Search This Blog

Arsip Blog

Followers

Bookmark
Featured Post

Menjadi Asing dalam Rutinitas

Seusai membaca kembali karya Albert Camus, khususnya L'Étranger (Orang Asing), aku mulai melihat rutinitas sehari-hari dengan cara yang berbeda. …

Ratapan dalam Telur Kosmis

Di bawah bayang-bayang perang yang tampaknya akan jauh lebih mengerikan daripada World War I, Olaf Stapledon menerbitkan Star Maker pada tahun 1937—sebuah novel yang terasa lebih seperti wahyu metafisik daripada karya fiksi ilmiah biasa.

Tokoh narator dalam novel itu dikisahkan mampu mengembara melampaui batas ruang dan waktu. Kesadarannya melesat ke ruang kosmis dengan kecepatan yang nyaris ilahi; keluar-masuk masa lalu dan masa depan; menjalin telepati dengan makhluk-makhluk dari galaksi lain. 

Bersama mereka, ia menelusuri jagat demi jagat, menyaksikan berbagai bentuk kehidupan yang asing sekaligus tragis. Tak ada alam semesta yang benar-benar serupa. Penghuninya pun beraneka rupa. 

Ada peradaban yang terlalu primitif untuk menyelesaikan persoalan dasarnya sendiri. Ada yang sangat cerdas, tapi gagal membangun kesadaran sosial dan politik. Ada pula yang hancur justru karena keberhasilan teknologinya sendiri, atau perlahan punah akibat perubahan lingkungan yang tak mampu mereka kendalikan. Di balik segala perbedaan itu, seluruh jagat ternyata memiliki nasib yang sama: menuju kehancuran.

“Alangkah boros dan sia-sia,” gerutu sang narator.

Di tengah kecemasan kosmik, ia tiba-tiba merasakan kehadiran suatu akal budi kosmik—kesadaran purba yang melampaui segala konsep ketuhanan manusia. Ia terangkut ke sebuah ruang yang terasa seperti perpaduan antara mimpi, mitos, dan laboratorium metafisis. Di sanalah ia menyaksikan proses penciptaan dunia-dunia.

Semesta-semesta itu rupanya hanyalah eksperimen.
Sang pencipta agung—Star Maker—menciptakan jagat demi jagat seperti seorang seniman yang terus mengutak-atik bentuk demi mencapai komposisi sempurna. 

Jagat pertama bahkan hanya berupa tetabuhan: ritme, sunyi, dan bunyi. Dari sana lahir melodi. Lalu ruang. Lalu waktu. Lalu materi. Star Maker terus mencoba berbagai kemungkinan kosmik seperti seorang komponis yang menyusun simfoni tanpa akhir. Semakin lama, ciptaannya semakin rumit. 

Alam semesta kita lahir di tengah rangkaian eksperimen itu—cukup indah untuk dikagumi, cukup kompleks untuk dicintai. Sialnya, kekaguman tidak pernah menjamin keselamatan. Sedikit cacat dalam rancangan sudah cukup untuk menggiring satu semesta menuju tragedi. 

Ketika kegagalan itu tampak tak dapat diperbaiki, Star Maker meninggalkannya begitu saja, membiarkannya runtuh perlahan bersama seluruh penderitaan penghuninya.

Dengan ketenangan yang nyaris kejam, ia menaruh semesta yang gagal itu bersama puing-puing semesta sebelumnya, lalu melanjutkan eksperimen berikutnya.
Pada titik itu, sang narator mulai kelelahan. Dunia-dunia ciptaan Star Maker terasa makin asing dan tak terpahami. 

Hingga akhirnya ia menyaksikan rancangan terakhir: kosmos penghabisan di ujung segala eksperimen. Kosmos itu sempurna. Segalanya berada dalam keseimbangan mutlak. Penghuninya memiliki kesadaran spiritual yang nyaris absolut. Tak ada konflik. Tak ada kekurangan. Tak ada penderitaan.

Justru di situlah kengerian itu lahir.
Karena dalam kesempurnaan total, tak ada lagi kemungkinan. Tak ada lagi hasrat. Tak ada lagi penciptaan. Energi berhenti mengalir. Imajinasi kehilangan fungsi. Segala sesuatu menjadi datar, tenang, dan mati dalam kesempurnaannya sendiri.
“Aku adalah embrio yang bertarung dalam telur kosmis sementara intinya membusuk.” Kalimat narator ini terdengar seperti ratapan terakhir kesadaran yang menyadari bahwa hidup justru membutuhkan cacat agar tetap hidup.

Pada titik inilah sang narator memahami sesuatu yang mengerikan: Star Maker bukan Tuhan yang penuh kasih. Ia juga bukan iblis. Ia hanyalah seniman kosmik yang terobsesi pada kreativitasnya sendiri. Ia mencipta bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk bereksperimen. Semesta yang gagal dimusnahkan. Semesta baru diciptakan lagi. Begitu terus, hingga hasrat estetikanya terpuaskan.

Ketika kembali ke Bumi, sang narator akhirnya menerima nasibnya sendiri. Ia sadar bahwa dirinya mungkin tidak lebih dari serpihan kecil dalam kontemplasi rasional makhluk kosmik yang dingin dan tak peduli.

Mungkin, itulah horor terbesar dalam Star Maker: bukan bahwa manusia itu kecil, melainkan bahwa penderitaan manusia mungkin sama sekali tidak memiliki arti moral apa pun bagi semesta.
Post a Comment

Post a Comment