Thursday, August 9, 2018

Salah Apa Jadi Mahasiwa Tua?

Entah harus darimana pula tulisan ini harus dimulai. Bukan karena saya tidak punya dasar yang kuat untuk memulainya. Tapi ya gitulah....ketika tulisan ini ditulis dan bahkan kemudian dimuat, pasti celutakan tak senonoh, seperti orang yang tak pernah ngaji kitab Kuning Ta’lim Muta’alim itu, akan nyelutuk heboh seperti tak mau kalah dengan celetukan burung beo: “Itu hanya tulisan pembelaan aja. Kalau tua, ya, tua. Apa enggak pengen cepet lulus apa? Menuh menuhin kursi di ruang kelas aja.”
Celutukan seperti itu mah tidak apa meski sedikit panas-dingin dibilang menuh-menuhin kursi di kelas. Toh, ada pula celetukan yang lebih parah dan tidak terukur lagi takaran naudzubillah min dzalik-nya –setidaknya itu yang pernah saya dengar di curhatan grup sesama kawan seperjuangan mahasiswa tua, yang katanya: “Mbok yo Abang cepet wisuda. Enggak hanya otak yang butuh nutrisi, Bang, ‘bawahnya itu’ juga butuh.”
Jangankan Abang yang jadi mahasiwa tua, Dek, Abang yang hanya beda satu tingkat di atasnya kalian pun nyesek dengernya dan juga bingung mau jawab seperti apa. Memang salah apa sih kami jadi mahasiswa tua, Dek? Apa karena nabi Muhammad menikah dengan Siti Khatijah umurnya 25 tahun, dan kami yang sudah berumur sekitaran itu atau lebih, harus segera wisuda dan kemudian bisa cepet nikah agar hidup kami enggak dibilang bid’ah?
Serius, Kawan, memang enggak gampang, dan ‘Serba Salah’ kalau kata Raisa, jadi mahawiswa tua itu. Mahasiswa tua itu seolah menstreotipekan tak ubahnya hama yang tak boleh didekati dan diikuti. Atau, mereka tak ubahnya selilit yang nempel di sela-sela gigi yang harus segera dibuang. Jika tidak, mere-ka akan membuat gigi tersebut berlubung. Ataunya lagi, mereka tak ubahnya seperti sampah yang berserakan di tumpukan tong-tong sampah yang ketika tidak bisa dibuang harus segera cepat dibakar supaya yang lain tidak terkon-taminasi.

Pernah ada satu kejadian yang menimpa kawan sejawad kami akibat jadi mahasiwa tua, yang waktu itu alhamdulillah-nya saya belum masuk dalam kategori tersebut. Pada waktu itu Ia bertamu ke kontrakan di tengah malam hari, dan tanpa adanya pendahuluan dalam kerangka tutur bahasanya atau sistematika tutur katanya, Ia malah langsung melontarkan rumusan masalah yang tak kalah penting harus dijawab oleh penulis skripsi yang mendaku ideal:
“Apakah mahasiswa tua masuk dalam kategori variabel terikat ataukah varibel bebas untuk jadi pemimpin rumah tangga yang ideal, boi?”
Jawaban saya tentu saja ‘tidak tahu’. Paling tidak karena saya memang tidak pernah menemukan dan membaca karya ilmiah yang meneliti perihal tersebut. Bahkan sekelas Profesor pun sepertinya memang tidak mau sampai hati menilik perihal rumusan masalah yang sangat sensitif dari Kawan Sejawad itu untuk dijadikannya sebagai topik penelitan karya ilmiah.
“Kenapa memangnya, boi?” tanyaku penasaran.
“Kau tahu, saya baru saja diputus dengan alasan karena saya adalah mahasiswa tua. Entah alasan itu dijadikannya premis mayor atau minor untuk mensilogismekan, yang katanya, bahwa mahasiswa tua itu tidak akan bisa jadi imam atau pemimpin rumah tangga yang baik. ‘Ngurusi urusan kampus saja enggak becus apalagi mau ngurusi rumah tangga’, katanya, boi.”
Tentu saja saya ikutan nyesek mendengar jawaban si Kawan Sejawad tersebut –walaupun (lagi-lagi dengan rendah hatinya saya tetap akan bilang) pada waktu itu saya belum masuk dalam kategori tersebut. Tapi bukan alasan begitu nyesek dan penuh stigma tanpa kerangka landasan teori yang enggak jelas sumber darimana resfrensinya itulah, yang kemudian menjamur dan mengaramkanku berkomitmen untuk ikutan menjadi mahasiswa tua. Tidak. Itu bukan alasan yang prinsipil dan ideologis. Itu bukan jalan ninja yang kupilih.

