Kitab Persandalan: Sabda Pendaki di Kedai Kopi Murahan
SIROJUL LUTFI
... menit baca
Dengarkan
“Seprestisius apa pun sandal hotel, ia tak akan pernah sanggup membawamu berjalan jauh. Ia hanyalah spons ringkih yang didesain untuk karpet empuk, bukan untuk realitas yang kasar. Sebaliknya, sejelata apa pun Swallow, ia selalu siap menyusuri jalan terjal, sebab ia terbuat dari karet yang tabah.”
Begitulah petuah Agus Mulyadi yang sedang kami kunyah malam itu di sebuah kedai kopi murahan di Yogyakarta.
Malam merayap lambat. Asap rokok menggantung rendah, berbaur dengan aroma kopi kental dan residu kegagalan manusia-manusia yang sedang sulit berdamai dengan hidup.
Aku dan kawanku masih terjebak dalam perdebatan "kasta persandalan nasional": kasta sandal hotel yang tampak borjuis namun rapuh, melawan kasta Swallow yang proletar namun tahan banting seperti kuli angkut di pelabuhan.
Di tengah dialektika absurd itu, muncul seorang lelaki bertubuh tegap. Tas kecampang menggantung di pundaknya, celana gunungnya belel, dan di kakinya terpasang sepasang sandal Eiger yang tampak sudah khatam menelan ribuan kilometer. Dari anatomi wajahnya, kami mafhum: ini adalah tipe manusia yang terlalu sering bercumbu dengan kabut dan tebing.
Ia memesan kopi hitam tanpa gula, lalu duduk di hadapan kami seolah semesta memang mengutusnya untuk memberikan pencerahan atas diskusi konyol ini. Belum sempat kami memvalidasi superioritas Swallow, lelaki itu menimpali dengan suara berat, serupa bisikan guru spiritual yang baru turun dari pertapaan Gunung Semeru.
“Memilih sandal itu bukan perkara mudah, Cong,” katanya sembari membuka bungkus rokok Apache. “Butuh laku batin yang panjang untuk menemukan alas kaki yang benar-benar sanggup mengawal perjalanan hidup.”
Kami bungkam. Gema suaranya karismatik. Terlebih ada jenis otoritas moral tertentu pada orang-orang yang sering mendaki gunung. Mereka selalu terdengar seperti nabi kecil yang baru saja bercakap-cakap dengan Tuhan di puncak tertinggi.
Kopi pesanannya tiba. Ia menyesapnya dengan kekhusyukan seorang pertapa yang meneguk tirta amerta. Cahaya korek Kriket memantulkan siluet pipinya yang tajam, mempertegas sebagai wajah lelaki yang sudah berkali-kali menantang maut lalu pulang hanya untuk sekadar memesan segelas kopi.
“Dalam perjalanan yang sunyi,” lanjutnya, “aku sudah berkali-kali kehilangan kawan perjalanan berupa sandal. Ada yang talinya putus di tengah hutan, ada yang solnya menyerah pada lumpur, ada pula yang mati syahid di lereng gunung karena tak kuat menahan dingin yang biadab.”
Ia menghembuskan asap rokoknya pelan, membiarkannya menari di udara.
“Kualitas desain itu soal estetika, tapi kualitas material adalah soal kejujuran batin si pembuatnya. Tidak semua sandal diciptakan untuk perjalanan jauh.”
Aku dan kawanku saling pandang, takjub. Untuk pertama kalinya dalam hidup, kami mendengar seseorang membicarakan sandal dengan nada sefilosofis naskah Zarathustra ala Friedrich Nietzsche.
Lalu lelaki itu mengambil jeda panjang, sebelum akhirnya melemparkan wahyu terakhirnya. “Pada akhirnya,” katanya lirih, “hanya Eiger yang sanggup menuntunku menuju puncak spiritualitas tertinggi. Bukan sandal hotel, bukan Swallow, apalagi Sky Way.”
Setelah sabda itu terucap, ia kembali menyeruput kopinya dengan tenang. Seolah baru saja menyampaikan perintah harian dari kitab persandalan kuno yang hilang ditelan zaman.
Kawan-kawan yang budiman dan budimanwati, kami memang sedang membicarakan sandal, bukan cinta. Tapi, silakan jika kalian ingin menarik garis lurus di antara keduanya.
Sebab pada akhirnya, cinta pun hanyalah persoalan perjalanan jauh dan terjal—yang butuh ketabahan agar tidak putus di tengah jalan.
Post a Comment