
Bagaimana mestinya aku memulai, Zi? Haruskah aku
bersandiwara layaknya Zainuddin saat menyurati Hayati untuk pertama kalinya:
“Gemetar, Encik! tanganku ketika mula-mula menulis surat ini.” Hahaha.
Sebagai pembuka, aku teringat seloroh seorang kawan. Ia
berpesan agar kita tak lagi memandang Indonesia melalui cermin raksasa yang
retaknya tak mungkin kita rekatkan sendirian. Alih-alih tenggelam dalam narasi
besar, mari melihatnya dari sudut yang lebih intim, nyata, dan bersahaja: desa.
Kau mungkin sepakat bahwa ketika kita memotret bangsa ini
dengan lensa wide, yang tertangkap hanyalah potret buram. Drama pertikaian
perspektif yang dibungkus kepentingan politik elektoral telah lama membelah
akar rumput. Intoleransi, pada akhirnya, menjadi gunting yang mengoyak tenunan
kebhinekaan kita.
Itulah kenapa aku enggan bicara tentang
"Indonesia" dalam skala makro. Bukan karena muak, tapi rasa simpatiku
mulai luruh dihantam suburnya feodalisme dan oligarki. Apalagi di bulan
September seperti ini; ruang publik kita mendadak bising oleh
"gorengan" isu lama yang itu-itu saja: hantu komunisme.
Bayangkan, Zi. Ini sudah dekade ketiga di abad ke-21.
Muso dan Stalin sudah lama berkalang di tanah. Uni Soviet telah menjadi sejarah
di buku-buku usang, dan haluan ekonomi-politik RRC telah bergeser jauh. Kenapa
kita masih diteror bayang-bayang bangkitnya ideologi yang sudah bangkrut secara
global? Apakah kaca spion Indonesia terlalu besar sehingga menghalangi
pandangan kita ke depan? Ataukah beban trauma sejarah ini memang sengaja
dipelihara agar kita tetap jalan di tempat?
Dalam tradisi intelektual, kita diajarkan memisahkan
antara fakta dan interpretasi. Fakta itu objektif, namun interpretasi adalah
rekonstruksi yang tak pernah bebas nilai. Ia berkelindan dengan afiliasi
politik, dogma, hingga semangat zaman sang penafsir. Lagipula, sejarah bukan
hanya milik pemenang; sejarah yang tanpa bumbu kebohongan mungkin akan terasa
hambar bagi mereka yang haus kekuasaan.
Maka izinkan aku pulang ke narasi desa saja.
Rentang belasan tahun merantau ternyata tak banyak
mengaburkan resolusi memori masa kecilku. Desa ini masih asri. Rimbun semak di
belakang rumah masih setia menari diterpa angin yang usil—sebuah kemewahan
visual yang mustahil kutemukan di rimba beton. Hamparan sawah pun masih
membentang, belum sepenuhnya menjadi tumbal ambisi pembangunan yang rakus.
Pepohonan yang merambat hingga selasar rumah tidak hanya
menyuplai oksigen, tapi juga keeksotisan. Itulah mengapa saat hujan membasuh
debu musim kemarau yang jahanam, desaku tak sekadar tampak asri. Ia menjelma
seperti gadis perawan yang baru selesai mandi: segar, penuh gairah, dan
memancarkan daya hidup yang murni.
Sebagaimana Orhan Pamuk dalam “Istanbul: Memories and the
City” merawat ingatan kotanya melalui kristalisasi melankoli, aku pun melakukan
hal serupa. Bedanya, melankoliku bersifat personal, bukan kolektif. Ia adalah
momen ketika fragmen masa kecil berkelindan hebat, mengisi ruang rindu untuk
kembali ke masa-masa itu.
Aku ingat bagaimana Ibu kerap naik pitam jika aku terlalu
lama mandi di sungai—khawatir kulit bersisik, mata memerah, dan baju berlumpur.
Tapi di sana letak keajaibannya. Pohon-pohon di pinggir sungai itu menyediakan
"jamuan" buah liar saat perut kami mulai keroncongan karena terlalu
lama berendam.
Bukit di utara rumah itu menyimpan narasi yang sama.
Dulu, setiap hari aku mendakinya untuk berangkat sekolah dan mengaji. Mengingat
itu sekarang, aku sadar betapa waktu telah bergerak begitu lancang, meninggalkan
warna-warni kepolosan dan optimisme masa depan yang kini terasa kian mahal
untuk dibeli.
Tapi Zi, bagi perantau seperti kita, apa sebenarnya arti
sebuah desa?
Mudah memang membicarakan desa dalam balutan romantisme
keasrian, sebagaimana mudahnya bagi kita mengutuk kemacetan di kota. Tapi Zi,
amat sulit memaknai desa melampaui batas nostalgia. Jujur saja, jika harus
melepas sisi sentimentil itu, aku belum benar-benar menemukan definisi desa
yang utuh.
Aku teringat Laila S. Chudori dalam “Pulang”: bahwa rumah
adalah tempat di mana kita ingin merasa pulang, bukan sekadar tempat untuk
menetap. Rumahku adalah desa ini—titik koordinat di mana keluarga dan memori
tumbuh. Di sinilah aku ingin merasa pulang, bukan di tanah rantau.
Aku pernah melukai hati orang tuaku dua tahun lalu saat
memutuskan ingin menetap di kota. Saat itu, aku merasa tak lagi sinkron dengan
kultur desa yang keras (kau tentu paham tipikal daerah kita, Bangkalan,
bukan?). Maraknya narkoba yang merusak tatanan sosial serta degradasi tata
krama generasi muda membuatku gamang. Jogja telah merombak total cara
pandangku.
Lebih dalam, nasibku persis Zainuddin, Zi. Di Jogja aku
dianggap orang Madura, namun di Madura aku dianggap orang Jogja yang sudah
"kejawa-jawaan". Aku seperti mengalami krisis identitas yang akut.
Akhirnya, keputusanku untuk menetap di desa saat ini hanyalah karena pengabdian
kepada orang tua, terutama Ibu. Aku belum sanggup melihat matanya meredup
karena kecewa.
Terkadang aku berandai—semoga orang tuaku tetap diberi
umur panjang—jika kelak mereka sudah tiada, apakah aku masih punya alasan untuk
bertahan di sini? Sebagai anak lelaki tunggal, hasratku untuk pergi sebenarnya
masih sangat besar. Dari sini kau bisa menyimpulkan, Zi, bahwa makna desa
bagiku saat ini mungkin hanya sebatas benteng kenangan masa kecil dan kehadiran
orang tua.
Bagaimana denganmu? Sebagai sesama pengelana, bagaimana
kau memaknai desa dalam sunyimu?
Post a Comment