Tetapi Adek-Adek sekalian yang budiman, kalian harus bisa berfikir jernih untuk menelaah dan menilai kenapa Abang-Abang itu memilih atau kenapa kuliahnya bisa lama. Sama seperti halnya Moh. Hatta, wakil presiden pertama itu memilih untuk memutuskan tidak menikah atau memiliki tamba-tan hati sebelum melihat Indonesia merdeka –yang ternyata takaran cintanya terhadap anti-kolonialisme di Hindia Belanda waktu itu melebihi kecintaannya terhadap perempuan– dan lantas kita tidak dapat melekatkan label jomblo ngenes atas pilihan hidupnya, maka ada pula dari segelintirin Abang-Abang yang jadi mahasiswa tua itu memilih jalan yang esensinya sama seperti Hatta.
Tidak hanya itu, Adek-Adek, masih banyak tipikal kenapa Abang-Abang itu memilih atau terpaksa mendapatkan label mahasiswa tua. Banyak. Seperti karena terhambatnya mereka dengan urusan administrasi di kampus, juga ada yang ternyata mendapat dosen pembimbing yang susah pakek bingit ditemui, atau ternyata juga ada pula tipikal mahasiswa (tua) yang lebih asik menggeluti keilmuan yang lebih universal daripada sekedar teori-teori terapan yang dipersembahkan oleh kampus, dan lain sebagainya. Sebab itulah kalian tidak bisa mengambil keputusan-menilai, yang kalau kata Hayati kepada Zaenuddin, yang maha kejam lewat deretan premis-premis logika yang belum tentu absah dilekatkan pada tiap tipikial Abang-abang mahasiswa tua itu.
Atau paling tidak, jikalau kalian tak bisa mempremis-mayor-minorkan realitas sosial kehidupan mahasiswa secara utuh pada tiap tipikal mahasiswa tua itu dan kemudian mengacaukan konklusinya dan menyebabkan penilaian yang tidak hanya menyimpang tapi sekaligus mengundang fitnah, cukuplah kalian baca buku ‘Rekayasa Sosial’-nya Jalaluddin Rakhmat dengan anteng di warung kopi. Setidaknya dari bacaan itu kalian tidak terjebak ke dalam fallacy of dramatic instance, yang selalu memiliki kecenderungan melakukan over generalisation terhadap mahasiswa tua dengan menggunakan satu-dua kasus untuk mendukung argumen/kesimpulan yang bersifat umum. Seperti kasus si Kawan Sejawad.
Ya, seperti kasus si Kawan Sejawad. Bukan karena alasan diputus akibat mahasiswa tua itulah yang membuat malam itu jadi malam yang haru-biru. Juga bukan dikarenakan sepetak tanah yang telah Ia siapkan lama-lama hari untuk menikahi mantan tambatan hatinya itu pula yang menjadikam malam itu tak ubahnya seperti sinema film FTV atau Indosiar penuh drama. Bukan.
Tetapi, tentang bagaimana ternyata perjuangan si Kawan Sejawad untuk memperjuangkan kuliahnya ditengah Ia tidak mempunyai biaya –atau tepatnya tidak ada yang membiayai kualiahnya, dan harus pontang-panting kerja paruh waktu sana-sini dan kesana-kemari untuk mendapatkan biaya. Dan harus sampai hati pula cuti beberapa semester dipertengahan jalan. Eh, dilalah, tambatan hati yang mulanya jadi pelipur lara kala Ia mengarungi jalan setapak penuh krikil dan batu-batu cadas penuh hambatan menuju masa depan itu, malah mengambil sikap yang tak kalah maha kejamnya daripada sikap Zainuddin.

Adakah kesalahan pada diri Kawan Sejawad itu jadi mahasiswa tua? Hingga kalian tetap akan berceloteh kalau mahasiswa tua itu ‘menuh menuhin kursi kelas’ dam harus segera cepat minggat. Benar-benar salahkah jalan yang diambil Kawan Sejawat itu? Pontang-panting kesana-kemari agar kuliahnya tetap berjalan meski telat. Atau lainnya juga secara umum, salah apa mereka jadi mahasiswa tua? Bukankah tiap orang atau mahasiswa (tua) punya jalan-nya masing-masing untuk mengarui sesuatu, baik itu secara pilihan prinsipil dan ideologis dan atau bahkan karena nasib. Bukankah tiap kesimpulan harus berbanding lurus dengan latar belakang pada bab 1 –kalau nulis karya ilmiah? Apakah latar belakang tiap mahasiswa tua itu sama secara umum? Hingga teganya kalian langsung menyimpulkan seenak udelnya.
Toh, kalau memang mau ikutan songong-songongan kayak tipikal mahasiswa ‘yang itu’; “Yang bayar biaya kuliah toh bukan kalian juga. Yang punya urusan masa depan bukan juga kalian yang repot. Yang punya masalah dengan urusan akademik juga bukan kalian yang pusing. Ngapain sih ngurusi kuliahnya orang lain?” katanya. Jadi, letak kesalahan mahasiswa tua itu ada dimana? Tolong beritahu kami jangan cuma nyeletuk dan menghina saja.
Bukankah hanya satu kesalahan pada mereka/kami. Iya, hanya satu saja: Kuliah ditahun yang lebih dulu daripada kalian –jadi sama saja.

Note: Tulisan ini ditulis ditengah sela-sela kesibukan menulis skripsi yang maha telat minta ampun. Jadi tulisan ini sama saja dibaca oleh kalian, Masasiswa Tua. Tidak ada pembelaan. Cepet garap skripsi kalian, Mahasiswa Tua. Kalian bukan hama atau selilit atau sampah yang harus segera dibuang atau dibakar. Kalian hanya beda atau terlambat memahami konsep tatanan waktu. Tetapi itu tak apa, setidaknya lebih baik terlambat wisuda daripada terlambat menyadari kalau kalian adalah pilihan kedua ketika dia bosan –seperti nasib si Kawan Sejawad.

Friday, June 1, 2018

Aku Masih di Sana: Masih Seperti Dulu

Laki-laki dari masa lalunya itu adalah sebuah puisi nostalgia, cinta, tekad, harapan, nada, kebiasaan, dan serta sabda mimpi-mimpi yang kini telah mulai tertimbun oleh serakan waktu bersamaan dengan me-ngaratnya besi-besi tua dan kaleng-kaleng bekas. Tapi, perempuan itu masih di sana. Masih seperti dulu. Seperti ketika ia mulai menjatuhkan hatinya kepada laki-laki itu. Tidak ada yang berubah. Masih sama.

Ya, puisi itu memang terbilang aneh bila kita katakan sebagai sebuah harapan dan tekad, karena semua itu hanya akan menyisakan romansa melankolis yang begitu dingin dan sepi bila kembali dikenang. Tapi, dia sangat tahu itu. Dan perempuan itu pun terkadang begitu ragu terhadap keyakinannya, melalui puisi itu, laki-laki dari masa lalunya itu akan menoleh kembali padanya, dan serta menatap kembali kenangan tentang bagaimana cerita cinta mereka dahulu mampu mengilustra-sikan mimpi harapan dan tekad dari sebuah puisi.

