Sama (Analisis): Kritik atas Kritikan Pidato Ketua DPM UII

Bukannya apa atau ada apa. Toh, tiap orang
kan sah-sah saja berkata-kata untuk saat ini bukan? Yang mana tiap kata-katanya
tersimpul jadi kalimat hingga terbentuklah satu cerita –seperti yang (anda)
tulis, dengan mengambil satu atau hanya dua premis sebagai dasar logikanya
untuk mengonklusikan: Itulah HMI sebenarnya.
Atau lainnya, untuk mengaburkan suatu fakta
(apa itu HMI bagi UII, pun UII bagi HMI) sesungguhnya (jika kata lain dari
mengaburkan: ‘memutar-balikkan’ fakta, terlalu tendensius), (anda) mencoba
bermain dalam kata-kata, yang tiap kata diubah artinya dan tiap arti kata
diubah maknanya, tentu masih saja bersembunyi dari satu atau hanya dua premis
sebagai dasar logika untuk mengonsklusikan: Kayak gitu lo, saudara-saudara, HMI
itu di UII.
Sebenarnya, lagi-lagi saya bilang, itu
tidak apa. Tiap orang sah-sah saja menilai HMI kayak apa dan gimana. Tapi,
saudara-saudara, kalau saya diperbolehkan bermain kata-kata pula, bolehkan saya
juga bercerita? Biar adil. Kalau dia diperbolehkan kenapa saya tidak?
Setidaknya, cerita saya juga bisa mengaburkan suatu fakta.
Apakah HMI punya histori terhadap UII? Iya,
benar, sebagaimana kita (mahasiswa UII) juga adalah sejarah bagi UII karena
telah menyusup dan menempati waktu dan ruang di dalamnya. Bukankah UII dibangun
bukan dari satu golongan? Iya, benar, banyak. Jadi bukan milik satu golongan,
tapi tidak pula (anda) hendak mengaburkan satu golongan (HMI yang juga punya
kontribusi), kan? Mudah-mudahan. Amin.
Terus, apakah HMI diistimewakan? Mungkin,
iya –Lebih baiknya (anda) tanya kesiapa yang memberikan dan kenapa diberi
keistimewaan. Kenapa begitu? Biar enak dan jelas, serta (anda) tidak terjebak
genjutsu mugen tsukuyomi ketika menilai -atau paling tidak terkena fallacy of
dramatic instance (over generalisation) kalau kata Jalaluddin Rahmat dalam
mengonskulisakan HMI dan HMI (seperti demikian).
Pertanyaan selanjutnya, apakah HMI jadi
tuan rumah? Mungkin pula, iya. Tapi, makna dari kata tuan rumah itukan banyak.
Bisa saja kalian adalah tuan rumah karena kalian membuat rumah, (anggaplah
orang asing) kemudian jadi menantu dari satu pemilik rumah juga bisa disebut
tuan rumah, (anggaplah orang asing lagi) karena punya kedekatan emosional yang
begitu kuat (histori) dengan pemilik rumah lantas si pemilik rumah
menganggapnya sebagai tuan rumah. Atau lainnya begini: Kita bermain pada satu
rumah, terus si pemilik rumah bilang, “anggaplah seperti rumahmu sendiri,”
bukankah kita juga jadi tuan rumah?
Jadi tuan rumah yang mana yang anda maksud
itu penulis yang budiman? Tolonglah jangan buat saya bingung dari kata-kata
yang mengaburkan banyak makna itu, yang seolah anda ingin memberikan ‘sesuatu’
tapi ketika saya hendak mendekat untuk mengambilnya, seraya bak fatamorgana,
ternyata ‘sesuatu’ itu langsung hilang. Cukuplah yang berlaku kayak gini itu
perempuan saja: sering meng-PHP-in. (sorry, bercanda)
(anggaplah) tuan rumah itu adalah dikarenakan
mempunyai kedekatan emosional yang begitu kuat (histori) dengan pemilik rumah,
apakah itu salah? Terus kalau kayak gitu apalagi yang jadi masalah? Masih mau
bermain-main lagi dalam kata-kata cerita untuk genjutsu-genjutsuan? Tidak apa.
Tapi, sebelum itu, saya hendak mengajak
anda, seperti halnya kisah (histori HMI dan UII) yang (oleh saya) dianalogikan
seraya perjalanan Tong Sam Cong mengambil kitab suci ke barat (yang mana dari
kitab suci membuat pemilik rumah mengangap kita sebagai tuan rumah atau tidak),
yang harus melalui 33 tangtangan dan 99 rintangan, yang harus berjalan setapak
demi setapak mendaki gunung, lewati lembah, serta bertemu dan menghadapi para
siluman (anggaplah siluman ini adalah bagaimana HMI ikut berkontribusi dalam
kasus Kampus Antara, Kasus dugaan Korupsi berapa birokrat pada tahun 2013,
dlll), setelah melalui semua itu, Sam Cong pun bertanya pada Go Kong. “Tadi
saya dikritik (analisis) lewat persoalan ‘tuan rumah’.”
“Sudahlah guru jangan ditanggapin. Mereka
tidak tahu bagaimana perlajanan guru mengambil kitab suci ke barat. Hanya
mengambil potongan cerita sebagaimana satu atau hanya dua premis untuk
mengonklusikan perjalanan guru ke barat,” kakak pertama itu terdiam sebentar
dan seperkian detik kemudian (sebagaikesimpulan saya terhadap analis kritik
tulisan anda, pun (mungkin) tulisan saya ini), Go Kong berkata:
“Seperti katamu, guru, (pun, mengenai
tulisan itu) adalah, 'Isi adalah Kosong dan Kosong adalah Isi,' dengan
mengaburkan berbagai fakta dalam kata-kata untuk membuat cerita yang sama
sekali tiada makna dan artinya."
Mainkan Sabung Ayam S128 dan SV388 Dengan Kualitas Terbaik bersama Winning303..
ReplyDeleteKemenangan 100% di Pasti di Bayar!!
Dapatkan CashBack Kekalahan Dari Winning303 Mingguan...
Hubungi Segera:
WA: 087785425244
Cs 24 Jam Online