
Aku bertemu dengan
gadis cantik tadi malam di kedai kopi. Sebuah tempat yang paling masuk akal
bagi manusia gagal untuk berpura-pura baik-baik saja sambil menyesap Americano
pahit, dan ditemani musik Indie yang diputar terlalu pelan untuk disebut
hiburan.
Aku datang dengan tubuh
lelah dan kepala yang penuh reruntuhan pikiran.
Malam itu terlalu
panjang untuk disebut hari biasa, tapi terlalu hampa untuk dikenang. Aku duduk
di sudut dekat jendela, memandangi jalanan yang basah oleh sisa hujan sembari
mencoba berdamai dengan fakta pahit bahwa usia terus bergerak maju, sementara
hidup masih tertatih pada koordinat yang sama.
Lalu ia datang.
Berpakaian kemeja putih dengan bawahan rok hitam, dan melangkah pelan bak
bidadari mengukur jarak Istana Langit.
Kemuculannya ibarat
sebuah adegan yang ditulis terlalu puitis oleh penulis naskah yang sedang mabuk
asmara. Pintu kedai terbuka. Angin malam menyusup membawa dingin, dan di
belakangnya berdiri dengan anggun seorang gadis dengan rambut sedikit basah.
Matanya teduh.
Wajahnya, entah bagaimana, mampu membuat seluruh kebisingan di ruangan itu
mendadak kehilangan eksistensi. Untuk sepersekian detik, aku merasa semesta
sedang melakukan close-up terhadap dirinya.
“Rupanya, Tuhan sedang
ingin pamer karya,” gumamku lirih.
Ia berjalan menuju
meja dekat rak buku. Tak ada yang berlebihan dari gerak-geriknya. Sialnya, di
situlah kehancuranku dimulai.
Kau tentu tahu, Kawan.
Ada jenis ketenangan tertentu yang hanya dimiliki perempuan-perempuan yang tak
sadar dirinya indah. Ketidaksadaran itu, bagiku, jauh lebih mematikan daripada
kecantikan itu sendiri.
Ketika pelayan
bertanya pesanannya, ia tersenyum kecil. “Kopi susu gula aren satu, Mas.”
Aku bersumpah, bahkan
cara ia menyebut “gula aren” terdengar seperti penggalan puisi yang terlalu
manis untuk diterima akal sehat.
Aku mulai
memperhatikannya dengan cara paling pengecut yang pernah ditemukan umat manusia:
berpura-pura sibuk dengan ponsel sambil sesekali mencuri pandang. Sesekali ia
membuka buku, menatap hujan di balik kaca, lalu tersenyum kecil—entah pada isi
pikirannya atau pada seseorang di layar ponselnya.
Sialnya, setiap senyum
itu terasa seperti palu godam yang menghantam dadaku. Aku mulai membayangkan
hal-hal yang bahkan belum diberi izin oleh kenyataan.
Otakku yang tidak tahu
diri ini sudah melompat terlalu jauh: membayangkan kami duduk di meja yang sama
setiap malam minggu, berbagi cerita tentang hidup yang kacau sembari
mentertawakan tragedi masing-masing.
Manusia memang makhluk
paling lucu saat jatuh hati. Baru mendapatkan senyuman sekali saja sudah sibuk
menyusun masa depan layaknya arsitek peradaban.
Aku ingin menyapanya.
Sungguh. Sialnya, lidahku mendadak menjadi pengkhianat. Semua teori komunikasi
dan maskulinitas yang selama ini kubanggakan runtuh seperti bangunan tua
diterjang gempa. Aku mendadak menjadi lelaki gugup yang bahkan tak tahu harus
membuka percakapan dengan kalimat apa.
Masa iya aku harus
berkata: "Mbak, ayahmu seorang astronom ya? Karena galaksi seakan runtuh
di mataku saat melihatmu."
Tidak. Itu terlalu
menjijikkan bahkan untuk standarku sendiri. Maka aku memilih diam. Menatap
dari kejauhan seperti tokoh sampingan dalam film romantis yang tak pernah
mendapatkan jatah dialog.
Waktu bergerak terlalu
cepat. Kopinya tandas. Bukunya ditutup. Ia berdiri, merapikan rambut, lalu
berjalan menuju kasir. Aku panik. Jantungku menyerupai demonstran yang
dilempari gas air mata: ricuh, brutal, dan kehilangan arah.
“Sekarang atau
selamanya jadi penyesalan!” batinku berteriak.
Aku hampir bangkit.
Hampir ya. Karena, sebelum keberanian itu lahir sempurna, ia sudah lebih dulu
membuka pintu dan raib bersama hujan yang belum selesai.
Aku terdiam, memandangi
pintu itu seperti seorang veteran yang baru saja kehilangan tanah airnya.
Lucu sekali bagaimana
seseorang yang bahkan belum sempat kita ajak bicara bisa meninggalkan lubang
kehilangan sedalam itu.
Malam semakin larut.
Aku menyalakan rokok terakhir sambil menertawakan diri sendiri. Betapa absurd
manusia: menciptakan harapan dari tatapan singkat dan menyebutnya takdir.
Lalu pelayan kedai
menghampiriku membawa secarik kertas. “Mas, tadi ada titipan.”
Aku mengernyit. Di
kertas itu tertulis pendek: “Dari tadi pura-pura main HP sambil ngelihatin saya
terus. Next time, kalau mau kenalan, jangan takut. Kamu laki enggak?”
Kalimat penutup pesan
itu menghantam.
Tertera juga sebuah
username Instagram. Aku membeku. Jantungku kembali kacau. Bedanya, kali ini
bukan karena kehilangan—melainkan karena semesta rupanya belum selesai
mempermainkanku dengan cara yang paling manis.
Post a Comment