Friday, April 14, 2017

Sang Kawan Yang Memutuskan Hijrah

Tags

Tahun 2016, di penghujung waktu sebelum masuk ke bulan April. Berawal dari persimpangan jalan Himpunan, di awal periode ketika menjadi pengurus. Pada ruang depan yang biasanya ditempatkan sebagai ruang tamu dan diskusi oleh para takmir yang tinggal di sekretariat itu, dia diam, sendirian, berbaju biru dongker dengan terusan rok berwarna kehitaman. Tak ada orang lain selain dia di ruang depan pada waktu itu. “Lagi menunggu seorang,” katanya menjawab kala salah satu takmir di sekretariat bertanya.
Sembari asik memainkan handphone, aku perhatikan dia dari ruang tengah. “Kriinnggg...,” sebuah notifikasi penanda pesan dari handphonenya berbunyi.
Tak ingin menunggu jeda waktu, jari-jemarinya mulai sibuk menenun kata demi kata sebagai pesan balasan. Dalam perhatianku, dia seolah berpacu dengan waktu. Pesan yang dia kirim dan kemudian terbalas, dengan cepat pula dia balas. Dan terkadang, dalam permainan saling mengirim pesan itu, dia bertingkah senyam-senyum sendiri. Merasa kasihan karena sendirian berada di ruang depan, aku hampiri dia dan mengambil posisi duduk yang berlawanan arah. Dia senyum, dan kubalas sapaan senyumnya dengan senyum juga.
Waktu itu kita masih belum mengenal nama. Jadi, aku tak langsung menegur dan apalagi sampai hati menanyakan mengapa dia bertingkah demikian –senyam-senyum sendiri. Tapi, walaupun belum mengenal satu sama lain, aku tahu dan bisa aku tebak, kalau ada orang bertingkah senyam-senyum sendiri, itu berarti sedang kasmaran. Sebab itu tak perlu aku berbasa-basi menanyakan alasan “mengapa” untuk memperoleh jawaban. Pesan tersirat dari senyum itu sangat klise sekali untuk dibanyak-tafsirkan. Pun, selintas kesan pertama yang aku peroleh darinya tidak jauh berbeda dengan remaja kekenian pada umumnya yang haus asmara di masa muda.
Tak berselang berapa lama, seorang yang ditungunya pun tiba, dari pengurus juga ternyata. Lantas aku tinggalkan mereka berdua di ruang depan. Membahas atau membicarakan apa, aku tidak lagi tahu. Dan kemudian aku kembali pada aktivitas sebelumnya di ruang tengah, baca novel. Begitulah sepintas bila aku mengulas kembali ingatan tentang pertemuan kali pertama mengenalnya, sebelum pada akhirnya aku tertarik mendengar cerita-cerita yang dia sampaikan tentang pilihan hidup yang dia pilih.

Selang poros waktu terus memacu dan melaju, di mana bulan-bulan pada hitungan kalender terus berubah mengikuti perputaran bumi, sama seperti awal bertemu dan mengenal, kesan pertamaku hingga memasuki pertengahan periode kepengurusan belumlah berubah. Dia masih tak ada bedanya daripada sebelumnya, dan tak ada bedanya pula bila aku coba bandingkan dengan kader-kader akhwat di organisasi Himpunan yang kami tempuh.

Kala itu dia datang ke sekretariat, dan aku berada di ruang depan membaca satu buku. Tanpa salam terlebih dahulu, dan melihatku membaca buku tentang "emansipasi" Kartini, sembari kemudian mengambil posisi duduk yang biasa dia tempati, dia sambar aku dan mengajak berdiskusi tentang emansipasi.
Kata-katanya tentang emansipasi membuatku takjub, terlepas aku belum memahaminya secara penuh. Bobroknya nilai-nilai moral yang dia sampaikan bahwa laki-laki selalu ditempatkan lebih unggul dari perempuan, menggugahku. Adapun dalam pandangan umum yang selalu dipahami kalau perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, dia katakan telah membentuk stigma dan sekat bahwa perempuan diciptakan bukan dari satu proses penciptaan yang sempurna seperti halnya laki-laki. Sebab itu, terangnya, “Perempuan harus mesti menerima kenyataan hidup di bawah naungan dan perlin-dungan laki-laki bagai sang induk.
Lantas kau inginnya bagaimana?” tanyaku begitu penasaran. Sembari dia masih diam, kulihat air muka yang tergores di wajahnya seperti berpikir untuk mengolah tenunan kalimat jawaban yang tepat.
Aku ingin ada satu perubahan dari bobroknya nilai-nilai moral itu. Aku ingin kesetaraan gender, inginkan perempuan dipandang sama seperti halnya laki-laki. Jika tidak, aku akan mengubah nilai-nilai moral itu, setidaknya dalam sistem nilai moralku sendiri. Tak peduli orang akan memandang seperti apa.

