Search This Blog

Arsip Blog

Followers

Bookmark
Featured Post

Aku dan Ilusi yang Menepi

Aku bertemu seorang gadis cantik tadi malam di kedai kopi. Sebuah tempat yang paling masuk akal bagi manusia gagal untuk berpura-pura baik-baik saja …

Habis Dian Sastro Terbitlah Raisa.

Raisa hadir di waktu yang tepat. Bukan sekadar tepat waktu, melainkan tepat pada momentum ketika para tuna asmara Indonesia mulai kehilangan arah perjuangan. Kala itu, langit percintaan nasional sedang muram. Harapan romantik runtuh satu demi satu. Di tengah reruntuhan itulah Raisa datang seperti pidato proklamasi bagi kaum lelaki yang terlalu lama menggantungkan perasaan pada perempuan-perempuan layar kaca.

Merdeka!!

Eh, tunggu dulu. Sebelum melangkah lebih jauh, mungkin istilah “jomblo” perlu direvisi. Kata itu terlampau lama dibebani stigma sosial yang tidak adil. Ia terdengar seperti status kegagalan, padahal kesendirian kadang hanyalah bentuk lain dari kesetiaan pada harapan yang belum datang.

Mari kita gunakan istilah yang lebih manusiawi: “Tuna asmara.” Sebab sebagaimana amanat konstitusi, setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk dicintai dan mencintai. Maka penjajahan terhadap kaum jomblo melalui meme, cibiran, dan pertanyaan “kapan nyusul?” harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.

Raisa datang membawa harapan baru itu.

Di masa ketika lagu-lagu galau sedang menguasai peradaban anak muda Indonesia, kemunculan Raisa terasa seperti cahaya kecil di ujung lorong panjang kegagalan move on. Lagu-lagunya memang membuat orang terjebak nostalgia, tetapi justru di situlah para tuna asmara menemukan tempat berlindung.

Ada yang gagal move on lewat “Mantan Terindah”. Ada yang terjebak harapan dalam “Apalah (Arti Menunggu)”.Ada pula yang hidupnya mendadak terasa “Serba Salah”. Tapi entah bagaimana, wajah teduh dan suara lembut Raisa membuat semua luka itu terasa sedikit lebih bisa diterima.

Jika dipaksa mencari analogi sejarah, mungkin kehadiran Raisa bagi kaum tuna asmara mirip seperti René Descartes saat membawa pencerahan setelah Abad Kegelapan Eropa. Sebuah momen ketika manusia kembali percaya bahwa harapan masih mungkin dipikirkan.

Sebelum era Raisa, sebenarnya para tuna asmara Indonesia telah memiliki figur pemersatu nasional: Dian Sastrowardoyo.

Sulit membantah pesona perempuan yang melejit lewat Ada Apa dengan Cinta? itu. Ia cerdas, puitis, tenang, dan memiliki aura yang membuat banyak lelaki rela memelihara kesedihan romantik bertahun-tahun. Bahkan Rangga saja memilih menyendiri di New York.

Maka wajar jika para tuna asmara kala itu secara aklamasi menetapkan Dian Sastro sebagai: “The Best Woman in Indonesia.”

Sejarah selalu kejam terhadap harapan kolektif.

Ketika kabar pernikahan Dian Sastro dengan Indraguna Sutowo tersebar, banyak tuna asmara mengalami guncangan batin yang sulit dijelaskan ilmu psikologi modern. Sebagian muntab. Sebagian murung. Sebagian lagi diam-diam memutar lagu galau sambil menatap langit kamar kos.

Itu adalah zaman kegelapan. Lalu muncullah nama-nama lain: Alyssa Soebandono, kemudian Revalina S. Temat. Mereka sempat menjadi mercusuar harapan baru. Tapi sejarah kembali berulang. Satu per satu dipersunting lelaki lain, meninggalkan kaum tuna asmara dalam keadaan limbung ideologis.

Ketika kekacauan emosional itulah Raisa datang. Bukan sebagai sekadar penyanyi. Melainkan simbol bahwa setelah patah hati paling gelap sekalipun, manusia masih bisa jatuh cinta lagi—meski kali ini hanya lewat lagu dan imajinasi.

Tentu saja perjalanan belum selesai. Sebab dalam Musyawarah Nasional Imajinatif Tuna Asmara Indonesia, sempat muncul nama Chelsea Islan sebagai kandidat penerus estafet harapan nasional.

Harus diakui, Chelsea memang memiliki sesuatu yang sulit dijelaskan. Ada perpaduan antara wajah imut, kecerdasan, dan ekspresi bete yang entah mengapa justru membuat banyak lelaki merasa hidup mereka masih layak diperjuangkan.

Akhirnya, sejarah telah menetapkan jalannya sendiri. Raisa bukan sekadar penyanyi bagi generasi itu. Ia adalah penanda zaman. Sebuah fase ketika para tuna asmara Indonesia belajar bahwa meski cinta sering gagal dimiliki, manusia selalu punya kemampuan aneh untuk kembali berharap.

Mungkin itulah bentuk paling sederhana dari keberanian manusia: tetap jatuh cinta meski berkali-kali kalah.

2 comments

2 comments

  • dearestbluemoon
    dearestbluemoon
    May 22, 2017 at 3:37 PM
    Wow. Skill nulisnya asik but you've done a pretty nice job to define a married woman less valuable than the single one. Or even make it clear that for you, guys.. woman is just a property that you worship ehen they're perfect enough to be the object of your fantasies. It's disappointing. Keep writing but before write a stuff you better read planty of books and think smart before speak up :)
    • dearestbluemoon
      SIROJUL LUTFI
      May 23, 2017 at 3:41 AM
      Terimakasih atas sarannya. Semoga bisa lebih baik lagi.
    Reply