Tuesday, April 4, 2017

HMI, Alasan Mengapa Aku Menjadi Bagian darinya

Tags

Kalau tulisan ini mau diawali dengan sedikit kejujuran dan berkecilan hati, sebenarnya saya tidak pernah menyangka bisa masuk HMI setelah empat tahun lebih bertahan, dengan alasan yang logis tentunya. Seperti teman-temanku yang ketika ditanya alasan mengapa ingin masuk HMI menjawabnya dengan alasan yang penuh  ideologis, agamis dan nasionalis. Apalagi, setelah empat tahun lebih berkecimpung di dalamnya, saya juga tidak pernah menyangka dan sampai kepikiran aktif bertahun-tahun di HMI, dan bahkan sempat menjadi bagian pengurus di organisasi pengkaderan dan perjungan ini. Baik itu di tingkat Komisariat dan Cabang.

Bukannya apa. Sependek pengetahuan saya, organisasi himpunan ini merupakan wadah yang mendidik mahasiswa Islam menjadi cendikiwan muslim, yang kelak akan dilanjutkan memperjungankan kemasyarakatan. Alumnus-alumnusnya-pun telah banyak menjadi pemuka di berbagai bidang bagi bangsa Indonesia dan umat Islam. Dengan melihat dari setahuku itu, saya merasa tidak mempunyai andil kepantasan untuk masuk menjadi bagiannya dan bahkan bertahan di sana, kala itu.

Jauh sebelum saya memutuskan masuk menjadi bagian HMI, saya jadi teringat cerita pada saat awal-awal saya berkeinginan masuk HMI, atau lebih tepatnya dipaksa masuk organisasi oleh kakak sepupu. Kakak sepupuku ini hanya terpaut beberapa tahun dari umurku tapi kuliahnya satu angkatan, 2012. Dia kuliah di Yogyakarta juga, UIN Sunan Kalijaga. Sedang saya di UII.

Begini ceritanya:
Tengah malam ketika dia datang bermain ke Kos, di Kaliurang KM 14. Waktu itu kita masih kuliah semester 2. Dia datang berbocengan dengan kawanku waktu di Pondok, Yayan. Setelah banyak berbincang tentang ini dan itu sambil saya seduhkan kopi sebagai penghangat obrolan, dengan sedikit agak kaget dan memaksa, dia bilang kanyak gini kepadaku, “Kamu harus masuk organisasi, Jul. Jangan jadi mahasiswa yang cuma kuliah saja”

Alasan mengapa saya terbilang kaget, ya karena dia tahu sendiri kalau saya bukan tipikal orang yang bisa masuk dalam suatu kelompok atau komunitas yang banyak aturan. Apalagi organisasi mahasiswa yang bersifat pergerakan. Dia juga tahu kalau saya sukanya hal-hal yang berbau kegiatan hedonis.

Masuk organisasi mahasiswa? Tanya saya dalam hati. Organisasi yang ditawarkan itu HMI, yang ketika saya tanya apa kepanjangan dari singkatan itu ternyata ada embel-embel Islam-nya. Bukannya saya anti Islam, saya sempat mondok lama juga di Jombang dan Bangkalan, kok. Tapi, selain menimbang kedirianku yang merasa tidak pantas, saya juga memikirkan apa reaksi teman-teman ketika mereka tahu bahwa saya masuk ke HMI. Terutama teman-teman satu angkatan di kampus, yang setiap harinya mengajak dan saya ajak kepada hal-hal berbau negatif.

Usut punya usut, ternyata setelah beberapa hari dari kedatangan kakak sepupuku itu, alasan mengapa kakak sepupuku itu menyuruh saya masuk organisasi, karena dia sudah telah lebih dulu masuk pada organisasi. Tapi bukan HMI, melainkan PMII. Jadi cara dia beretorika dan mengajakku masuk organisasi, sepertinya, masih terbawa dari pelatihan kader yang ia ikuti seminggu yang lalu, yang sok idealis dan nasionalis tentang mengapa saya sebagai mahasiswa, katanya, harus ikut andil dan masuk organisasi.

Sebenarnya, dari sedikit kejujuran terhadap keber-HMI-anku, dengan terpaksa dan berat hatinya saya harus mengikuti perintah darinya dengan beberapa alasan. Satu, dikarenakan dia yang lebih tua dariku. Kedua, orang tuaku sudah menitipkan dan menyuruh kakak sepupuku itu untuk menjaga saya. Meski sedikit agak daplek, tapi saya dari dulu, dan itu memang ajaran dari keluarga, kalau saya tidak boleh menentang saudara yang lebih tua dan orang tua.

Meski sejak semester 2 saya sudah disuruh masuk HMI, tapi kesempatan saya menjadi bagian darinya, yakni kader HMI, baru ketika semester 3 akhir, sekitar bulan November 2013 kalau tidak salah. Juga, walaupun pada awal menjadi kader HMI saya kurang begitu aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh pengurus Komisariat, tapi berkat dari pengalaman di organisasi terhimpun dari berbagai golongan ini, banyak pembelajaran yang saya dapatkan. Tanpa HMI, saya tidaklah mungkin menjadi saya yang sekarang. 

Melihat alasan mengapa saya ikut menjadi bagian HMI, mungkin benarnya juga apa yang pernah disampaikan salah satu senior di HMI Komisariat FTI UII, bahwa saya telah tersesat di jalan yang benar.

5 komentar

hahaha, yang awalnya hanya sekadar perintah/ajakan biasa, walhasil berujung pada kepengurusan cabang.

mantap, pak Siroj :)

Tersesat di jalan yang benar ceritanya saya ini, Rum. Hahaha

Salam kenal semuanya
jangan lupa mampir ke blog aku ya :)
banyak artikel menarik, bermanfaat dan lucu ^^
Dan jangan lupa adu keberuntungannya di Taipanpoker. org yach
http://artikeltaipanpoker.blogspot.com/2018/01/10-mitologi-asal-indonesia.html

Karna Di ERTIGAPOKER Sedang ada HOT PROMO loh!
Bonus Deposit Member Baru 10%
Bonus Deposit 5% (klaim 1 kali / hari)
Bonus Referral 15% (berlaku untuk selamanya
Rollingan Mingguan 0.3% (setiap hari Kamis
Rollingan Bulanan 0.1% (setiap tanggal 2)

ERTIGA POKER
ERTIGA
POKER ONLINE INDONESIA
POKER ONLINE TERPERCAYA
BANDAR POKER
BANDAR POKER ONLINE
BANDAR POKER TERBESAR
SITUS POKER ONLINE
POKER ONLINE

Karna Di ERTIGAPOKER Sedang ada HOT PROMO loh!
Bonus Deposit Member Baru 10%
Bonus Deposit 5% (klaim 1 kali / hari)
Bonus Referral 15% (berlaku untuk selamanya
Rollingan Mingguan 0.3% (setiap hari Kamis
Rollingan Bulanan 0.1% (setiap tanggal 2)

ERTIGA POKER
ERTIGA
POKER ONLINE INDONESIA
POKER ONLINE TERPERCAYA
BANDAR POKER
BANDAR POKER ONLINE
BANDAR POKER TERBESAR
SITUS POKER ONLINE
POKER ONLINE


EmoticonEmoticon