
Kita dipertemukan dalam sebuah ketidaksengajaan. Di tempat asing yang bahkan belum pernah kita jamah sebelumnya. Tidak ada rencana. Tidak ada janji. Tidak ada skenario yang disusun jauh-jauh hari. Itulah kenapa pertemuan itu terasa begitu aneh sekaligus membekas—karena ia datang tanpa aba-aba.
Kamu diam. Aku juga diam.
Jika harus mendeskripsikan bagaimana pertemuan itu dimulai sekaligus berakhir, mungkin hanya itu kalimat yang paling tepat. Tidak ada percakapan panjang seperti dalam film-film romantis. Tidak ada latar musik. Tidak ada adegan dramatis. Hanya dua orang asing yang sama-sama membiarkan kesunyian bekerja sendiri. Diam.
Padahal aku tahu, diam seperti itu biasanya disebut canggung. Aku pernah menontonnya berkali-kali di FTV murahan yang diputar saban sore hari.
Sebagai lelaki seharusnya akulah yang memulai percakapan. Menghapus kikuk. Membelah sunyi. Nyatanya tidak. Aku tetap diam. Begitu juga kamu. Pertemuan itu akhirnya hanya dibahasakan oleh kesunyian.
Awalnya aku biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada perasaan aneh. Semuanya terasa normal seperti perjumpaan-perjumpaan lain yang mudah dilupakan setelah pulang.
Anehnya, pelan-pelan ada sesuatu yang berubah. Entah bagaimana menjelaskannya. Rasanya seperti pernah mengalami hal serupa, tapi kali ini berbeda. Ada sesuatu yang bergeser diam-diam di dalam diriku. Sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa diterangkan logika.
Setelah kupikir lama-lama, aku akhirnya menemukan penyebabnya. Kamu. Lebih tepatnya: senyum dua senti yang kamu punya. “Mungkin aku terkesima?” tanyaku dalam hati.
Sialnya, kemungkinan itu terdengar masuk akal. Hati yang sebelumnya mulai pulih dari luka lama tiba-tiba seperti diketuk kembali dari luar. Pertahananku yang sudah susah payah kubangun perlahan retak lagi.
Pelakunya, tentu saja kamu.
Kamu datang tanpa permisi. Tanpa salam. Tanpa sopan santun. Tanpa adab. Diam-diam masuk ke ruang yang dulu pernah porak-poranda, lalu duduk seenaknya di sana seperti penghuni lama yang pulang setelah bertahun-tahun pergi. Curang, bukan?
Sejak saat itu aku mulai mengaksarakanmu menjadi kata-kata. Ruang imajiku hanya terisi senyumanmu: membawaku membelah atmosfir berlapis-lapis bersama paus akrobatis dan ngebut menuju rasi bintang paling romantis. Meski aku tahu kata-kata selalu gagal menjelaskan keindahanmu secara utuh. Apalagi menjelaskan senyum dua senti yang kau miliki itu.
Seketika aku sadar pada satu hal penting yang bahkan belum kuketahui: namamu. Siapa namamu? Huruf apa yang mengawali namamu? Berapa banyak huruf yang tinggal di sana?
Itu penting bagiku. Bagaimana mungkin seseorang bisa diam-diam disebut dalam doa jika namanya saja belum diketahui? Eh, sesaat kemudian kesadaranku menegur: “Tidak. Jangan terlalu jauh.”
Aku takut. Takut dianggap lancang. Takut terlihat seperti lelaki murahan yang terlalu cepat jatuh hati hanya karena beberapa detik tatapan mata dan sebentuk senyuman yang mengusap hati. Akhirnya aku memutuskan membuat rencana.
Semacam konspirasi kecil antara hati dan sentuhan keberanian yang setengah matang. Setidaknya aku harus mengenal namamu lebih dulu.
Pertemuan kedua itu akhirnya benar-benar terjadi. Kali ini bukan lagi ketidaksengajaan. Aku sengaja datang pada tempat kita bertemu dalam ketidaksengajaan itu, di kafe pinggir kota. Perjalanan 15 menit dengan ojek daring itu terasa seperti selamanya karena degup jantung yang tidak sabar.
Hari itu cuacanya cerah. Langit tampak bersih. Kulihat kamu duduk bersama temanmu dengan pakaian serba putih, pada bagian pojok dekat jendela, mendengarkan temanmu bercerita.
Aku memandangmu dari jarak sekitar sepuluh meter. Entah kenapa melihatmu seperti itu membuatku percaya pada satu hal absurd. Bahwa benar kata Dee Lestari: malaikat memang tidak selalu bersayap.
Maaf kalau terdengar gombal.
Kamu tentu tahu bahwa banyak penyair besar juga mengalami keabsudan itu karena perempuan yang mereka kagumi. Zainuddin punya Hayati. Dante punya Beatrice. Bahkan orang biasa yang sebelumnya tak pernah menulis puisi pun mendadak jadi puitis ketika jatuh cinta. Mungkin aku hanya sedang mengalami nasib yang sama.
Akhirnya aku memberanikan diri mendekatimu. Jantungku rasanya seperti habis lari keliling lapangan. Tapi dengan sisa keberanian yang kupunya, aku mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri, dan lalu bertanya.
“Kamu siapa?”
Kamu menatapku. Diam. Lama sekali. Aku pun mulai panik. Jangan-jangan kamu memang tidak bisa bicara, pikirku saat itu. Dugaanku langsung runtuh ketika teman di sebelahmu mencubit lenganmu dan kamu spontan berteriak kecil, “Aaakh!”
Seketika semua orang menoleh ke arah kita.
Mental yang tadi sudah kupaksa naik ke level Super Saiya 4 langsung jatuh bebas. Kalau saja aku punya jurus Hiraishin no Jutsu seperti Minato Namikaze, mungkin aku sudah teleportasi saat itu juga demi menyelamatkan harga diri.
Sialnya, di tengah kepanikanku, kamu malah tertawa. Tertawa, lalu menghadirkan senyuman itu lagi—dua senti ke kiri, dua senti ke kanan—yang entah bagaimana terasa begitu menenangkan: tulus dan hangat. Dari jarak sedekat itu, aku akhirnya benar-benar percaya: tidak ada senyum yang lebih menenangkan dibanding senyummu.
Aku perlahan menarik kembali uluran tanganku. Niat menanyakan namamu tiba-tiba lenyap begitu saja. Yang tersisa hanya grogi dan degup jantung yang berantakan. Lalu aku mundur pelan-pelan sambil mengucapkan salam perpisahan.
Sejak hari itu, aku hanya punya satu harapan kecil: Semoga suatu hari nanti kita dipertemukan kembali—bukan lagi sekadar dengan senyuman, melainkan juga dengan nama
Post a Comment