Lihat, Sayang, malam ini langit telah menampakkan bulan begitu sempurna di pertengahan bulan Juni, sama seperti dulu” ucap perem-puan itu lirih. “Tetapi, tidak seperti bulan itu, kenapa kita harus dingin hati dan begitu lupa rasa? Bukankah kau bilang padaku bahwa ceritaku adalah ceritamu, sebagaimana ceritamu adalah milikku? Lantas, kenapa pula kita harus memperdebatkan perbedaan yang hanya berakhir sia-sia itu? Kenapa kita tidak merabai kata yang terlukis di bulan malam itu saja, tentang sebuah puisi yang menceritakan betapa pengapnya rindu kita.”

Perempuan itu masih tenggelam-hanyut dalam nuansa sesak hati dari sebuah puisi nostalgia itu. Dia masih menopangkan dagu dengan telapak tangan kirinya, dan tatapan matanya masih tertahan begitu bisu memandangi bulan. Bulan itu seolah banyak menyimpan cerita tangis. Ada rasa yang tertahan tidak pasti dan tidak menentu dari balik cerita bulan malam itu, seperti ada tenggelamnya irama hati dari masa lalu. Dan sebuah puisi nostalgia, cinta, tekad, harapan, nada dan kebiasaan, tiba-tiba membuat kepiluan hatinya merinaikan rasa sakit bersamaan rinai cahaya bulan. Seketika itulah kenangan perempuan itu pecah.

“Kenapa kau masih hanyut-tenggelam dalam ceritamu, terjebak dalam nostalgiamu?” sebuah suara tanya dari laki-laki yang duduk tepat di sampingnya menegur.
“Aku butuh waktu. Sama seperti bulan itu membutuhkan waktu untuk merinaikan cahayanya sebagai purnama, aku juga butuh waktu untuk melenyapkan nostalgiaku,” jawab perempuan itu tanpa sedikit pun menolah ke arah suara yang menegur.
“Aku bisa memahami perasaanmu, tapi aku lebih nyata daripada nostagia yang kau simpan itu.”
“Jangan sok mampu memahami rasaku. Kalimat ‘aku bisa mema-hami perasaanmu’ adalah kalimat ter-bullshit yang pernah kudengar,” jawabnya perempuan itu dengan nada kesal.

Perempuan itu masih menggerutu kesal dalam hatinya. Ditatap-nya laki-laki di sampingnya yang hendak mencoba menjadi kekasihnya. Akh, betapa bullshit-nya tatanan kalimat ‘aku memahami perasaanmu’ itu: memang mampukah dari kita merasakan tentang kepedihan cinta dalam hati orang lain? Bahkan, jika orang-orang yang kaya dan paling berkuasa di dunia ini pun ditempat-posisikan pada diri kita, benar-benar mampukah mereka memahami segenap persoalan kesedihan yang kita rasakan secara utuh?

“Bahkan,” lanjut perempuan itu meneruskan jawabannya pada laki-laki yang duduk tepat di sampingnya itu. “Sekalipun seorang penulis cerita terkemuka di dunia ini melongok dan bahkan sampai menyusup ke tiap-tiap sudut terpencil kehidupanku untuk memahami penderitaan yang aku pendam, sangat mustahil baginya untuk menerjemahkan rasa ketersesatanku dan kepedihan yang kusimpan dalam cerita ini.”    
--------------------------------------------
Memang ada rasa ketersesatan tidak pasti dan menentu tampak merinai begitu tegas dari balik raut muka perempuan itu. Perempuan itu seperti menjelmakan bak sebuah labirin, tempat di mana kita biasa tersesat dengan segala kerumitan kata yang amat sukar kita bahasakan.

Satu waktu, laki-laki itu pernah mencoba hendak mendekat pada labirin itu, mencoba merabai berbagai kata yang dihadirkan perempuan itu untuk didefinisikan sebagai kebahagiaan sederhananya, tetapi laki-laki itu selalu saja gagal dan merasa tidak mampu menerobos masuk pintu pembatas antara dirinya dan perempuan itu. Pintu pembatas itu seolah menandakan bahwa ada perbedaan yang tegas antara dirinya, hingga seolah dia merasa benar-benar tidak akan mampu menjemput seonggok hati berbentuk cinta dari perempuan tersebut.

“Kenangan adalah sesuatu yang aneh, karena hanya hadir ketika kesemuanya telah berlalu, mengiyang-ngiyang, dan serta membuat kita rindu ingin mengulangnya kembali. Tetapi, begitulah takdir kenangan. Tidak bisa dilawan dan tidak bisa diubah. Hanya bisa diobati,” kata laki-laki itu mencoba memecahkan keheningan malam, yang ternyata masih berada duduk tepat di samping perempuan itu.
“Tapi, kenangan itu adil. Kenangan tidak melihat dan memandang siapapun. Baik yang kaya maupun yang miskin, yang baik maupun yang jahat, yang pintar maupun yang bodoh, bahkan yang rupawan maupun yang buruk rupa, dan kesemuanya, oleh kenangan, akan dikenangi kenangan yang setimpal terhadap pengalamanya masing-masing,” kata perempuan itu menjawab tanpa lagi-lagi menoleh ke lawan bicaranya.
--------------------------------------------

Bulan purnama di langit masih menggantung, dan rinai cahayanya menguningi semua benda-benda langit yang berada dalam jangkauan edarnya, tapi dengan serta-merta, tanpa salam dan seperti tidak tahu adab, rinai cahaya bulan menjemput kenangan perempuan itu pada ingatan beberapa tahun lalu. Itu terjadi pada sebuah kenangan di mana perempuan itu masih bisa menyandarkan kepalanya begitu mesra pada laki-laki masa lalunya. Laki-laki yang menjadi puisi nostalgianya.

“Ketika cinta adalah sesuatu yang hakiki untuk membuat manusia merasai kebahagiaan di dunia ini, kenapa harus ada kata ‘keterpisahan’ dan ‘keterberaian’? Aku rasa hidup manusia akan lebih menyenangkan jika kedua kata tersebut tidak lagi punya eksistensi,” kata perempuan itu memulai pembicaraannya sambil masih menyandarkan kepalanya pada bahu laki-laki dari masa lalunya.
“Manusia biasa tidak akan mampu memahami alasan ‘kenapa’ dari kedua kata tersebut harus ada. Itu terlalu berat untuk kita pikirkan. Tetapi, yang pasti, hubungan yang berlandaskan cinta akan berlangsung bahagia selamanya,” jawabnya laki-laki dari masa lalunya.

