Aku, Banjarmasin & Tante ida

Berada di perantauan baru, Banjarmasin, saya merasa sangat kesepian. Tak ada teman. Tak ada kenalan. Semua terasa asing. Sekeliling senyap. Kosong. Seolah aku dan Banjarmasin adalah dua entitas berbeda yang tak bisa dijembatani untuk saling terhubung.

Tak seperti pada perantauan lain, Jombang, Yogyakarta dan Pekanbaru yang memelukku dan memberiku segala macam warna, Banjarmasin seolah hidup dengan hidupnya sendiri, dan memaksaku masuk dalam dunia tanpa warna: gelap. Itu mulanya. Sebelum saya mengenal dia.

Entah bagaimana ceritanya aku dan Banjarmasin mulai bersahabat, seperti pertalian takdir tak sengaja, dengan bagaimana ia, Banjarmasin, mengirimkanku kenalan baru sebagai jembatan. Sebut saja dia tante Ida. Sosok yang mengingatkanku untuk bersabar saat kukeluhkan kesah dan kesepianku di kota baru perantauan ini, dan memintaku mulai membuka diri pada semua kemungkinan yang akan diberikan oleh Banjarmasin.

Banjarmasin adalah kota yang berbeda. Seperti halnya juga dengaan tante Ida. Sosok perempuan yang memelukku begitu hangat di tengah kesepianku. Dia perempuan berprinsip tegas, riang penuh cerita dan terbuka. Bahkan saking terbukanya obrolan malam kami seringkali melewati batas sekat yang dianggap tabu.

Seperti bagaimana tante Ida ini bisa saja dengan sosok keibuannya seringkali harus menahan sabar merawat dan mendidik anak-anaknya, menegur, mengarahkan dan memotivasi, juga dengan santainya tante Ida mendiskusikan urusan ranjang kepadaku bahwa lelaki jangan egois karena perempuan juga butuh orgasme dalam bercinta.

Tapi jangan pernah meminta hal yang tidak senonoh terhadap tante Ida. Sekali lagi kuingatkan, dia perempuan berprinsip tegas. Tak bisa kalian belokkan meski merengek memelas diri dan mengiming-iminginya dengan duniawi. Seperti dalam berbagai kesempatan, tante Ida selalu mengingatkanku bahwa dia bukan perempuan gampangan. Walaupun dia dengan amat santai bercanda menggodaku dengan berbau seksual. Membuatku panas-dingin.

Bagaimana tidak panas-dingin Kawan. Saya adalah lelaki polos bak kanvas belum disentuh noda, tak pernah menjajaki cakrawala “dunia dewasa”. Dilalah, tante Ida menggodaku, dengan suaranya yang dibuat parau seksi mengundang birahi. Selang waktu, di tengah obrolan makin panas, diburu tanya penasaran, saya senggol sedikit tante Ida mengenai malam pertama mereka dan bagaimana rasanya kehilangan keperawanan.

Sialnya lagi tante Ida menceritakan dengan sangat detail. Tante digenangi rasa malu dan kekikuakan. Seperti dalam adegan film porno bergenre Defloration. Bila saya ingat kembali waktu itu. Demi NKRI harga mati, saya berusaha dengan amat keras menahan agar tangan kiriku tidak berkelana ke bawah mengikuti irama nafsu yang terpantik oleh cerita Tante Ida.

Tentang bagaimana sang suami memancing hasrat tante Ida melaui film porno yang mereka tonton bersama terlebih dahulu. Sembari kemudian tanpa disadari oleh tante Ida ada dua buah tangan mulai meraba payudaranya dengan lihai. Betapa malunya tante Ida ketika sang suami mulai membuka pakaiannya tanpa sisa. Serta bagaimana tante Ida harus menahan rasa sakit tak terkira ketika sebuah benda asing mulai menyeruak memaksa masuk pada area sensitifnya.

“Saya harus merasakan sakit minta ampun pada area itu selama 2 hari dan sangat tidak menikmati sesi bercinta tersebut. Bahkan berbulan-bulan setelah penikahan,” ungkap tante Ida menutup cerita malam pertamanya kepadaku.

Bagi tante Ida bercinta harus dinikmati oleh kedua pihak. Bukan hanya satu pihak saja. Yang mau aja perempuan manut disuruh berbaring ngangkang dan dicolok. Keduanya harus aktif. Sebab, menurut Tante Ida bercinta adalah isyarat sejati ungkapan cinta antar pasangan yang saling mencinta dalam pernikahan. Bukan lagi seperti bunga atau kado ulang tahun yang biasa ia terima dari mantan pacar-pacarnya saat masih remaja.

Saya sangat sependapat dengan pandangan tante Ida ini. Sebagaimana saya masih berpegang teguh dengan pandangan Sigmun Freud bahwa cinta, seromantis dan sehalus apapun susunan kata yang diucapkan, tidak punya arti kecuali di atas ranjang.

Kini saya mulai membuka diri dan mencintai Banjarmasin dengan segala kesemrautan dan keromantisanya. Tak peduli siangnya begitu panas dan rudin, dan malamnya begitu dingin dan penuh nyamuk. Sebagaimana saya mulai menikmati hubunganku dengan tante Ida. Meski saya harus bersembunyi dalam gelap, memastikan kondisi aman terkendali bahwa si suami tak lagi di rumah, saat ingin menghubungi tante Ida.

Aku merasa seperti Sephia versi lelaki. Yang hanya menikmati manisnya cinta dalam gelap. Meskipun bagi tante Ida aku hanyalah lelaki perjaka polos tak terbelai sebagai selingan hiburan mengisi kekosongan waktu menunggu sang suami pulang untuk bercinta hehehe

Comments

Postingan Populer

Belajar dari Cu Pat Kay: Siluman Babi Yang Dihukum 1000 Kali Penderitaan Cinta

Laut Bercerita, Karya Leila S. Chudori

Sekilas Sejarah Penyusunan/Kelahiran Khittah Perjuangan HMI

The Star Maker