Search This Blog

Arsip Blog

Followers

Bookmark
Featured Post

Aku dan Ilusi yang Menepi

Aku bertemu seorang gadis cantik tadi malam di kedai kopi. Sebuah tempat yang paling masuk akal bagi manusia gagal untuk berpura-pura baik-baik saja …

Satu Paragraf: Lis. Hanya 3 Huruf.

Lis. Begitulah aku biasa memanggilnya—tiga huruf sederhana yang entah bagaimana mampu mengguncang seluruh bangunan tenang yang selama ini susah payah kudirikan di dalam diriku sendiri. Ada sesuatu yang selalu membuatku merasa kecil setiap kali mengingatnya. Seolah sejak awal aku memang tidak pernah benar-benar pantas berdiri terlalu dekat dengan perempuan seperti dia. Bayangan masa lalu ketika aku gagal menenun kemungkinan bersamanya masih tinggal seperti gerimis yang tidak selesai jatuh di kepalaku. Anehnya, semakin aku mencoba mendekatinya kembali, semakin kuat pula rasa tidak percaya diri itu tumbuh, merambat pelan seperti akar yang diam-diam membelah dinding batin. Ada hari-hari ketika hati ini ingin sekali menjemputnya, sekadar menyapanya, sekadar mengatakan bahwa ada cinta yang sudah terlalu lama terpendam hingga berubah menjadi pengap yang menggerogoti secara diam-diam dari dalam. Sialnya, setiap kali perasaan itu hendak meluap, akal selalu datang seperti hakim yang dingin, menatapku dengan pertanyaan yang bahkan lebih menyakitkan daripada penolakan: “Siapa kau sampai berani jatuh cinta padanya?” Pertanyaan itu membuatku terdiam. Sebab semakin kupikirkan, semakin aku merasa tidak memiliki sesuatu pun yang layak dibanggakan sebagai seorang laki-laki. Aku hanyalah manusia biasa dengan hidup yang biasa, masa depan yang biasa, dan keberanian yang bahkan sering kalah oleh ketakutan-ketakutannya sendiri. Mungkin sejak awal aku memang keliru ikut terlibat dalam permainan bernama cinta ini. Tampaknya cinta hanya ramah kepada mereka yang percaya diri atas dirinya sendiri. Sementara aku bahkan sering gagal merasa layak untuk berharap. Maka aku mencoba bersikap rasional, mencoba menerima bahwa beberapa orang memang diciptakan hanya untuk dikagumi dari kejauhan, bukan untuk dimiliki. Terlebih ketika melihat begitu banyak lelaki yang jauh lebih pantas dariku pun pernah gagal menaklukkan hatinya, aku semakin sadar bahwa cintaku ini barangkali memang tidak pernah memiliki kemungkinan selain menjadi ruang sunyi tempat aku belajar memahami betapa rapuh dan kecilnya diriku sendiri di hadapan kehidupan.

Post a Comment

Post a Comment