Perempuan itu tersenyum bahagia mendengar jawaban si laki-laki masa lalunya. Warna pipinya terlihat seolah telah berwarna rona merah karena didekap rasa bahagia bercampur malu yang hadir bersamaan dan tidak bisa dia tampung dalam hatinya, dan kemudian perempuan itu berkata kembali.

“Harusnya kebudayaan umat manusia ini membuat satu kata baru yang dapat mengarti-jelaskan rasaku tentang hubungan kita ini, Sayang. Satu kata baru yang benar-benar dapat menjelaskan apa yang kurasa-kan kepadamu. Satu kata di atas kata ‘sayang’, dan satu kata di atas kata ‘cinta’. Karena, kata ‘sayang’ dan ‘cinta’ tidak mampu menampung arti rasa yang kurasakan padamu.”

Laki-laki dari masa lalunya itu hanya terdiam kaku kala mendengar perkataan perempuan itu. Laki-laki masa lalunya itu merasa seperti ada satu rasa dari suatu harapan yang menggumpal begitu kuat, kukuh, dan sangat besar dari dalam diri perempuan itu.
  
Rasa itu memang masih menjadi sesuatu yang begitu samar dan sangat kasat mata untuk diterka dengan pasti tentang ‘rasa apa itu’ oleh laki-laki dari masa lalunya tersebut. Sepertinya, seperti sebuah rasa dimana ketika harapan yang diinginkan tidak berhasil dia jemput, maka terjatuhlah dia dalam sebuah permainan labirin yang akan menyesat-kannya dalam memahami mana yang nyata dan mana yang seharusnya hanya fana. Atau, setidaknya yang mana adalah masa lalu.

“Kamu harus membuka mata untuk kenyataan ini. Antara harapan dan kenyataan begitu tegas berbeda walau tidak kontradiktif. Tetapi, apa yang tampak tak seperti yang ditampakkan, dan apa yang kita lihat tak seperti yang dilihat. Begitu pun antara aku, kamu, dan cinta kita.”
“Kenapa kau berkata seperti itu? Apa kau tidak percaya dengan cinta? Apa kau sudah tidak lagi mencintaiku? Ataukah, kau sudah tidak percaya bahwa kita akan bahagia selamanya?” tanya perempuan itu membalas perkataan laki-laki dari masa lalunya itu seperti sebuah hujan deras yang tidak bisa lagi kita bendung.
 “Aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu. Sebentar lagi kita akan menikah dan bahagia. Hanya tinggal melihat bulan di atas kita ini berputar dan berganti 3 kali purnama kita akan langsung menikah dan akan bahagia. Tolong jangan ragukan cintaku,” jawab laki-laki dari masa lalunya itu untuk mencoba menenangkan perempuan itu dari pertanya-an debat yang mulai meragukan bahwa dia benar-benar mencintainya, sembari laki-laki dari masa lalunya itu tetap mengelus halus kembali rambut hitam pekat perempuan itu.

Tapi, kenapa rambut hitam ini seolah lebih pekat dari biasanya?” pikirnya laki-laki dari masa lalu itu yang baru saja menyadari perbedaan warna pekat tersebut. Yang seolah, dalam pikiran laki-laki masa lalu itu, warna rambut lebih pekat dari biasanya itu adalah seolah sebuah firasat tertentu tentang masa depan milik perempuan yang dia cintainya. “apa itu?” laki-laki dari masa lalu itu mencoba menerka dalam pikirannya.  

Ya, tiga bulan dari percakapan itu harusnya mereka telah menikah. Sebuah puncak dari ikatan kisah cinta untuk membina suatu keluarga, menjadi sepasang suami-istri. Harusnya, pernikahan itu terbilang lancar dan akan berakhir bahagia, sebelum kemudian, satu bulan menjelang pernikahan mereka tersebut, sebuah truk bergandeng dengan tanpa gerutu dan tanpa siasat melindas remuk-habis sebuah sepeda motor yang dikendarai laki-laki dari masa lalu itu, dan membuatnya meninggal seketika di tempat, di pertigaan jalan Pahlawan Tanpa Belas Kasih di Kota Surabaya, tanpa pamit dan tanpa firasat.

Mendengar kabar bahwa laki-laki dari masa lalunya itu meninggal kecelakaan, tanpa pamit dan tanpa adanya firasat, membuat dia shok dan lantas jatuh pinsan tanpa sadarkan diri. Itulah saat-saat di mana laki laki dari masa lalunya menjadi sebuah puisi nostalgia baginya, dan serta seketika membuat bahasa kebahagiaannya tertelan bersamaan dengan jalan aspal yang mengelupas dan penuh luka di tempat laki-laki dari masa lalunya meninggal kecelakaan. Ia telah masuk dalam dunia labirin.
--------------------------------------------

“Harusnya memang ada obatnya. Seperti sebuah penyakit kronis ada obatnya, kenangan pun harus ada obatnya untuk sembuh,” kata laki-laki yang masih berada di samping perempuan itu berkata kembali, dan membuat perempuan itu tiba-tiba saja meninggalkan dunia masa lalunya dan beralih menuju ke ruang kehidupan lebih nyata –mungkin.

“Ya, harusnya ada. Tapi, aku masih di sana, masih bersama sebuah puisi nostalgia, cinta, tekad, harapan, nada, kebiasaan, dan serta sabda mimpi-mimpi yang telah tertimbun oleh serakan tumpukan waktu. Aku masih seperti dulu. Tidak berubah. Seperti ketika aku mulai menjatuh-kan hati padanya. Maaf, aku belum bisa membuka pintu pembatas itu padamu,” jawab perempuan itu, sembari kemudian berdiri dan melang-kah pelan meninggalkan laki-laki yang sejak sedari tadi menemani tepat di sampingnya.

