Wednesday, February 8, 2017

Ngobrol Enak: Antara Cinta, Fallacy & Dia

Tags














"Cinta itu indah, boi. Ia hadir untuk memberikan pengharapan lewat kasih dan sayang. Tidak ada kepantasan untuk kita bersedih di dalam cinta. Cinta itu menguatkan bukan melemahkan hati." Kata saya mencoba bijak.
Lontaran kalimat itu saya katakan ketika mencoba mengalihkan obrolan diskusi kami yang awalnya bertemakan filsafat, untuk beralih menjadi ngobrol enak betemakan cinta di salah satu kedai kopi di daerah Kaliurang KM 12.5, meskipun saya sangat tahu bahwa kami berdua adalah sepasang laki-laki jomblo. Tapi bukankah jomblo juga punya hak untuk membicarakan cinta? Saya kira dia-pun akan sepakat dengan pedapat saya.

Tapi apa jawabnya dari si Kawan yang saya panggil boi itu? "Tahu apa kau tentang cinta? Selama ini-pun tidak pernah saya melihatmu dekat dengan perempuan." Nyelekit, dan sangat terbilang pedas sekali untuk didengar.

Jika mencoba mengambil makna dari perkataan yang terbilang sangat menyakitkan itu secara bijak, melihat konteks peristiwa mengapa si Kawan mengemukakan seperti itu, saya bisa mengamini perkataan si Kawan: Tahu apa kau tentang cinta? Adapun perkataan saya yang sok bijak itu juga bukan hadir atas pengalaman pribadi sepenuhnya. Saya hanya pernah mendengarnya dari sebuah film: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijh, lewat sepotong kalimat dari kisah Hayati kepada Zainuddin ketika mereka hendak berpisah.

Tapi bila dilihat dari sisi lain, bukan bermaksud untuk membela diri, hanya bertanya balik: Tahu apa dia, si Kawan itu, tentang saya? Toh, dia baru mengenal saya sejak di bangku kuliah saja. Itupun baru 2 tahun lalu. Sekarang umur saya sudah 23 tahun. Berarti ada masa dimana, diumur saya yang ke 21 tahun sampai kebawah, dia, si Kawan itu, tidak mengetahui saya secara keseluruhan. Pertanyaan selanjutnya: Apakah perkataan si Kawan itu bisa dianggap benar secara keseluruhan?, yang katanya: Selama ini tidak pernah melihatmu dekat dengan perempuan.

Saya pikir si Kawan sudah tidak kritis lagi dalam diskusi ini. Dia lupa bahwa dalam membuat penyataan, agar tidak bias, jangan sampai meninggal perihal konteks masa lalu sebelum menilai. Tidaklah jarang dari setiap pernyataan, seseorang selalu membawa pengalaman masa lampaunya untuk dijadikan premis-premis penghubung ketika menentukan konklusinya. Oleh sebab itu, dalam kasus si Kawan ini, dia telah terjebak dalam fallacy -kesalahan berfikir- ketika menilai saya tanpa mempertanyakan adakah peran masa lalu yang  saya jadikan sebagai premis penghubung dalam pernyataan yang saya lontarkan.

Tanpa sepengetahuan si Kawan ketika saya duduk dibangku SM*, saya pernah mempunyai cerita dari kisah asmara meskipun itu bertepuk sebelah tangan. Sebut saja namanya Lis. Dia gadis tercantik dan termanis yang pernah saya temui. Tidak ada seorang gadis yang bisa mengalahkan kejelitaanya dalam penilaian saya, baik itu disandingkan dengan Dian Sastro maupun Chelsea Islan, dia tetap yang tercantik dan terjuara di hati.

Di bawah pelopok matanya yang sebelah kiri, ada satu titik hitam: Andeng-andeng. Kotoran atau tahi dari alat itu bukan membuatnya seperti tidak punya estetik, tapi membuat siapa saja yang memandang akan jatuh cinta pada keterpesonaannya. Apalagi senyumnya, adem banget. Jika Hayati disebut sebagai Permata Yang Hilang oleh Zainuddin dan Annelies Mallema digambarkan sebagai Bunga Penutup Abad oleh Minke, maka Lis adalah Alegori di Balik Kehidupan bagi saya. Mengapa?

Bukan pada senyumnya yang adem itu yang membuatnya cantik, melainkan kesucian yang berterbangan di dalam benaknya. Bukan pada mata indahnya itu yang membuatnya menarik hati dan cantik, melainkan bagi siapa saja yang memandang akan lebih tertarik pada terang Ilahi yang memancar dari mata yang kebiruannya itu. Bukan pula pada bibirnya yang merah dan sesegar buah delima itu yang membuatnya menarik, tapi dari kata-katanya yang manis dan selalu melambangkan suara Ilahi itu yang membuatnya cantik.

Melalui Lis, saya belajar bahwa cinta adalah bla bla bla bla dan bla. Meskipun cinta ini bertepuk sebelah tangan, seperti halnya kisah Zainuddin yang menempat Hayati sebagai permata inspirasinya dalam setiap tulisannya, begitu-pun saya terhadap Lis. Lis telah menata kerangka dasar bagaimana saya harus terus menulis dari balik kehidupan. Sehingga dari itu, tidak ada kepantasan dalam diri kita bersedih di dalam cinta. Cinta itu menguatkan bukan melemahkan hati. 


EmoticonEmoticon