam tetap berdetak sama. Kau tahu, kawan, rupanya, dalam sebulan ini, aku menemukan bahwa ada sejenis kesepian yang tak riuh. Ia tidak berteriak, tidak menangis, tidak mengganggu, tapi diam-diam menyerap semuanya. Menyusup ke sela detik, ke jeda napas, ke bayangan lampu jalanan ...

Saru Paragaraf: Warna

Hujan. Jalanan basah. Langit menampakkan wajah muram tanpa sebuah salam hangat. Gerombolan manusia yang berjalan membawa kesedihan dan kebahagiannya masing-masing. Perasaan yang kadang hanya bisa diterka dari raut wajah, ekspresi atau tingkah laku. Bagaimanapun hujan membuat hari ini dingin dan melelahkan. Satu kesibukan datang dengan begitu kejam dan menyedot habis seluruh perhatianku hingga tidak lagi memiliki kesempatan untuk mendatangkan pikiran tidak penting seperti biasanya. Arah jarum jam seolah bergerak tergesa-gesa. Seperti tidak ingin bersahabat denganku dengan sedikit saja memberikan jeda untuk bermalas-malasan barang sejenak. Eh, aku salah. Mengejar sesuatu rupanya membuat satu detik menuju 60 menit menjadi begitu lambat. Seperti hari ini, di mana aku terjebak dalam pusaran waktu yang memaksaku mencintai kenyataan. Tentang hari jum’at dengan hujannya yang deras, dan tentang hari jum’at yang tak mampu menghadirkan ruang untukku memperhatikan banyak hal, termasuk warna. Hingg...