Search This Blog

Arsip Blog

Followers

Bookmark
Featured Post

Aku dan Ilusi yang Menepi

Aku bertemu seorang gadis cantik tadi malam di kedai kopi. Sebuah tempat yang paling masuk akal bagi manusia gagal untuk berpura-pura baik-baik saja …

Jilid II: Reformasi yang Mati Sebelum Bersemi

Seminggu telah lewat sejak mimpi itu menguap, namun rasa penasaran masih saja mengusik. Betapa ceroboh dan tak beradabnya gadis itu—masuk tanpa permisi ke dalam mimpi seorang lelaki yang hatinya sudah lama gersang dari urusan asmara.

Aku mulai menggugat dalam lamunan: Apakah ia pikir hati lelaki itu sekuat karang yang kokoh menantang ombak? Tidakkah ia sadar bahwa sehebat apa pun seorang lelaki, ia tetaplah entitas yang rapuh dan mudah limbung hanya oleh satu lemparan senyum?

Puncaknya terjadi kemarin, saat aku mengantar keponakan ke sekolah. Di simpang jalan yang memisahkan keriuhan pasar dan kepolosan Taman Kanak-kanak, kami bertemu. Ia menyapaku, “Kak,” sembari melemparkan senyuman terindah yang pernah tercatat dalam sejarah visualku. Tepat saat itu, angin jahil dari hempasan mobil yang melaju menderaikan rambut hitamnya—sebuah adegan yang seolah dipinjam paksa dari film romance kelas atas.

Aku tak bisa lagi diam. Cinta yang bermuara dari mimpi ini telah berhasil memporak-porandakan tatanan batinku. Jika aku hanya mematung dalam khayalan, galau ini akan berakumulasi menjadi penyesalan sejarah.

Bersama seorang teman—sesama beban nusa dan bangsa yang sedang asyik bertukar nasib sebagai pengangguran—aku mendapatkan amunisi baru. Ia menyitir perkataan agung Sutan Sjahrir: “Cinta yang tak dipertaruhkan tak akan pernah dimenangkan!”

Aku merinding. Kalimat itu berdenyut dengan ritme revolusi. Ghirah-ku tersulut, membakar gelora muda menuju tangga idealisme cinta yang paling puncak. “Aku akan berjuang!” sambarku penuh bara. Aku akan memperjuangkannya seperti aku memperjuangkan hak-hak rakyat yang ditindas penguasa, tak peduli meski harus berhadapan dengan gas air mata atau ancaman jeruji besi.

Namun, sebelum melancarkan aksi, aku bersiap layaknya jenderal yang hendak menginvasi wilayah musuh. Aku mengumpulkan intelijen: zodiaknya, film favoritnya, tokoh idola, hingga rekam jejak organisasinya. Aku membedah kecenderungan psikologisnya sebagaimana Anton mendekati Erika dalam Cintaku di Kampus Biru. Tak lupa, aku kembali melahap Erich Fromm: The Art of Loving.

Persiapanku bukan sekadar logistik, melainkan taktik ilmiah. Berdasarkan kalkulasi probabilitas, aku yakin tingkat kesuksesanku mencapai 95%. Margin error hanya 5%—sebuah risiko kecil yang bisa diabaikan. Apalagi setelah kudengar kabar ia baru saja putus. Strategi ini sudah matang, sudah inkrah.

Maka, saat pagi bermandikan warna tembaga, aku bertamu ke rumahnya. Aku datang dengan jubah aktivis, membawa narasi besar: "Reformasi Desa". Aku ingin merombak tatanan pendidikan dan meminta ia menjadi motor penggeraknya.

“Kenapa harus aku, Kak? Aku kan perempuan,” tanyanya ragu.

“Karena aku tak hanya melihat parasmu yang cantik. Aku melihat kepedulian. Bukankah Kartini sudah lama menggaungkan emansipasi? Kenapa kau masih terjebak pada dikotomi gender?” jawabku taktis.

Rona pipinya berubah merah. Aku tahu persis celah masuknya: ia adalah aktivis pergerakan di bawah payung Nahdliyin yang memuja Kartini. Dengan menempatkan perempuan sebagai subjek, aku sedang menanamkan sugesti ke alam bawah sadarnya bahwa aku adalah lelaki yang tercerahkan.

“Misi pertama, sukses!” batinku. Ia antusias. Senyuman itu kini begitu dekat, membuat imajinasiku berkelindan masuk ke ruang khayalan yang lebih jauh.

Aku membayangkan ia menjadi istriku. Kami membangun rumah di pinggiran kota, jauh dari kebisingan gosip tetangga. Setiap pagi, ia menyeduhkan secangkir kopi—sebuah ritual yang kuimpikan sejak membaca Cinta di Dalam Gelas karya Andrea Hirata. Sebab, cita rasa kopi bagiku ditentukan oleh siapa yang menyeduhnya.

Kami akan menjadi pasangan yang dinamis. Sagitarius dan Gemini; ekstrovert dan penuh humor. Meski ada perbedaan ideologis—aku yang liberal dan dia yang fundamental; aku yang "Himpunan" dan dia yang "Nahdliyin"—perbedaan itu justru menjadi bumbu. Di malam hari, kami akan berdebat panas soal isu nasional di televisi, saling bantah perspektif dengan sengit, dan tentu saja, perdebatan intelektual itu akan diakhiri dengan bercinta. Sebuah dialektika yang sangat mengasyikkan.

Relung hariku terasa sempurna... sampai sebuah derum mobil putih mendekat. Seorang pria keluar, dan bidadariku menyambutnya dengan binar mata yang berbeda.

Pikirku, kenapa kakaknya pulang kerja sepagi ini? Tapi harapanku runtuh saat ia memperkenalkannya. “Kenalin, Kak. Ini Faiz. Pacar baruku. Semalam kami baru jadian.”

Duniaku runtuh seketika. Dadaku seperti diiris sembilu oleh kepolosannya berucap. Margin error 5% itu terjadi semalam! Saat aku sibuk menganalisis peluang dan menghitung probabilitas, seorang pria lain datang tanpa teori, tanpa Erich Fromm, dan langsung menyatakan cinta. Aku kalah sebelum perang benar-benar dideklarasikan.

“Bagaimana agenda reformasi kita, Kak?” tanyanya tanpa dosa.

Aku menatapnya dengan sisa-sisa harga diri yang hancur. “Apa kau tak punya buku sejarah? Soeharto sudah lama tumbang! Reformasi sudah selesai dua puluh dua tahun lalu!”

Aku melangkah pergi dengan langkah gontai. Sialan!

Post a Comment

Post a Comment