Search This Blog

Arsip Blog

Followers

Bookmark
Featured Post

Menjadi Asing dalam Rutinitas

Seusai membaca kembali karya Albert Camus, khususnya L'Étranger (Orang Asing), aku mulai melihat rutinitas sehari-hari dengan cara yang berbeda. …

Antara Cinta, Fallacy dan Lis

“Cinta itu indah, boi,” kataku sok bijak sambil menyeruput kopi.

“Ia hadir untuk memberi harapan lewat kasih dan sayang. Tidak ada alasan bagi manusia untuk benar-benar bersedih di dalam cinta. Cinta seharusnya menguatkan, bukan melemahkan hati.”

Kalimat itu meluncur begitu saja di sela obrolan kami di sebuah kedai kopi daerah Kaliurang KM 12,5.

Awalnya kami berdiskusi tentang filsafat, tetapi seperti kebanyakan percakapan laki-laki yang terlalu lama duduk sambil menghabiskan kopi, topiknya perlahan bergeser menuju cinta.

Lucunya, kami berdua sama-sama jomblo. Tak apa juga. Toh, bukankah kesendirian tidak pernah menghalangi manusia untuk berbicara tentang cinta?

Kupikir kawanku—yang biasa kupanggil “boi”—akan mengamini pendapatku. Tetapi ia justru tertawa kecil lalu berkata:

“Tahu apa kau tentang cinta? Selama ini saja aku tak pernah melihatmu dekat dengan perempuan.”

Nyelekit.

Kalimat itu terdengar seperti kritik yang dibungkus ejekan. Pedas, tetapi cukup menarik untuk dipikirkan lebih jauh.

Kalau dipandang secara bijak, sebenarnya aku bisa memahami mengapa ia berkata demikian. Bahkan sebagian diriku setuju. Sebab kalimat bijak yang barusan kuucapkan itu pun sejatinya bukan lahir sepenuhnya dari pengalaman pribadiku. Aku pernah mendengarnya dari Tenggelamnya Kapal Van der Wijck—dari potongan dialog antara Hayati dan Zainuddin ketika mereka dipisahkan keadaan.

Sisi lain aku juga ingin bertanya balik: Apa sebenarnya yang ia tahu tentang diriku? Ia baru mengenalku sekitar dua tahun sejak masa kuliah. Sementara sebelum itu ada rentang kehidupan yang sama sekali tidak ia ketahui. Ada masa lalu, pengalaman, luka, dan cerita yang tak pernah hadir dalam pengamatanya.

Disitulah letak persoalannya. Bahwa acapkali kita terlalu tergesa-gesa menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan serpihan kecil yang berhasil mereka lihat. Mereka lupa bahwa kesimpulan yang benar memerlukan premis yang utuh. Tanpa itu, penilaian mudah jatuh pada fallacy—kesalahan berpikir.

Kawanku menyimpulkan bahwa aku tidak memahami cinta hanya karena ia tak pernah melihatku dekat dengan perempuan. Padahal ketidakhadiran bukti dalam pengamatannya tidak otomatis membuktikan ketiadaan pengalaman dalam hidupku.

Tanpa sepengetahuannya, ketika duduk di bangku sekolah dulu, aku pernah jatuh cinta. Cinta pertama. Cinta buta. Sebut saja namanya Lis.

Lis mungkin bukan perempuan tercantik di dunia menurut standar umum. Tapi bagi seorang lelaki muda yang sedang belajar memahami rasa sepertiku ini, Lis adalah semacam peristiwa.

Di bawah pelupuk mata kirinya terdapat sebuah andeng-andeng kecil. Bukan sesuatu yang mengurangi kecantikannya, justru di situlah letak pesonanya. Ketidaksempurnaan itu yang membuat wajahnya terasa hidup. Senyumnya tenang. Matanya teduh.

Entah mengapa, setiap kali ia berbicara, sejak awal kenal waktu masih SMP, selalu ada kesan seolah kata-katanya datang dari tempat yang lebih bersih daripada dunia sehari-hari. Bahkan aku merasa bahwa Lis semacam entitas keindahan yang tidak sengaja hadir di dunia ini. Seperti anomali.

Jika Hayati adalah “permata yang hilang” bagi Zainuddin, dan Annelies Mallema disebut Minke sebagai “bunga penutup abad”;  maka Lis, bagiku, adalah lukisan “Alegori Kehidupan” tentang bagaimana kehidupan diam-diam menyimpan keindahan.

Aehnya, yang paling membuatku jatuh cinta bukanlah wajahnya. Bukan senyumnya. Bukan matanya. Melainkan perasaan bahwa melalui dirinya, aku belajar melihat dunia dengan cara yang berbeda.

Cinta yang sejak pertemuan pertama itu justru mengajariku sesuatu yang tak pernah diajarkan logika: bahwa tidak semua rasa harus dimiliki untuk menjadi bermakna.

Sebagian cinta memang hadir bukan untuk dimenangkan, melainkan untuk membentuk seseorang menjadi lebih manusiawi.

Barangkali karena itulah aku akhirnya mengerti mengapa banyak penulis besar lahir dari patah hati. Sebab kehilangan sering kali memaksa manusia masuk lebih jauh ke dalam dirinya sendiri.

Mungkin, tanpa Lis, aku tidak akan pernah belajar menulis seperti hari ini.

Karena pada akhirnya, cinta bukan sekadar soal memiliki seseorang. Kadang cinta hanyalah tentang bagaimana seseorang pernah singgah sebentar dalam hidupmu, lalu diam-diam mengubah cara pandangmu terhadap dunia selamanya.
Post a Comment

Post a Comment