---oOo---
Oktober, 2016. Pada perbatasan waktu memasuki berakhirnya periode kepengurusan, di suatu tempat yang belum pernah kami jamah.
Waktu itu dia juga ikut serta dalam agenda rutin Rapat Pimpinan Komisariat II, di Solo, Jawa Tengah. Pakaian yang dia kenakan sangat syar'i, berjubah raksasa dengan terusan jilbab superbesar dan longgar, sangat beda dari sebelumnya. “Hilang ke mana pakaian modismu?” pikirku. Sapuan bedak dan lispitk yang biasa terulas di wajahnya pun hilang entah ke mana. Dia lebih natural –dan tentu saja menambahkan kecantikannya yang begitu alami. Pun dia tutupi pula telapak tangannya dengan sapu tangan berwarna hitam. Padahal siang itu hari terbilang panas. “Ini anak kenapa?” tanyaku lagi dalam pikiran tambah penasaran dan sekaligus bingung.

Di sela-sela waktu istrirahat, di halaman depan, bersama empat pengurus lainnya, aku sengaja mengambil satu tempat duduk di sebelah kanannya. Sembari menunggu waktu, yang mana buku tenatang Kartini itu juga telah kubaca habis, aku tawarkan diskusi perihal emansipasi.
Aku tahu dia adalah perempuan yang menghendaki "perubahan sosial" yang mana sampai saat ini kaum laki-laki masih selalu ditempatkan sebagai sosok sentral di tengah-tengah sosial masyarakat daripada kaum perempuan. Sebab aku tahu itulah kenapa kudagangkan diskusi emansipasi padanya. Tak dinyana, tawaran emansipasiku untuk menyetarakan hak yang sama, dia beli dengan gagasan tak seperti dulu.
Perempuan dan laki-laki sudah ada porsinya masing-masing. Tak bakal sama,” terangnya. “Antara perempuan dan laki-laki tidak bisa setara dalam semua hal, karena semuanya sudah ada porsinya masing-masing. Tapi itu bukan lantas persoalan ini menjadikan perempuan berada di bawah laki-laki, tidak. Sama seperti laki-laki, Islam sangat memuliakan kaum perempuan.” “Dan Allah,” lanjutnya menerangkan, “Telah menempatkan pembagian dalam persoalan itu dengan sangat begitu adil. Jadi, penciptaan manusia oleh Allah, baik perem-puan maupun laki-laki, telah diberi tugas masing-masing; misalnya laki-laki wajib menafkahi perempuan tapi tidak perempuan, namun perempuan harus taat pada laki-laki karena telah menafkahinya.
Seraya terdiam tak tahu arah dan tak percaya dengan lontaran gagasan barunya, kuperhatikan dia secara seksama, sembari mencari-cari sosok yang pernah kukenal dan kuakrabi dahulu. Hilang kemana gagasan ide kesataraan gender yang pernah dia sampaikan padaku? Hilang kemana komitmennya yang ingin meruntuh bobroknya nilai-nilai moral itu? Ditambah dengan pakaian jubah raksasa dengan terusan jilbab superbesar dan longgor, kemana pakaian super modis biasa dia kenakan? Dia pun sekarang tampak lebih natural, tak berbedak dan berlipstik. Dia tak lagi seperti yang kukenal sejak pertemuan itu, seperti telah tertelan dalam kepingan salju.

