Posts

Menelaah Pengetahuan, Sembari Menilik ‘Apa Sebenarnya Ada?’

Image
‘Tahu’ dan ‘Pengetahuan’
Manusia adalah mahluk sempurna. Ia dibekali akal, hati dan indera untuk menjelma sebagai mahluk yang paling berpengaruh di muka bumi ini. Inovasi tiada hentinya muncul dari asahan ketiga kreasi potensi tersebut, telah menghasilkan kebudayaan dan peradaban yang sangat kompleks untuk masa sekarang. Tapi pertanyaannya, dari manakah hasrat berpengeta-huan itu datang, hingga kita sampai pada peradaban dan kebudayaan yang kompleks di abad pogresivitas dan degradasitas abad 21 ini?
Jawaban sederhananya. Rasa ingin tahulah yang membuat manusia mengetahui apa yang sebelumnya ia tidak ketahui. Ya, karena sudah menjadi fitrah manusia untuk ingin tahu terhadap segala realitas, yang sewaktu dilahirkan ia tidak memiliki pengetahuan apapun. Itulah mengapa Aristoteles mengatakan bahwa “setiap manusia dari kodratnya adalah ingin tahu”. Itulah yang menyebabkan pula kenapa Socrates sampai hati berkata “saya tidak tahu apa-apa, satu-satunya yang saya ketahui adalah saya tidak tahu”…

Tentang "Pulang" Karya Leila S. CHudori

Image
Leila S. Chudori memang dasyat memainkan emosi para pembaca. Mengambil latar waktu ketika pecahnya prahara G30S–65, Leila tidak menampilkan sejarah dalam legitimasi benar-salah, melainkan tentang bagaimana sejarah membentuk kemanusiaan manusia; yakni pada mereka yang dituduh pengkhianat negara dan atau simpatisan Komunis, dan serta tanggungan dosa turunan untuk anak mereka yang dituduh PKI yang bahkan belum lahir.
Peristiwa pecahnya G30S–65 dalam buku sejarah Indonesia memang merupakan sejarah paling kelam dan sekaligus yang paling kabur. (Itulah mengapa secara pribadi –dalam Bincang Buku ini– saya tidak ingin membahas sejarah benar-salah, melainkan membahas bagaimana Leila memaparkan efek dari sejarah itu.) Lewat novel “Pulang” inilah, saya seperti merabai pemahaman kenapa Pramoedya Ananta Toer dengan tegas, dalam film dokumenternya, mengatakan bahwa negara baginya hanyalah sepetak rumah yang Ia huni saja.
Novel ini dibagi jadi tiga bagian: Dimas Suryo, Lintang Utara, dan Segara Alam.…

Karlina Supelli: The Star Maker

Image
Di bawah bayang-bayang perang yang kelihatannya akan lebih buruk daripada Perang Dunia Pertama, penulis fiksi Olaf Stapledon menerbitkan Star Maker (1937).

Narator dalam cerita itu dapat mengembarakan pikirannya dan memasuki ruang kosmis dengan kecepatan fantastis. Ia bisa bolak-balik antara masa lalu dan masa depan.

Memakai kekuatan telepati, pikirannya terhubung dengan pikiran makhluk dari jagat lain. Bersama-sama mereka bertualang melintasi ruang dan waktu dan menyaksikan kehidupan di jagat yang
berbeda-beda.

Tidak ada jagat yang persis sama. Jenis penghuninya pun beraneka rupa. Ada yang kurang cerdas sehingga tak mampu mengatasi persoalan sehari-hari, ada yang cerdas tetapi tidak punya kemauan sosial/politik dan ada pula yang terancam musnah oleh kemajuan teknologinya sendiri, atau punah karena faktor lingkungan semisal perubahan iklim.

Terlepas dari perbedaan itu, semua ditandai dengan nasib yang sama. Semua sedang menuju kehancuran. “Alangkah boros dan sia-sia,” si narator meng…

Lereng Senja: Hilang Ke Manakah Agaknya?