Laki-laki yang berada tepat sedari tadi disamping perempuan itu hanya bisa melihat perempuan itu melangkah pergi meninggalkannya. Ingin rasanya dia mencegah, tapi ia ingat ada sebuah pembatas antara dirinya dan perempuan itu. “Memang butuh waktu,” pikirnya. Dilihat-nya kembali langkah kaki dari perempuan itu dari belakang, ternyata masih saja menjelmakan sebuah labirin. Laki-laki itu sebenarnya ingin sekali merabai kesukaran kata dan bahasa yang dijelmakan perempuan itu, tapi selalu saja gagal.

Bersamaan dengan kesukaran kata yang amat susah oleh laki-laki itu bahasakan, sebuah puisi baru datang menghampirinya. Puisi itu tiba-tiba saja datang menghampirinya entah dari mana. Puisi itu seperti memberinya sebuah nutrisi, kesegaran, vitalitas, dan serta kehidupan baru. Sebuah puisi yang hanya mampu dipahami bagi mereka yang sangat percaya bahwa hanya cintalah yang membuat kehidupan ini akan bahagia selamanya. Sebuah puisi yang menerangkan rasa satu kata di atas kata ‘sayang’ dan kata ‘cinta’.

“Sama,” kata laki-laki itu berkata dengan sedikit mengeraskan suaranya supaya terdengar si perempuan itu. “Aku juga masih di sana. Tepat berada di depan pintu pembatasmu. Aku masih menunggumu di sana. Tapi bukan bersama puisi nostalgia, melainkan bersama sebuah puisi optimisme, cinta, tekad, harapan, dan serta sabda mimpi-mimpi untuk masa depan.”

Perempuan itu menoleh pada arah suara, dan lantas ditatapnya mata laki-laki yang kini tidak lagi duduk tepat di sampingnya itu. Dan sepertinya biasanya dan kebiasaan perempuan itu, ketika meninggal-kannya, tidak lupa memberikan sebuah usapan senyum begitu halus menyelinap masuk pada dinding hati laki-laki itu. Laki-laki itu pun juga tersenyum menerima usapan senyum itu. Tapi, itu bukan senyum cinta meskipun begitu halus mengusap hati. Dan memasuki pintu rumah, sosok perempuan itu pun hilang dalam pandangan mata laki-laki itu.

“Butuh waktu,” kata laki-laki itu berucap lirih. “Ya, memang butuh waktu agar ibumu dapat mencintaiku, Nak. Sama seperti bulan yang membutuhkan waktu supaya dapat merinaikan cahaya purnamanya, Ibumu juga membutuhkan waktu menerimaku sebagai suaminya, Nak. Butuh waktu, Nak” lanjutnya laki-laki seolah berkata pada anaknya yang kini mungkin telah tidur bersama perempuan itu.

Tuesday, May 1, 2018

Waktu, Kenanglah Aku

Ada rasa yang selalu ingin meloncat tak tahu diri tiap kali aku mengenangmu. tatapan matamu yang tajam tapi masih mengerlingkan sisa kepolosan dari masa kanak-kanakmu, selalu membuatku terjebak dalam segenap angan yang kubayangkan di masa lalu. dapatkah kau merasakannya? kekakuanku yang tak dapat dijelaskan, dan keragu-raguanku menatap matamu secara langsung saat berada di dekatmu.

Kumohon katakan padaku: apakah jatuh cinta membuat orang jadi bodoh, ataukah hanya orang bodoh yang dapat jatuh cinta? bisakah kau menjelaskan padaku? aku tahu bodoh dan pintar memiliki makna perbedaan yang tegas. tapi, dalam cinta –ini yang kurasakan, telah membuat keduanya jadi semu, seperti kepingan salju yang hilang ditelan waktu dan malam.

Entah aku harus memulai ini dari mana. penyesalan yang kian lama kian menggerogoti hati, dan serta ketakutakan yang kini telah menyelimuti berbagai impian yang kususun rapi seperti puzzle, yang hanya terisi bayangmu, seketika mulai berhamburan bagai pecahan logam. jatuh berkeping-keping tak beraturan. maafkan aku yang terlambat menyadari.

Ini mungkin hanya permainan kiasan yang terbilang hiperbolik: tapi, tiba-tiba malam saja melabrakku dalam kenangan. seiisi ruang kamar seketika mengundang gelap seperti dihujani tinta hitam, tanpa gerutu dan tanpa siasat. itulah saat di mana aku mulai mengenangmu kembali, melalui celah yang begitu sempit di ingatan, dan lantas melemparkan ku pada masa lalu.

Kala itu senja masih menggantung di ufuk barat. sembari membiarkan dirinya bersiap-siap lenyap oleh waktu, perlahan namun pasti, senja berubah menjadi keremangan gelap malam yang begitu menyedihkan. bau deburan ombak dan desiran angin dari pantai, menyelinap tanpa permisi menusuk ke bagian tubuhku hingga ke sumsum tulang. kenangan itu masih tersimpan rapi seperti permintaanya. kalimat-kalimat yang diucapkannya pun masih teramat jelas dan tegas bila disebut sebagai kenangan masa lalu, seolah-olah, dalam perasaanku, dia baru saja mengatakannya.

“Bisakah kau tetap mencintaiku?” dia bertanya sembari menopang dagu dengan telapak tangan kanannya.

Aku tidak pernah tahu mengapa dia berkata seperti itu. ada rasa kaget sebenarnya. dia pun sangat tahu kalau aku tidak pernah percaya dengan kata ‘tetap’ atau ‘abadi’ selama manusia masih terikat waktu. jujur bila kukatakan, aku teramat benci terhadap waktu. waktu membuat apa yang kita miliki jadi fana. selama waktu masih mengikat kita, satu waktu kataku padanya, jangan pernah berharap apa yang kita rasakan atau apa yang kita miliki akan abadi. keindahaan, kasih sayang, cinta, dan maupun lainnya yang diharapkan kita sebagai perwujudahan kebahagian hanya akan berakhir sia-sia, serta membuat kita kecewa. waktu membuat kesemuanya jadi fana.

