
“Kapan terakhir kali kau menyesal?”
Ia bertanya dengan wajah begitu tenang, seakan kematian masih teramat jauh dari lehernya.
“Ada banyak berkah yang tak kusyukuri, banyak kesia-siaan yang kutelan. Mungkin, salah satunya adalah kau. Tapi tak pernah kubiarkan rasa sesal menguasaiku. Penyesalan hanya membuat usia terasa makin pendek. Hidup terlalu singkat untuk dipenuhi daftar penyesalan.”
Ia menghela napas. Kali ini lebih berat dari sebelumnya. Aku tak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Aku lebih memilih menatap wajahnya yang kian tirus diterpa cahaya lampu jalan yang remang—sebuah rahasia yang makin tak mampu kuraba. Angin membawa bau tanah lembap bercampur asap kendaraan yang lewat sesekali.
Di kejauhan seekor anjing menggonggong pendek lalu sunyi kembali jatuh seperti kain hitam yang dibentangkan perlahan. Jalanan makin gelap, juga sepi—mungkin seperti hidupnya.
“Kita ini seperti laron,” katanya lirih. “Satu waktu kau menjadi api dan aku menjadi laron. Di waktu lain, aku menjadi api dan kau menjadi laron.”
Aku tak memotongnya. Kubiarkan ia menumpahkan apa pun yang ingin dikatakannya. Ada firasat yang berbisik bahwa malam ini ia harus dibiarkan bicara sesuka hati, sebelum semuanya terlambat.
“Kenapa kau diam saja malam ini? Jawabanmu pendek-pendek. Setahuku kau tak pernah kehabisan cerita kalau sedang menghabiskan malam. Ayolah, ceritakan lagi tentang laron-laron itu. Tentang ‘Lagu Siul’ itu.”
Kurapatkan jaket hitam yang telah apak oleh keringat dan debu. Kusulut kretek bercincin kuning di sepertiga ujungnya, lalu kuhisap dalam-dalam sebelum mengembuskan asap ke udara malam. Bara kecil itu menyala sebentar di antara jemariku sebelum kembali redup.
“Aku bukan Ahasveros lagi. Lupakan saja. ‘Lagu Siul’ itu terlalu bagus untuk dibicarakan sembarangan. Ia bicara tentang kematian dan etos untuk terus berjalan menuju terang—meski laron tahu sayapnya akan terbakar ketika terlalu dekat. Tapi bukan seperti itu aku ingin mati.”
Ia tertawa kecil mendengar jawabanku. Bukan tawa bahagia. Lebih seperti seseorang yang sedang mencoba berdamai dengan sesuatu yang tak pernah benar-benar bisa diterima.
“Kau berubah,” katanya.
“Semua orang berubah.”
“Tidak. Kau bukan berubah. Kau hanya makin pandai menyembunyikan dirimu sendiri.”
Aku tak menjawab.
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasa ia mengenalku terlalu jauh. Lebih jauh daripada yang kuizinkan untuk dipahami siapa pun. Yang tersisa hanya desir angin yang menggesek dedaunan. Di sela diam itu aku sadar: ada beberapa hubungan yang sebenarnya tidak pernah selesai, hanya tertunda oleh waktu dan kesibukan hidup.
“Kau tahu hal paling menyedihkan dari manusia?” tanyanya lagi.
“Apa?”
“Mereka selalu sadar ketika semuanya sudah terlalu jauh.”
Kini aku diam getir. Ia menunduk pelan sambil memainkan ujung lengan bajunya. Untuk sesaat, ia tampak begitu rapuh. Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi ada kalimat yang terlalu berat untuk diucapkan—kalimat yang sekali keluar, akan mengubah peta hidup selamanya.
“Kau bajingan tengik,” katanya tiba-tiba. “Tapi, itu tak cukup membuatku menganggapmu sampah. Karena sejak awal aku tahu risikonya.”
Kali ini aku benar-benar tertawa. Itu sarkasme paling telak yang pernah ia lempar tepat di depan mukaku. Anehnya, aku justru menganggapnya sebagai pujian. Tidak mudah memunggungi seseorang berkali-kali tanpa sekali pun dianggap sampah.
Belakangan aku sadar, itulah percakapan terakhir kami. Tapi ia tahu—sangat tahu—apa risiko menyentuh rambutku dan menyelipkannya ke balik telingaku… di ujung peron Stasiun Tugu, saat aku hendak pergi untuk sebuah perjalanan tanpa tiket pulang.
Aku masih ingat bagaimana matanya waktu itu. Tidak menangis. Tidak juga menahan air mata. Hanya menatapku dengan cara yang membuat seseorang merasa bersalah seumur hidup.
Kereta datang perlahan bersama derit besi yang memekakkan malam. Orang-orang bergerak terburu-buru sambil menyeret koper dan kantuk mereka masing-masing. Sedangkan kami berdiri seperti dua orang asing yang terlambat saling memahami.
Seperti kebanyakan hal dalam hidup, tak ada penutup yang benar-benar layak bagi perpisahan. Hanya langkah kaki, suara rel, dan seseorang yang perlahan menjauh.
Selamat jalan, Mevrouw. Introitus: Requiem milik Mozart mengalun pelan.
Post a Comment