Search This Blog

Arsip Blog

Followers

Bookmark
Featured Post

Menjadi Asing dalam Rutinitas

Seusai membaca kembali karya Albert Camus, khususnya L'Étranger (Orang Asing), aku mulai melihat rutinitas sehari-hari dengan cara yang berbeda. …

Jika Ini Mimpi

Semua ini terasa seperti mimpi yang menggantung di antara tidur dan kesadaran.

Pagi masih terlalu dingin ketika kau membuka mata. Cahaya pucat menyusup dari celah jendela kamar, sementara udara menggigit kulit seperti kenangan lama yang belum selesai. Untuk beberapa saat kau hanya diam memandangi langit-langit kamar kosmu, lalu sebuah pertanyaan pelan muncul di kepala: Apakah ini nyata?

Belum sempat kau menjawabnya, bayangan seseorang melintas di balik pintu kamar. Siluet perempuan.

Rambut panjangnya jatuh seperti gelap yang mengalir perlahan. Kau tersentak. Jantungmu berdetak lebih cepat. Dengan langkah buru-buru, kau membuka pintu bahkan sebelum ia sempat mengetuk.

Perempuan itu berdiri. Tersenyum. Sebuah senyuman yang dulu pernah tinggal lama di kepalamu.

Kau mematung. Perempuan itu menatapmu dengan heran, sementara kau masih sibuk memastikan apakah dunia sedang mempermainkan kesadaranmu. Tangannya bergerak kecil di depan wajahmu.

“Kau masih belum percaya aku nyata?” Suaranya membuat dadamu seperti ditarik kembali ke masa lalu.

Kau tidak menjawab. Kepalamu penuh pertanyaan. Logikamu seperti runtuh mendadak. Ada rasa aneh yang bergerak di dalam dada—campuran rindu, marah, dan ketidakpercayaan. Sialnya, jauh di dasar hatimu, ada satu bisikan kecil yang lebih kuat dari semuanya: Kalau ini mimpi, aku tak ingin bangun.

“Jika ini memang mimpi,” katamu pelan, “aku rela tidur selamanya.”

Perempuan itu tersenyum tipis. Matanya tampak lelah. “Kau masih saja seperti dulu,” katanya. “Tak pernah peduli pada dirimu sendiri.”

“Kau yang membuatku begini.”

“Aku cuma ingin bicara sebentar.”

“Kau yang membuatku begini.”

Ia menarik napas panjang. “Kau bahkan tidak mencoba mendengarkan.”

“Kau yang membuatku begini.”

Kalimat itu jatuh tiga kali dari mulutmu seperti gema dari luka yang belum sembuh.

Perempuan itu terdiam mengisyaratkan betapa keputusannya dulu telah melukaimu. Kau pun kembali tenggelam ke dalam kenangan lama.

Waktu itu kau dan perempuan itu masih berseragam putih abu-abu. Kau masih terlalu muda untuk memahami apa sebenarnya yang sedang terjadi ketika pertama kali melihatnya.

Hanya saja, sejak tatapan pertama itu, ada sesuatu yang berubah di dalam dirimu. Dadamu mendadak sesak. Jantungmu berdetak tak menentu. Dunia terasa sedikit bergeser dari porosnya.

Belakangan kau menemukan istilah itu dalam tulisan Leila S. Chudori: Le coup de foudre. Petir cinta. Yang percaya bahwa ada pertemuan tertentu yang mampu menghantam manusia seperti kilat. Sebuah tabrakan dua pasang mata yang cukup untuk membuat seluruh logika kehilangan keseimbangan. Itulah yang terjadi padamu.

Sejak hari itu, perempuan itu diam-diam tinggal di kepalamu. Kau mulai membangun dunia kecil tentang dirinya. Dunia yang dipenuhi percakapan imajiner, senyum yang terus diulang ingatan, dan harapan-harapan yang tumbuh terlalu jauh.

Di dunia itu, ia mencintaimu. Di dunia itu, tidak ada kalimat: “Aku cuma menganggapmu teman.”

Sialnya kenyataan tidak pernah benar-benar peduli pada imajinasi manusia. Ketika akhirnya kau menyatakan perasaanmu di bawah langit malam yang penuh bintang, perempuan itu menolakmu dengan suara yang sangat pelan. Terlalu pelan sampai justru terasa lebih menyakitkan.

Sejak saat itu, kau mulai hidup di antara dua dunia: kenyataan yang kejam, dan khayalan yang terlalu indah untuk ditinggalkan.

“Berhenti melamun.” Suara perempuan itu menarikmu kembali ke kamar sempitmu.

“Kau selalu saja tenggelam dalam duniamu sendiri.”

“Tak ada yang salah dengan khayalan,” jawabmu dingin.

“Ada. Karena suatu hari kau harus bangun.”

Kau tertawa kecil.

“Lalu apa yang salah kalau aku tak mau bangun?”

Perempuan itu menatapmu lama. Ada sesuatu di matanya yang tak mampu kau baca.

“Hari ini aku datang bukan sebagai khayalan,” katanya pelan. “Aku datang menjemputmu.”

Kau mengernyit. Ia menunjuk ponselmu yang tergeletak di atas kasur. Dengan malas kau mengambilnya. Tiga pesan belum terbaca. Dua panggilan tak terjawab. Semuanya darinya. Salah satu pesan itu tertulis: Aku mau mengajakmu kencan.

Kau menatap layar ponsel cukup lama. Lalu perlahan, pertanyaan itu kembali muncul di kepalamu: Apakah ini nyata?

Untuk pertama kalinya, kau mulai merasa bahwa kenyataan kadang bisa lebih kejam daripada mimpi. Mimpi hanya menyakitkan saat kita terbangun. Sementara kenyataan tetap tinggal, bahkan ketika kita sudah sadar sepenuhnya.
Post a Comment

Post a Comment