Search This Blog

Arsip Blog

Followers

Bookmark
Featured Post

Menjadi Asing dalam Rutinitas

Seusai membaca kembali karya Albert Camus, khususnya L'Étranger (Orang Asing), aku mulai melihat rutinitas sehari-hari dengan cara yang berbeda. …

Kepingan Salju di Jalan Himpunan


Tahun 2016, penghujung Maret, sebelum April benar-benar datang. Semuanya bermula di persimpangan jalan Himpunan, pada awal periode kepengurusan.

Di ruang depan sekretariat—ruang yang biasa dijadikan tempat menerima tamu dan berdiskusi oleh para takmir yang menetap di sana—dia duduk sendirian. Mengenakan baju biru dongker dengan rok panjang berwarna gelap, ia tampak diam dan tenggelam dalam dunianya sendiri. Tak ada siapa-siapa selain dirinya saat itu.

“Lagi menunggu seseorang,” katanya singkat ketika salah seorang takmir bertanya.

Sembari memainkan handphone, ia sesekali tersenyum kecil. Dari ruang tengah aku memperhatikannya diam-diam. 

“Kriinggg…” Notifikasi pesan dari telepon genggamnya berbunyi. Tanpa menunggu lama, jemarinya segera sibuk membalas. Pesan demi pesan datang silih berganti, dan ia membalasnya dengan cepat, seolah sedang berpacu dengan waktu. Kadang-kadang ia tersenyum sendiri membaca balasan yang muncul di layar.

Merasa tidak enak membiarkannya sendirian di ruang depan, aku menghampirinya dan duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Ia mengangkat wajah, tersenyum tipis, dan aku membalas senyum itu seadanya.

Waktu itu kami belum saling mengenal nama. Aku tidak langsung mengajaknya bicara mendalam. Sekadar basa-basi. Apalagi menanyakan mengapa ia tersenyum sendiri seperti orang yang sedang menyembunyikan rahasia kecil. 

Meski belum saling mengenal, aku tahu satu hal: orang yang tersenyum sendiri sambil menatap layar telepon biasanya sedang jatuh cinta. Itu tebakan paling klise, tapi hampir selalu benar.

Kesan pertamaku terhadapnya pun tidak jauh berbeda dari kebanyakan remaja seusianya: seseorang yang sedang menikmati masa-masa kasmaran dengan segala gejolak kecil di dalamnya.

Tak lama kemudian, orang yang ditunggunya datang. Ternyata salah seorang pengurus juga. Aku pun meninggalkan mereka berdua di ruang depan dan kembali ke ruang tengah melanjutkan membaca novel.

Begitulah sepintas ingatan tentang pertemuan pertama kami—pertemuan yang pada akhirnya membuatku tertarik mendengarkan cerita-cerita tentang jalan hidup yang kemudian ia pilih.

Waktu terus bergerak. Bulan-bulan berganti sebagaimana hujan datang menggantikan musim panas.
 
Sejak awal perkenalan hingga pertengahan periode kepengurusan, kesanku terhadapnya belum berubah. Ia masih tampak sama seperti pertama kali kulihat: ceria, modis, dan tak jauh berbeda dari kader-kader akhwat lain di Himpunan kami.

Hingga suatu hari, ketika ia datang ke sekretariat dan aku sedang membaca buku tentang emansipasi Kartini. Aku menemukan sesuatu yang beda. Tanpa salam pembuka, ia langsung duduk di tempat biasanya, lalu menyinggung buku yang sedang kubaca.

“Apa yang kau pahami dari emansipasi?” tanyanya.

Pertanyaan itu kemudian berkembang menjadi diskusi panjang. Aku terkejut mendengar cara pandangnya. 

Ia berbicara tentang bagaimana laki-laki selalu ditempatkan lebih unggul dibanding perempuan dalam banyak struktur sosial masyarakat. Tentang bagaimana perempuan sering kali dipaksa menerima posisi kedua hanya karena dianggap diciptakan dari tulang rusuk laki-laki.

“Pemahaman seperti itu,” katanya, “membuat perempuan seolah tercipta bukan sebagai manusia utuh, melainkan pelengkap.”

Aku diam mendengarkan.

“Karena itu perempuan selalu diarahkan untuk hidup di bawah perlindungan laki-laki, seakan-akan tidak bisa berdiri sendiri.”

“Lalu, maumu bagaimana?” tanyaku penasaran.

Ia terdiam sesaat, seperti sedang menyusun kata-kata terbaik di kepalanya.

“Aku ingin ada perubahan,” jawabnya kemudian. “Aku ingin perempuan dipandang setara dengan laki-laki. Apabila masyarakat tidak bisa mengubah cara pandangnya, setidaknya aku akan membangun sistem nilaiku sendiri. Tak peduli bagaimana orang memandangnya.”

Aku takjub mendengarnya. Bukan semata karena gagasannya, tapi karena keberanian yang tersimpan di balik cara bicaranya.


Oktober, 2016. Periode kepengurusan hampir berakhir ketika kami mengikuti agenda Rapat Pimpinan Komisariat II di Solo, Jawa Tengah.

Aku kembali melihatnya—tapi sebagai sosok yang berbeda. Ia mengenakan gamis panjang dan jilbab besar yang menjuntai longgar menutupi tubuhnya. 

