Search This Blog

Arsip Blog

Followers

Bookmark
Featured Post

Menjadi Asing dalam Rutinitas

Seusai membaca kembali karya Albert Camus, khususnya L'Étranger (Orang Asing), aku mulai melihat rutinitas sehari-hari dengan cara yang berbeda. …

Apa Enak Jadi Manusia?

“Enggak gampang menjadi manusia.”
— O

“Katakan padaku, menjadi binatang apa yang kau inginkan? Akan kuubah dengan sihirku.” Kalimat dalam Hikayat 1001 Malam itu seperti menemukan gema lain dalam novel O karya Eka Kurniawan. 

Dalam novel ini, Eka seolah mengajak kita masuk ke satu perenungan filosofis yang sederhana sekaligus menyakitkan: betapa susahnya menjadi manusia.

Tokoh utamanya adalah seekor monyet bernama O yang bercita-cita menjadi manusia demi memperjuangkan cintanya kepada Entang Kosasih—kekasihnya yang, menurut keyakinannya, telah bereinkarnasi menjadi manusia dan menjelma sebagai kaisar dangdut. Premis yang terdengar absurd itu perlahan berubah menjadi satire tentang manusia itu sendiri.

Meski tahu menjadi manusia bukan perkara mudah, O tidak pernah menyerah. Ia mengamati tingkah laku manusia lalu mencoba menirunya. 

Terkena lemparan bonggol jagung ketika hendak mencuri sepeda roda tiga, hingga dipukul panci saat mengintip orang mandi, tak juga membuatnya mundur. Tapi, di tengah usahanya menjadi manusia, O justru menemukan kenyataan pahit tentang manusia: bahwa hidup tak lebih dari perkara makan atau dimakan.

“Kau harus memakan yang lain, sebab jika tidak, kau akan dimakan.” (O, hal. 59)

Jika dipikir-pikir, bukankah memang demikian kenyataannya?

Manusia, yang katanya makhluk paling sempurna ciptaan Tuhan itu, justru sering hidup dalam hasrat yang tak pernah selesai. Ambisi, keinginan, dan nafsu menjadi sesuatu yang terus menggumpal di dalam dirinya. Untuk mendapatkan kebahagiaan, manusia kerap harus merampas kebahagiaan orang lain—baik secara sadar maupun diam-diam.

Dalam politik misalnya, tidak jarang manusia menghancurkan kawannya sendiri demi kekuasaan. Menyingkirkan, menikung, mencaci, bahkan merampas hak orang lain demi jabatan dan eksistensi diri. Korupsi yang menyengsarakan rakyat pun lahir dari tangan manusia, bukan binatang.

Mungkin benar juga apa yang pernah ditulis Soe Hok Gie dalam catatan hariannya: “Sejarah manusia adalah sejarah pemerasan.”

Kalimat itu terdengar getir, tetapi sulit dibantah. Seolah-olah sejarah memang dibangun di atas pengkhianatan, kesedihan, dan perebutan kepentingan. Tragisnya, semua itu dilakukan oleh makhluk yang menyebut dirinya beradab.

Atau ambil contoh yang lebih sederhana: asmara.

Tiga malam lalu, seorang kawan datang ke kontrakanku sekitar pukul dua belas malam. Awalnya ia hanya ingin berdiskusi soal organisasi mahasiswa dan idealisme perjuangan yang sejak lama kami yakini. Sialnya, sebelum percakapan itu mencapai ujungnya, ia tiba-tiba bercerita tentang kisah cintanya yang hancur.

Padahal hubungan itu sudah berjalan lebih dari satu setengah tahun. Ia sudah mengenal orang tua kekasihnya, bahkan berencana melamar setelah lulus kuliah. Sebidang sawah warisan keluarga pun telah ia siapkan sebagai modal menikah. 

Hidup rupanya suka bercanda dengan cara yang kejam. Sebelum kisah mereka berakhir bahagia seperti dongeng Cinderella, datang seorang duda beranak satu dengan pekerjaan yang lebih mapan dan keadaan ekonomi yang lebih menjanjikan. Singkat cerita, kekasihnya memilih si duda. Kawanku pun patah hati berpunama lamanya. Sadis.

Lucunya, lagu Cukup Siti Nurbaya ia nyanyikan untuk sang kekasih di bawah langit malam berlanskap bintang-gemitang bahwa “hanya cinta yang sejukkan dunia” rupanya tak cukup menyelamatkan kisah kawanku. Atau mungkin karena lagu “Karena Wanita Ingin Dimengerti” terlalu lama diputar, sampai-sampai mereka lupa bahwa lelaki juga ingin dimengerti.

Dari cerita itu, aku justru kembali menemukan tentang manusia: ternyata bukan hanya sulit menjadi manusia, tetapi juga mustahil sepenuhnya memahami hati mereka. 

Seperti yang pernah ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia: “Jangan anggap remeh manusia…” Sebab manusia memang makhluk yang rumit. Kau bisa mengenalnya bertahun-tahun, tetapi tetap tidak pernah benar-benar tahu apa yang bergerak di dalam hatinya.

Tapi dari semua itu, aku akhirnya hanya sampai pada satu kesimpulan kecil: mungkin memang enggak enak menjadi manusia. Kita dilahirkan dengan susah payah, dipenuhi keinginan yang tak pernah selesai, lalu dipaksa hidup di dunia yang sering kali lebih sibuk mempertontonkan kerakusan daripada kasih sayang.

Mungkin benar kata para pesimis kuno: hal terbaik bagi manusia sebenarnya adalah tidak pernah dilahirkan sama sekali. Karena itu mustahil, mungkin pilihan terbaik kedua adalah menjadi binatang—makhluk yang hidup tanpa perlu berpura-pura suci seperti manusia.
Post a Comment

Post a Comment