Tubuh: Antara Penjara Jiwa, Medan Kekuasaan, dan Komoditas Pasar
Menyoal tubuh adalah
persoalan yang tidak pernah ada habisnya selama manusia masih bertubuh (dan
bersetubuh). Gugatan eksistensial muncul: Siapa aku? Siapa tubuh ini? Apakah
aku berkuasa atas tubuhku, ataukah aku dan tubuh adalah dua entitas berbeda
yang terpaksa tinggal dalam satu ruang?
Akar Sejarah: dari Penjara hingga Mesin
Jauh sebelum tubuh menjadi diskursus sosiologi modern, peradaban Yunani
Kuno telah memperdebatkannya. Kaum Cyrenaic memuja kebahagiaan tubuh sebagai
pencapaian tertinggi, sementara kaum Epicurean mulai menggeser prioritas pada
kebahagiaan jiwa. Aliran Orphisme mengambil posisi ekstrem dengan menyatakan
soma sema—bahwa tubuh adalah kuburan bagi jiwa.
Pandangan ini
diwarisi oleh Plato yang memandang tubuh sebagai penjara yang membelenggu jiwa
dari kebenaran abadi. Dualisme ini merembes ke peradaban Romawi dan mencapai
puncaknya pada era modern melalui René Descartes. Dengan diktum cogito ergo
sum, Descartes memisahkan totalitas manusia: tubuh dianalogikan sebagai mesin
organik yang bergerak tanpa kesadaran, sementara pikiran (rasio) ditempatkan
sebagai entitas utama yang berdaulat.
Gugatan Eksistensial: Tubuh adalah Aku
Dominasi rasionalisme Descartes akhirnya digugat oleh filsafat
eksistensialisme. Jean-Paul Sartre menegaskan bahwa manusia tidak terpisah dari
raganya; aku hidup dalam tubuhku, dan tubuh adalah representasi dari siapa aku.
Friedrich Nietzsche bahkan melangkah lebih jauh dengan menempatkan tubuh
sebagai pusat eksistensi yang lebih fundamental daripada sekadar pikiran atau
perasaan.
Memasuki abad ke-19
dan ke-20, kajian tubuh meluas ke ranah ilmu sosial. Tubuh tidak lagi dipandang
hanya secara biologis, melainkan sebagai konstruksi sosial. Karl Marx melihat
tubuh sebagai instrumen produksi; Erving Goffman memandangnya sebagai simbol
diri; hingga Mary Douglas yang memahami tubuh sebagai sistem simbolik yang
mencerminkan tatanan masyarakat.
Medan Kekuasaan:
Kasus Bandara dan Spencer Tunick
Ketegangan filosofis menyoal ketubuhan ini mewujud secara nyata dalam
konflik sosial antara kebebasan individu dan otoritas publik.
2017. Jauh sebelum
seorang perempuan tanpa busana menerobos masuk kawasan Bandara Internasional
Supadio dan menghebohkan Indonesia, Spencer Tunick telah lebih dahulu
mengguncang New York dengan karya fotografi tubuh telanjangnya.
Dalam proyek
tersebut, ia mengumpulkan puluhan model yang sebelumnya telah diberi penjelasan
konsep pemotretan. Saat sesi dimulai, para model secara sukarela melepaskan
pakaian mereka. Telanjang. Sebagian berpose menungging, terlentang, dan
tengkurap. Tanpa menunggu lama, Tunick mengabadikan momen tersebut melalui
kameranya. Klik. Klik.
Baik perempuan di
Supadio maupun Tunick sama-sama berhadapan dengan aparat hukum atas dakwaan
mengganggu ketertiban umum. Pertanyaan krusial kembali muncul: siapa
sesungguhnya yang berkuasa atas tubuh kita?
Michel Foucault
memberikan jawaban paling tajam: tubuh adalah medan utama operasi kekuasaan.
Kekuasaan tidak hanya bekerja secara eksternal melalui hukum, tabu, dan
institusi (seperti negara yang mengatur tubuh melalui RUU Anti Pornografi atau
agama melalui konsep aurat), tetapi juga bekerja secara internal melalui
disiplin diri dan kontrol hasrat. Tubuh menjadi ruang pertarungan antara
otoritas yang mendisiplinkan dan keinginan individu untuk berdaulat.
Akhir Perjalanan: Komodifikasi dan Penampilan
Sialnya, pada era kapitalisme kontemporer tubuh tidak hanya didisiplinkan,
tetapi juga dikomodifikasi. Mike Featherstone menunjukkan bahwa tubuh kini
menjadi objek yang dibentuk, dimodifikasi, dan dipasarkan melalui industri
budaya dan media.
Tubuh bergeser dari
ranah eksistensial menjadi permukaan visual yang terus-menerus ditampilkan.
Pada akhirnya, identitas tidak lagi semata ditentukan oleh kesadaran, melainkan
oleh representasi tubuh di ruang sosial. Akhirnya kita tiba pada satu kesadaran
baru: aku bukan lagi apa yang kupikirkan, melainkan apa yang ditampilkan
tubuhku.
Comments
Post a Comment