Sangat berbeda dibanding dirinya yang dulu. Bedak dan lipstik yang biasanya menghiasi wajahnya pun hilang. Ia tampil jauh lebih sederhana, bahkan cenderung asing di mataku.

“Ke mana perginya pakaian-pakaian modismu?” pikirku heran.

Hari itu cuaca Solo cukup panas, tapi ia bahkan menutupi telapak tangannya dengan sarung tangan hitam. Aku semakin bingung.

Di sela waktu istirahat, aku sengaja duduk di sampingnya. Karena buku Kartini yang dulu kubaca telah selesai, aku kembali mengangkat topik emansipasi yang pernah kami perdebatkan. Bahkan saat itu aku sudah melahap buku-buku Ayu Utami.

Kupikir ia masih menjadi perempuan yang sama: perempuan yang ingin meruntuhkan ketimpangan sosial antara laki-laki dan perempuan. Ternyata, aku salah.

“Perempuan dan laki-laki memang tidak diciptakan untuk sama dalam segala hal,” katanya pelan. “Masing-masing punya porsinya sendiri.”

Aku menatapnya lama.

“Bukan berarti perempuan lebih rendah,” lanjutnya. “Islam justru memuliakan perempuan. Allah hanya membagi peran dengan adil.”

Ia lalu berbicara tentang laki-laki yang berkewajiban menafkahi, tentang perempuan yang taat kepada suami, tentang pembagian peran yang menurutnya sudah ditetapkan dengan seimbang.

Aku terdiam. Ada sesuatu yang terasa berubah begitu jauh dalam dirinya. Aku mencoba mencari sosok perempuan yang dulu berbicara lantang tentang kesetaraan gender. Tentang keberanian melawan nilai-nilai moral yang dianggap menindas perempuan. 

Sosok itu perlahan menghilang. Seperti tertelan dalam kepingan salju. Entah ke mana. Kini di sampingku duduk seseorang yang berbeda sama sekali dari perempuan yang pernah kukenal di ruang depan sekretariat dahulu.


Maret, 2017. Ia meninggalkan Yogyakarta. Kini ia tak hanya mengenakan gamis dan jilbab besar, tapi juga telah bercadar. Perubahan itu membuatku benar-benar tercengang. Aku tidak pernah menyangka ia akan memilih jalan hidup seperti itu.

Suatu hari aku mengunggah foto lama kepengurusan kami di media sosial. Untuk mengenang masa lalu. Foto ketika kami menjadi delegasi Himpunan dalam sebuah musyawarah nasional di Semarang.

Selang berapa menit kemudian ia membalas postingan, memintaku menghapus foto itu. Atau setidaknya tidak lagi mengunggah foto yang memperlihatkan wajah dan telapak tangannya.

“Kenapa?” tanyaku.

“Tidak apa,” jawabnya singkat.

Jawaban itu justru membuatku semakin penasaran. Aku memang pernah mendengar kabar bahwa ia sedang berhijrah—berusaha meninggalkan kehidupan yang dianggap terlalu duniawi demi mencari ridha Allah. Hanya saja aku tidak menyangka proses itu akan membawanya sejauh ini.

Bahkan salah seorang teman pengurus pernah bercerita bahwa demi memantapkan hijrahnya, ia rela melepaskan mimpi melanjutkan studi S2 di luar negeri dan memilih masuk pesantren tahfidz di Bandung.

Aku tidak tahu seberapa besar pergulatan yang ia lalui sampai mengambil keputusan sebesar itu. Hanya satu hal mulai kusadari: perubahan dalam dirinya bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia sedang berperang dengan dirinya sendiri. Mungkin peperangan itu jauh lebih berat daripada yang selama ini kulihat dari luar.

Karena rasa penasaran itulah aku akhirnya memberanikan diri meminta ia menceritakan semuanya secara langsung. Awalnya ia menolak.

“Untuk apa?” tanyanya.

Setelah cukup lama kubujum. Kubilang bahwa aku selalu penasaran dengan orang yang punya keberanian untuk berhijrah. Mengakui bahwa diri sebelumnya belum baik, dan menyadari bahwa hidup ini tidak bebas nilai. Akhirnya ia bersedia.

“Surga Allah tidak mudah dan murah,” katanya membuka cerita.

Kemudian ia bercerita tentang proses panjang mencari hidayah. Tentang ketakutan, keraguan, dan perjuangan meyakinkan kedua orang tuanya.

“Hidayah tidak datang sendiri,” katanya lirih. “Kita harus menjemputnya. Jalan menuju Allah memang berat, tapi aku harus menjalaninya. Kalau cobaan semakin berat, mungkin itu tanda Allah sedang menguji kesungguhanku.”

Aku mendengarkan tanpa menyela. Untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa hijrah bukan sekadar perubahan pakaian atau penampilan. Ada pergulatan batin yang panjang di baliknya.


Tahun 2022. Aku tak lagi tahu ia berada di mana. Mungkin ia juga tak tahu aku berada di mana. Terkadang aku masih teringat diskusi kami tentang emansipasi dahulu. 

Tentang keberaniannya melawan struktur sosial. Tentang keyakinannya pada kesetaraan. Tentang bagaimana hidup, pada akhirnya, membawa manusia menuju jalan yang sama sekali tak pernah kita duga.

Bagaimanapun, teruslah berjalan dengan keyakinan yang kaupilih, Kawan. Seperti katamu dulu:
“Surga Allah tidak mudah dan murah.”

Post a Comment

Post a Comment