“Bisakah kau tetap mencintaiku?” ulangnya bertanya.

Aku masih diam belum menjawab, tapi sembari mengolah kata-kata yang tepat agar tidak kecewa mendengar apa yang jadi jawabanku. sebenarnya jawaban dari pertanyaan itu sangat mudah; tinggal bilang ‘ya’ atau ‘tidak’. tapi, entah kenapa aku begitu susah memilih tenunan kata sebagai kalimat penjelasan. sebelum menjawab kulihat dia sepintas, dan sebaris senyum itu masih tetap terulas indah di wajahnya, seolah-olah, dalam pikirku, senyum itu dipertahankan supaya diberi jawaban seperti yang dia harapkan. belum tahu, jawabku.

“Seperti halnya alasan kenapa aku bisa mencintamu yang sampai saat ini masih belum kuketahui jawabannya, kukira pertanyaan tadi sama begitu susahnya kujawab. tapi, bukan berarti aku membiarkan pertanyaan itu menggantung, tidak. aku memang tidak tahu jawabannya. maaf,” kataku meneruskan.
“Ya, seperti dugaanku, kau akan menjawab seperti itu. tidak perlu merasa terbebani dengan pertanyaan tadi, jadi tidak perlu minta maaf. tapi mendengar jawabanmu yang penuh pertimbangan, ini baru pertama kalinya. sebelumnya? tidak. dan dari sini aku punya satu kenyakinan pada suatu waktu kau akan menemukan jawabannya. entah itu melalui aku atau orang lain, aku tidak tahu. tapi ini hanya firasat saja, jadi tidak perlu dipertanyakan.”

Kini sudah sepuluh tahun kenangan itu berlalu. Bila aku mengenang percapakan kala itu, aku merasa sedih. Tentu tindakan sedih adalah tindakan sia-sia belaka, aku sangat tahu. dan waktu pun tidak akan kembali terulang dengan merasa sedih, tapi demikianlah perasaan itu muncul saat mengenangnya. dan apa yang jadi firasatnya kalau kelak nanti aku akan menemukan jawaban itu, memang benar, tapi setelah bertahun-tahun percakapan itu telah berlalu. menambah kesedihan yang begitu nelangsa lagi, adalah saat aku mengenang permintaannya.

“Aku harap sampai kapanpun kau tidak melupakan aku. kenanglah aku. walaupun waktu akan mengikis kebersamaan kita menjadi puing masa lalu, kuharap di bagian petak ruang ingatanmu masih bisa menyimpan rapi kenangan kita,” katanya.

Bagaimana tidak membuat bertambah merasa sedih dan nelangsa: dia yang pernah bertanya bisakah aku tetap mencintanya dan memintaku mengenangnya, ternyata tidak sedikitpun mencintaiku. “terus, kenapa dia bertanya dan meminta demikian?” kukenang pertanyaan dan pernyataan itu. seketika itulah tangisku pun pecah, aku baru menyadari: cinta memang tak terikat waktu dan tak pernah tepat waktu. dan kuambil undangan pernikahan esok hari yang menerangkan namanya. maafkan aku yang terlambat menyadari cinta.

Sunday, April 22, 2018

Le coup de foudre


Katakanlah apa yang kita cari adalah kebahagian. Kebahagian sendiri, meskipun terdengar sangat klise disampaikan, diselimuti oleh cinta. Benarkah memang begitu adanya? Entahlah. Dalam penggalan lirik Dewa 19: Cukup Siti Nurbaya, satu nada menyabdakan bahwa “hanya cinta yang sanggup sejukkan dunia”. Aishh, cinta.... Lagi-lagi cinta. Terkadang aku memikirkannya juga. Terlebih cinta yang tumbuh pada pandangan pertama.

Le coup de foudre” bangsa Prancis mengkalimat istilah “cinta pada pandangan pertama”. Secara harfiah istilah tersebut bermakna halilintar atau petir. Tapi jika kedua pasang mata bertemu saling bertabrakan hingga membuat detak jantung berhenti seketika, “le coup de foudre” berurusan dengan emosi yang bisa menghilangkan keseimbangan jagat. Logika kita lumpah. Segenap rasionalitas akal yang biasa menghubungkan premis mayor dan minor tidak lagi menemukan kesesuaiannya dalam membentuk konklusi. Sesat pikir.

Bagimanapun juga cinta pada pandangan pertama adalah cinta yang menggelora. Bagaima tidak. Cinta pandangan pertama itu tentang keinginan untuk menelusuri suatu hal baru dan begitu asing, seperti sebuah peta yang haus dijelajah. Aku baru menyadari itu belakangan. Ketika mata itu menabrak pandangku, tiba-tiba saja aku merasakan ketidak-seimbangan. Akal mulai dikesampingkan. Hanya hati yang berkendak. Aku juga merasakan bahasaku telah tertinggal pada pertemuan itu. Benar-benar terseret dalam satu nuansa.

Jika nuansa “le coup de foudre” ini diilustrasikan dalam sebuah miniatur lukisan seperti karya empu-empu Timur Tengah, aku tidak yakin apakah mereka, para empu itu, bisa menggambarkan perasaanku yang terseret, seolah menyelusup memasuki sebuah dunia dalam senjakala, di mana alam semesta terasa tertelan oleh ketidak-seimbangan seberkas cahaya kuning, dan serta seonggok hati yang mulai mau meloncat menyapa cinta itu, dalam sapuan warna-wanri yang tepat dan pas.

