
Satu waktu aku pernah memilih sebuah buku tentang pengadilan Adolf Eichmann. Sebelumnya aku hanya memiliki gambaran samar tentang dirinya sebagai penjahat perang Nazi.
Tidak ada ketertarikan khusus, hanya kebetulan buku itu terlihat saat aku berada di perpustakaan.
Aku mulai membaca bagaimana letnan kolonel SS yang tampak biasa saja itu—dengan rambut menipis dan kacamata berbingkai logam—ditugaskan merancang “penyelesaian akhir” bagi bangsa Yahudi: pemusnahan massal yang kemudian dikenal sebagai Holocaust.
Yang membuatku terguncang bukan hanya kekejamannya, melainkan cara berpikirnya.
Eichmann tidak tampak seperti monster dalam bayanganku. Ia tidak berbicara dengan kemarahan membabi buta ataupun kebencian yang meledak-ledak.
Ia justru bekerja seperti seorang teknisi administrasi yang tekun dan efisien. Ia menghitung berapa banyak orang yang bisa dimasukkan ke dalam gerbong kereta, berapa persen yang akan mati selama perjalanan, berapa biaya paling murah untuk membakar atau mengubur mayat. Semuanya dihitung dengan dingin, sistematis, dan birokratis.
Yang paling mengerikan: moralitas nyaris tak pernah hadir dalam pertimbangannya.
Setelah perang berakhir dan jutaan Yahudi dimusnahkan, Eichmann tetap tampak tidak memahami mengapa dunia begitu murka kepadanya. Dalam pengadilan di Tel Aviv, duduk di balik kaca antipeluru, ia bersikeras bahwa dirinya hanya menjalankan tugas. Ia merasa tak lebih dari pegawai yang menyelesaikan pekerjaan administratif secara efisien dan efektif.
Di titik itu aku mulai bertanya-tanya: bagaimana mungkin seseorang bisa melakukan kekejaman sebesar itu tanpa merasa dirinya jahat? Barangkali jawabannya memang terletak pada imajinasi.
Aku teringat seseorang—aku lupa siapa—pernah mengatakan bahwa tanggung jawab manusia dimulai dari kemampuan membayangkan akibat dari tindakannya sendiri. Ketika imajinasi moral mati, manusia bisa berubah menjadi mesin yang menjalankan apa saja tanpa lagi mempertanyakan kemanusiaan.
Barangkali itu pula yang dimaksud William Butler Yeats ketika ia menyinggung hubungan antara mimpi dan tanggung jawab. Sebab manusia hidup dari hal-hal yang ia bayangkan: tentang bangsa, cinta, agama, kejayaan, bahkan kebencian.
Sebagaimana imajinasi cinta dalam Romeo and Juliet, dapat membawa manusia pada pengorbanan paling indah—atau justru pada kehancuran paling mengerikan.
Post a Comment