---oOo---
Tahun 2017, bulan Maret, yang mana waktu telah melepaskannya meninggalkan Yogyakarta. Kini dia tak hanya berjubah raksasa, jilbab superbesar dan begitu longgar, tapi telah bercadar. Satu terobosan perubahan diri yang membuatku, sebagai temannya, tercengang dan tidak menyangka kalau dia akan mengambil jalan hidup seperti itu.
Tak hanya itu. Yang mana periode masa kepengurusan telah berakhir, kala aku mencoba mengenang masa-masa periode kepengurusan dengan memposting salah satu foto di media sosial, di mana waktu itu kami menjadi utusan pengurus untuk mengikuti musyarawarah Himpunan tingkat Badan Koordinator Cabang di Semarang, yang mana kala itu dikawani oleh Ketua Umum, Bendahara Umum, Ketua Bidang Kajian dan Pelatihan, dan serta dua staff lainnya, selang berapa jam setelah postingan itu terunggah, dia tiba-tiba mengirimkan sebuah pesan singkat padaku.
Dalam pesannya itu, dia katakan kalau bisa postingan itu dihapus. Atau paling tidak, kata dia, usahakan jangan lagi memposting foto di mana dia memperlihat bagian wajah dan telapak tangan. Aku tak habis pikir kenapa wajah dan telapak tangan tidak lagi diperbolehkan. “Kenapa?” tanyaku membalas. Tapi, tanyaku dia balas singkat, “Tidak apa.
Dulu, seusai dari penghelatan agenda di Solo, memang ada yang bilang padaku bahwa dia berusaha menghijrahkan diri. Yakni, sebuah proses yang mana dia ingin meninggalkan dan menjauhkan diri dari sifat duniawi yang menghambatnya memperoleh Ridho Allah. Tapi aku tak menyangka dia akan seserius itu.
Pun, pernah pula aku sempat mendengar dari salah satu pengurus yang juga menjadi takmir, bahwa perubahan awal di mana dia memutuskan hijrah diawali saat mulai dekat dengan laki-laki. Alasan apanya saat aku tanya, tidak tahu. Adapun salah satu teman akrabnya di kepengurusan, ketika kami mulai sibuk membuat laporan pertanggungjawaban pengurus di salah satu kafe di Yogyakarta, katanya padaku, demi kemantapan niatnya berhijrah, dia sampai memutus-lepaskan mimpinya melanjutkan kuliah (S2) di luar negeri, dan memilih memantapkan hati mengikuti jalan Allah di sebuah pondok pesantren di Kota Kembang: Program Tahfidz al-qur-'an, tapi, aku tak tahu bahwa keputusan berhijrah yang dia pilih telah sangat mantap.

Jauh hari sebelum aku mengetahui kemantapan niatnya lewat cerita yang kelak kemudian dia sampaikan, bersama pengurus lainnya, aku jadi teringat bagaimana seringnya aku mengolok-ngoloknya dengan kalimat: “Kita gagalkan Indonesia menutup aurat. Kita gagalkan Indonesia berhijab. Kita gagalkan hijrahnya Y........”
Kini, setelah respon pesan itu dia kirim, dan bagaimana dia tetap konsisten berjubah raksasa, berhijab superbesar dan longgor, ditambah bercadar dan serta mengubur mimpi-mimpi kuliah S2 di luar negeri dengan menggantikannya sebagai santri di pondok pesantren, aku mulai tertarik mencari kebenarannya cerita mengapa dia sampai memutuskan berhijrah dan bagaimana perjalanannya ketika berhijrah. “Pasti tidak mudah,” pikirku. 
Kali ini aku tidak ingin mendengar ceritanya dari orang lain lagi, tapi langsung darinya, meskipun aku tak begitu yakin dia bersedia menceritakannnya atau tidak. Karena, aku tahu dia terbilang orang yang pendiam. Tapi, apa salahnya dicoba. Memang agak sulit untuk menyakinkan kalau aku memang tertarik bagaimana kebenaran hijrah yang dia pilih. “Untuk apa?” dia bertanya. Tapi, setelah sedikit dipaksa, dan bahwa aku bilang kalau aku ingin menulis satu cerita yang sampai saat ini belum menemukan tema kisah menarik, alhamdulillah, akhirnya dia bersedia juga.

Surga Allah tidak mudah dan murah,..........,” sepenggal kalimat yang dia utarakan sebagai pengawal cerita yang dia sampaikan padaku.
Namun, dia kembali bercerita, “Hidayah Allah tidak akan datang dengan sendiri. Kita harus berusaha. Kita harus menjem-put hidayah itu. Jalan menuju pada Allah memang terbilang berat, tapi aku harus tabah dan berlapang dada.  Justru, semakin berat cobaan yang diterima berarti Allah semakin mencintaiku. Bagaimana aku harus meyakinkan kepada Ayah dan Ibu tentang jalan hidup yang ingin aku ambil. Untuk hasilnya, biarkan Allah sendiri yang memutuskan jalan hidup yang ingin aku ambil menuju pada-Nya. Hanya hamba-Nya yang tabah dan istiqo-mahlah akan sampai ke surga-Nya.
---oOo---
Tahun 2018, yang mana aku tak tahu lagi dia berada di mana dan dia juga tak tahu aku di mana: “Bagaimana kabarmu sekarang, Kawan? Masih ingatkah kau tentang diskusi emansipasi yang kita debatkan dahulu? Masihkan kau akan memperjuangan bobroknya nilai-nilai struktur sosial masyarakat yang sampai saat ini, ternyata masih saja menempatkan kaum lak-laki sebagai sosok sentral? Tapi, teruslah berjalan dengan keyakinan yang kau pilih –hijrah, karena seperti katamu, tiap orang punya jalanya sendiri, dan ‘Surga Allah tidaklah mudah dan murah.’



EmoticonEmoticon