
Seminggu
telah lewat sejak mimpi itu menguap, namun rasa penasaran masih saja mengusik.
Betapa ceroboh dan tak beradabnya gadis itu—masuk tanpa permisi ke dalam mimpi
seorang lelaki yang hatinya sudah lama gersang dari urusan asmara.
Aku mulai menggugat dalam lamunan: Apakah ia pikir
hati lelaki itu sekuat karang yang kokoh menantang ombak? Tidakkah ia sadar
bahwa sehebat apa pun seorang lelaki, ia tetaplah entitas yang rapuh dan mudah
limbung hanya oleh satu lemparan senyum?
Puncaknya terjadi kemarin, saat aku mengantar
keponakan ke sekolah. Di simpang jalan yang memisahkan keriuhan pasar dan
kepolosan Taman Kanak-kanak, kami bertemu. Ia menyapaku, “Kak,” sembari
melemparkan senyuman terindah yang pernah tercatat dalam sejarah visualku.
Tepat saat itu, angin jahil dari hempasan mobil yang melaju menderaikan rambut
hitamnya—sebuah adegan yang seolah dipinjam paksa dari film romance kelas atas.
Aku tak bisa lagi diam. Cinta yang bermuara dari
mimpi ini telah berhasil memporak-porandakan tatanan batinku. Jika aku hanya
mematung dalam khayalan, galau ini akan berakumulasi menjadi penyesalan
sejarah.
Bersama seorang teman—sesama beban nusa dan bangsa
yang sedang asyik bertukar nasib sebagai pengangguran—aku mendapatkan amunisi
baru. Ia menyitir perkataan agung Sutan Sjahrir: “Cinta yang tak dipertaruhkan tak akan pernah
dimenangkan!”
Aku merinding. Kalimat itu berdenyut dengan ritme
revolusi. Ghirah-ku tersulut,
membakar gelora muda menuju tangga idealisme cinta yang paling puncak. “Aku
akan berjuang!” sambarku penuh bara. Aku akan memperjuangkannya seperti aku
memperjuangkan hak-hak rakyat yang ditindas penguasa, tak peduli meski harus
berhadapan dengan gas air mata atau ancaman jeruji besi.
Namun, sebelum melancarkan aksi, aku bersiap
layaknya jenderal yang hendak menginvasi wilayah musuh. Aku mengumpulkan
intelijen: zodiaknya, film favoritnya, tokoh idola, hingga rekam jejak
organisasinya. Aku membedah kecenderungan psikologisnya sebagaimana Anton
mendekati Erika dalam Cintaku di
Kampus Biru. Tak lupa, aku kembali melahap Erich Fromm: The Art of Loving.
Persiapanku bukan sekadar logistik, melainkan taktik
ilmiah. Berdasarkan kalkulasi probabilitas, aku yakin tingkat kesuksesanku
mencapai 95%. Margin error hanya 5%—sebuah risiko kecil yang bisa diabaikan.
Apalagi setelah kudengar kabar ia baru saja putus. Strategi ini sudah matang,
sudah inkrah.
Maka, saat pagi bermandikan warna tembaga, aku
bertamu ke rumahnya. Aku datang dengan jubah aktivis, membawa narasi besar:
"Reformasi Desa". Aku ingin merombak tatanan pendidikan dan meminta
ia menjadi motor penggeraknya.
“Kenapa harus aku, Kak? Aku kan perempuan,”
tanyanya ragu.
“Karena aku tak hanya melihat parasmu yang cantik.
Aku melihat kepedulian. Bukankah Kartini sudah lama menggaungkan emansipasi?
Kenapa kau masih terjebak pada dikotomi gender?” jawabku taktis.
Rona pipinya berubah merah. Aku tahu persis celah
masuknya: ia adalah aktivis pergerakan di bawah payung Nahdliyin yang memuja
Kartini. Dengan menempatkan perempuan sebagai subjek, aku sedang menanamkan
sugesti ke alam bawah sadarnya bahwa aku adalah lelaki yang tercerahkan.
“Misi pertama, sukses!” batinku. Ia antusias.
Senyuman itu kini begitu dekat, membuat imajinasiku berkelindan masuk ke ruang
khayalan yang lebih jauh.
Aku membayangkan ia menjadi istriku. Kami
membangun rumah di pinggiran kota, jauh dari kebisingan gosip tetangga. Setiap
pagi, ia menyeduhkan secangkir kopi—sebuah ritual yang kuimpikan sejak membaca Cinta di Dalam Gelas karya
Andrea Hirata. Sebab, cita rasa kopi bagiku ditentukan oleh siapa yang
menyeduhnya.
Kami akan menjadi pasangan yang dinamis.
Sagitarius dan Gemini; ekstrovert dan penuh humor. Meski ada perbedaan
ideologis—aku yang liberal dan dia yang fundamental; aku yang
"Himpunan" dan dia yang "Nahdliyin"—perbedaan itu justru
menjadi bumbu. Di malam hari, kami akan berdebat panas soal isu nasional di televisi,
saling bantah perspektif dengan sengit, dan tentu saja, perdebatan intelektual
itu akan diakhiri dengan bercinta. Sebuah dialektika yang sangat mengasyikkan.
Relung hariku terasa sempurna... sampai sebuah
derum mobil putih mendekat. Seorang pria keluar, dan bidadariku menyambutnya
dengan binar mata yang berbeda.
Pikirku, kenapa kakaknya pulang kerja sepagi ini?
Tapi harapanku runtuh saat ia memperkenalkannya. “Kenalin, Kak. Ini Faiz. Pacar
baruku. Semalam kami baru jadian.”
Duniaku runtuh seketika. Dadaku seperti diiris sembilu
oleh kepolosannya berucap. Margin error 5% itu terjadi semalam! Saat aku sibuk
menganalisis peluang dan menghitung probabilitas, seorang pria lain datang
tanpa teori, tanpa Erich Fromm, dan langsung menyatakan cinta. Aku kalah
sebelum perang benar-benar dideklarasikan.
“Bagaimana agenda reformasi kita, Kak?” tanyanya
tanpa dosa.
Aku menatapnya dengan sisa-sisa harga diri yang
hancur. “Apa kau tak punya buku sejarah? Soeharto sudah lama tumbang! Reformasi
sudah selesai dua puluh dua tahun lalu!”
Aku melangkah pergi dengan langkah gontai. Sialan!
Post a Comment