Friday, April 20, 2018

Penutup Kepengurus di HMI: KPC


Benar yang disampaikan empunya Fisika, Albert Einstein, melalui konsekuensi relativitas khususnya –dilatasi waktu, bahwa gerak waktu bisa terasa begitu lambat dari ketentuan sebenarnya bila kita rasakan, dan sebaliknya, bila kita menengok serpihan kenangan yang telah tersimpan rapi dalam ingatan, waktu seolah bergerak begitu cepat, pun kami rasa baru kemarin lalu kami dilantik. 
Tentu persoalan di atas  bukan untuk memelankoliskan waktu terhadap suatu kenangan selama jadi pengurus KPC, melainkan telah menjadi sifat dasar dari ruang-waktu yang dijelaskan dalam teori relativitas bila coba kami uraikan dalam tenunan kalimat rasa. Tapi hakekat waktu tetaplah waktu, mengikat kita di tiap dimensi bila ruang tetap menyediakan dimensi gerak, perubahan.
Akhir kisah, tibalah kami pada suatu waktu dipengujung cerita, pada satu tempat pemberhentian yang telah kita ketahui, mengembalikan amanah yang kami emban. Kabut tipis pun pelan–pelan jatuh di lembah Himpunan Karangkajen, dimana kita pernah berdiri tegak dan terduduk diam di dalamnya. 
Dan apakah kalian masih selembut dahulu? Meminta kami berdiskusi tentang arah perkaderan HMI di masa yang datang, sembari diseduhkan secangkir kopi hitam yang selalu menyimpan cerita hangat dalam tiap seduhannya. Kita memang bisa berbeda dalam tiap hal, tapi HMI telah membingkai kita dalam kata Himpunannya.
Terimakasih telah mempercayakan Bidang ini pada kami.

Thursday, April 19, 2018

Tentang Sandal


PROLOG: Agus Mulyadi –redaktur mojok.co, masih sibuk membandingkan sandal swallow dan sandal hotel. Yang katanya, seprestisius apapun sandal hotel, ia tak akan pernah bisa membawamu berjalan jauh, sebab sejatinya, ia hanya sandal spons yang ringkih dan murahan. Sebaliknya, sejelata apapun sandal swallow, ia akan selalu siap kau ajak menyusuri jalanan yang jauh dan terjal sekalipun, sebab ia adalah sandal karet yang kuat dan nyaman.
--------------------------------
Tatkala kami masih sibuk membandingkan sandal hotel dan swallow, datanglah laki-laki berbadan tegap, memakai tas kecampang, dan bersandal eiger. Dari perawakannya bisa ditebak kalau dia adalah seorang pendaki. Setelah memesan kopi kental, dia mengambil tempat duduk tetap di depan kami.

Bagaikan seorang waliyullah, dia langsung menimpali obrolan enak kami seolah dia telah mendengarkan isi percakapan kami dari perjalanannya menuju ke kedai bento kopi. Dan, berkatalah dia bak sebuah sabda. “Memilih sandal bukan perkara mudah dan gampang, cong. Butuh laku spiritual tinggi dalam memilih sandal yang pas untuk kita,” kata laki-laki itu memulai pembicaraannya.

Lalu kopi kental yang dia pesan, datang. Dia menyeruput kopi kental itu dengan khusyu’, sembari setelahnya menyalakan sebatang rokok apache. Tempias cahaya dari percikan api korek kriket itu menunjukkan tulang pipinya yang menonjol, petanda dia adalah penantang maut. Dengan air muka tampak serius, dia melanjutkan sabda-sabdanya bak sebuah hadist rosulullah.

“Dalam perjalananku yang jauh dan terjal, sudah tak terhitung meminta tumbal berbagai macam sandal. Semuanya berakhir dengan tragis. Kualitas material dan desain –yang pastinya menunjukkan kedalaman ilmu laku spiritual pembuat sandal– sangat berpengaruh pada kehandalan sandal, dan dari semua itu ada satu sandal.”

Kami yang mendengar perkataaan dari laki-laki yang mendakukan diri sebagai si pejalan jauh dan terjal, takjub, pun sembari menunggu sabda penutupnya. “Pada akhirnya, cong, hanya sandal eiger-lah yang sanggup menuntunku menuju puncak spiritualitas tertinggi. Bukan sandal swallow dan hotel, ataupun sky way dan lily,” kata si pejalan jauh dan terjal bersabda tegas.

Kawan-kawan yang budianduk, eh budiman-budawati, seperti kata Agus Mulyadi, kami memang sedang berbicara soal sandal, bukan soal cinta. Tapi silakan jika kalian mau menarik garis lurusnya. Sebab, pada akhirnya cinta adalah persoalan perjalanan jauh dan terjal.

Tuesday, April 3, 2018

Era Milnial, Tantangan Perkaderan HMI


Secuap Keresahan
Perkaderan HMI memang tak ada habisnya diulik. Ia seolah Pancasila yang tak hentinya dikaji di tengah keterasingannya pada babak politik identitas. Ruang-ruang diskusi pun masih banyak diisi olehnya –Perkaderan. Entah dipahami atau tidak itu lain persoalan. Bahkan diujung kegalauan, tatkala kebisingan perubahan zaman mulai mengendap di permukaan, tak pelak seputar relevansinya pun dipertanyakan: Benarkah Perkaderan masih relevan? Bukankah zaman sudah berubah? Bukankah Perkaderan harus mengikuti zaman? Ataukah, zaman harus mengikuti Perkaderan?

Tentu persoalan di atas bukanlah ruang sakral yang tak bisa kita ulik atau dikotak-katik. Toh, meskipun Perkaderan memiliki kedudukan yang sentral tentang mati-hidupnya HMI, Perkaderan (red: Khittah Perjuangan dan Pedoman Perkaderan) bukanlah kitab suci yang tak lepas dari kritik/pembenahan. Terlebih, Perkaderan kita tidak mengalami perubahan (lokakarya) sejak tahun 2006. Lebih dari satu dekade, bayangkan!!

Banyak desiran angin mulai mengembuskan persoalan Pedoman Perkaderan harus segera dilokakarya. Perubahan, atau setidaknya pengkajian kembali penting, bisik-bisik menyeruak di gendang telinga. Tapi itu hanya berhenti pada bisik-bisik saja, masih seperti biasanya. Aishhh........ sangat klise dan begitu ironis. Bagaimana tidak. Organisasi yang sejak berdiri telah memproklamirkan perkaderan sebagai pusat jantungnya ini malah mengalami kemandekan. Apakah kita terlalu naif untuk tidak menilik persoalan ini?