Image
Teruntuk langkah kaki yang hilang tiba-tiba di Lereng Senja: “Hilang ke manakah agaknya?”
Yang ingin kukejar arahnya jauh.  Sudah jauh, aku tidak tau arah yang kutuju. Yang ingin kuhampiri sangat tinggi.  Sudah tinggi, aku tidak tau pula cara mendaki.
Tidak maukah kau kemari, Adinda? Sudah kusedikan taman sunyi.  Di situ ada bunga-bunga hijau yang kuncup, ingin mekar dan terus hidup.
Tetapi jika sudah inginmu adalah bulan yang kau tuju, maka yang tertinggal hanya bunga hijau itu, yang berada di langit abu-abu, yang kebingungan dengan pilihannya mau mekar atau tidak untuk menghantar kepergianmu.

Sajak Liar: Hujan Yang Merindu

Image
Tengoklah. Coba kau tengok dulu hujan yang turun itu. Paling tidak, kau bisa intip dari balik jendela kamarmu jika kau benar-benar tidak menyukainya. Bagaimana? Romantis bukan. Walaupun sedikit basah.
Sebagian orang mengutuk hujan karna tidak bisa berpergian. Sebagian lainnya merindu karna kebutuhan.
Aishh....kenapa manusia selalu menimbang untung-rugi segala sesuatu ini? Bukankah sudah ada sabdanya kalau hujan adalah rahmat Tuhan? Maka berdo’alah kala hujan telah menyapa bumi.
Aku selalu merindukan turunnya hujan. Apalagi hujan dipertengahan bulan Juni.

Rinainya yang membias dan menyapu halus pada dindang hati, nuansa bau basahnya yang menentramkan jiwa-jiwa sepi, dan serta tetesannya yang tersorot pijaran lampu dan terseretnya warna berkilauan dari rumah-rumah tua, seakan membuat ruang dan waktu bersekutu menjelmakan rindu.
Ya, rindu pada seraut wajahmu yang bermuka sendu.
Pada kota ini, di tempat aku berpijak, hujan dan kota serasa saling melengkapi. Kota ini pun bertambah istimew…

Sajak Liar: Kisah Pemuda dibalik Hujan

Image
Dengarkanlah, dinda........
Coba kau dengarkan suara rintikan hujan kala turun itu.
Sebagaimana pujangga menyebutnya ‘nyanyian para perindu’, yang mana tiap tetes air yang jatuh laksana pertemuan Adam dan Hawa karena terpisah jauh jarak dan lamanya waktu, seorang pemuda terus saja memanggil namamu.
Tak ada malaikat menjaring laba-laba. Hanya pemuda kesepian berselimut sunyi sedang menyulam benang-benang kasih yang mulai mengusut.
Bersama kenangan yang tersimpan diingatan, pemuda itu menenuni berbagai kata yang berserakan, dan terus merambati waktu dari ruang masa lalu untuk mendefinisikan makna bahagia paling sederhanamu. 
Tetapi, apabila dia telah terperanjat dari sadarnya, tersesatlah dia dari segala kerumitan kata. Kerumitan kata yang amat sukar dia bahasakan.
Ayolah, dinda, mendekat...
Tidakkah kau berbelas hati padanya?

Yang apabila kau tengok pemuda itu dari balik pintu, ada bola mata terpancar mengeluarkan sayap malaikat dan mencoba terbang mencuri seonggok hati berbentuk cint…

Sajak Liar: Dua Pilihan

Image
“Untukmu, yang pernah berada dalam permainan logika. Yang ketika ditanya, hanya menjawab “iya”.
Aku tidak tahu kenapa bertingkah seperti ini. Logikaku selalu lumpuh kalah di dekatmu. Logika yang bermain pada kecocokan itu tidak sedikitpun terlintas. Aku dan kamu, rasa-rasanya tidak ada cocok-cocoknya.
Yaa... setidaknya itu yang selama ini kurasakan. Sulit aku terhubung dengan tutur bahasamu. Candaanku pun juga seperti itu, walau kau balas tawa ‘haha...’
Tapi anehnya...dari sekian banyak ketidak-cocokan itu, kenapa hati ini hanya mematri namamu? Luruh dan ringkukku pun hanya padamu. Beribu kali kumenjauh dan beribu kali pula aku menghindar, aku masih tetap kau sedot kembali didekapmu.
Memang susah bila pandangku dilekatkan pada dirimu. Ruang-ruang imajiku pun hanya terisi senyummu: Membawaku terbang ke nirwana bersama syair-syair melankolis, hingga tertenun oleh mozaik mozaik cinta begitu puitis. Atau, membelah atmosfir berlapis-lapis bersama paus akrobatis, dan lantas ngebut menuju r…