Mengintip Era Milenial, Menelaah Perkaderan
Dunia telah menujukkan perubahannya. Wajah zaman kini jauh sangat berbeda dengan zaman saat HMI berdiri. Kita telah masuk pada satu fase zaman yang disebut era milenial. Milenial sendiri pertama kali diperkenalkan Karl Mannheim dalam esainya: “The Problem of Generation” pada tahun 1923. Yaitu, sekelompok orang yang lahir setelah Generasi X: kisaran tahun 1980-2000-an.

Generasi era milenial ditandai dengan penggunaan teknologi dan budaya pop/musik. Banyak yang mengemukakan bahwa generasi ini memiliki kecenderungan berfoya-foya, hedonis, dan membanggakan pola hidup bebas. Tidak sedikit pula yang mengatakan bahwa karakteristik generasi ini adalah apatis dan individual. Tidak peduli terhadap keadaan sosial. Apalagi disuruh mengerti dunia politik dan perkembangan ekonomi kita.

Bersiaplah menaruh kekecewaan, jika seandainya hal itu benar-benar didata dan diteliti. Dalam kerangka dan konteks itulah tantangan HMI semakin berat, baik internal (perkaderan) maupun eksternal (perjuangan). Padahal, roda organisasi harus terus dikayuh menuju tujuan muara kebahagiaan dan kemakmuran yang hakiki. Sebab itu, HMI harus mampu beradaptasi, menyesuaikan student need dan student interest.

Student need dan student interest adalah persoalan yang harus kita teliti untuk menelaah Perkaderan HMI. Apakah Perkaderan harus disesuaikan dengan student need dan student interest, ataukah para mahasiswa harus menyesuaikan Perkaderan HMI. Tentu perkaderan HMI yang mengasaskan Islam sebagai gerak dasarnya masih sangat relevan untuk disesuaikan. Terlebih, kerelevanan ini sebagai bentuk siar HMI yang sejak keberdiannya ingin membumikan Islam.

Mungkin persoalan yang paling muluk yang harus diperhatikan adalah, bahwa generasi milenial merupakan generasi yang posivistik. Yakni, mengukur apa yang dijadikan tindakannya dalam takaran untung-rugi. Inilah yang harus ditilik oleh perkaderan HMI. Tidak hanya sibuk terhadap nilai-nilai perkaderan yang sangat universal, setidaknya bagi penulis: sangat fundamentalis. Itu memang tidak mengapa dan tidak salah.

Sudah saatnya Perkaderan HMI mulai melihat betapa postivistiknya mahasis-wa era milenial ini melihat segala sesuatu. HMI harus mulai melihat mahasiswa dalam bentuk 3 fakultas, sains, sosial, dan agama. Ketimpangan 3 fakultas ini sangat terasa di perkaderan HMI –dalam kegiatan. Pembicaran sains tidak memiliki ruang dalam perkaderan HMI. Terlebih era milenial ini juga ditandai oleh teknologi. Terakhir –bagi penulis, HMI sudah saatnya menyayapkan Lembaga-Lembaga Kekaryaannya untuk menyikapi era milenial ini sebagai bentuk perkaderannya. Karena Lembaga Kekarya-an sebagai institusi yang menampung student need dan student interest.

Saturday, March 31, 2018

Sajak Liar: Tanpa Judul

Dipengujung waktu, dipersimpangan jalan himpunan,
Kau tak pernah tahu kalau bahasaku telah tertinggal
Tertinggal bersama rasa ingin tahuku tentangmu
Makin hari, makin subur rasanya bunga-bunga itu,
Tumbuh bersama angan dalam semua kemungkinanku denganmu

Awalnya kubiasa-biasa saja, tak merasakan apapun
Tak ada istimewa, dan tak ada spesial juga tentunya
tapi, siapa yang bisa melawan hati?
Hati tetaplah hati, bukan akal yang bisa berlogika
“Hidup memang sederhana” –Kata kebanyakan orang berkata
tapi bagaimana kita bisa menyederhanakan hati manusia –cinta?

Lambat laun semua berubah, seperti ada yang lain
Tentu kelainan ini bukan dari negara api yg menyerang
Lain, ini memang lain. Kelainan ini bak sebuah fatamorgana,
Yang tatkala kau mendekat, sesuatu itu langsung menghilang

Usut punya usut, penyebab utamanya adalah kamu
Ya, kamu yang pernah jawab ‘Ya’ dalam permainan logika

Diam, adalah kata yang tepat tuk menggambarkannya
Karena secara diam, bebayangmu diam-diam menyusup perlahan,
Menyelinap ke dinding hati yang dulu pernah sempat terjamah,
Merajut serpihan kasih dari benang asmara yg telah kusut
Pertahananku pun jebol, pintu hati kembali terbuka
dan secara diamnya kau berhasil masuk di satu petak ruang hati

Aishh...sial, keluhku. Hati yang belum sembuh total ini
Yang masih dalam tahap proses pemulihan
Yang dulu pernah tersakiti, 
Kembali terketuk

Bersama angan, kumulai mengaksarakanmu dalam kata
Kata yang sekian lama terlantar dibalik kursi itu, kuambil
Kususun kata-kata itu menjadi wajahmu
Hanya perlu goresan kecil kuperbaiki rambutmu yg hitam pekat
Senyummu pun tersimpul mesra ditiap derit gerak penaku

Hey....Kau tahu? Kata-kata itu memegang hidungku
Kurasai kalimat lirih berbisik menelusuri relung hati:
“Saatnya kau berhenti melamun mengangankanku”

Seketika itulah kusadar:
Kita memang terpisah dalam dua maginasi yg berbeda
Kau terlahir dari serpihan sajak
Sedangku menyusurimu dalam jemari yang menari
Menari dengan segala kemungkinan yang paling mungkin kuangankan
Kemungkinan yang hanya akan menjadi sebatas kemungkinan
Yang takkan pernah mungkin menjadi kenyataan

Jadi, biarlah kata-kata itu kembali kuhamburkan
Kembali berserakan tersapu waktu, terlantar lagi dibalik kursi
Karena seperti katamu: “Berani mencintai, harus berani sakit”