Friday, April 14, 2017

Sebuah Pengantar Cerita

Tags



Berawal dari persimpangan jalan Himpunan, diawal periode ketika menjadi pengurus, di ruang depan, yang biasanya ditempatkan sebagai ruang tamu oleh takmir yang tinggal di sekretariat itu, dia diam, sendirian, tak ada orang lain selain dia. "Lagi menunggu seseorang" katanya, ketika penghuni sekretariat lainnya bertanya. Sembari asik memainkan handphone, kuperhatikan dia dari ruang tengah, jemari-jemarinya mulai sibuk mengetik kata demi kata untuk membalas sebuah pesan masuk, yang terkadang membuatnya senyam-senyum sendirian. Kemudian, aku datang menyampiri dan duduk di kursi yang berlawanan arah. Tentu masih belum tahu namanya.

Aku tak menegur, apalagi sampai menanyakan mengapa dia bertingkah demikian, senyam-senyum sendiri. Selain karena belum mengenal satu sama lain, aku tahu, sebagai remaja, bisa aku tebak kalau ada orang yang bertingkah demikian, berarti dia lagi kasmaran. Maka, tak perlu aku basa-basi menanyakan untuk memperoleh sebuah jawaban, karena pesan tersirat dari senyam-senyum itu sangat klise sekali untuk dibanyak tafsirkan, dan dia juga tak ada bedanya dengan remaja-remaja kekenian lainnya, yang haus akan dunia asmara di masa remaja. 

Tak berselang berapa lama, seorang yang ditungunya-pun tiba, dari pengurus juga. Kemudian kutinggalkan mereka berdua di ruang depan, membahas atau membicarakan apa, aku tak tahu. Dan aku kembali dalam aktivitas sebelumnya di ruang tengah, membaca novel. Begitulah sepintas lalu aku mengenalnya, sebelum aku tertarik mendengarkan cerita-ceritanya tentang pilihan hidup yang dia pilih. Hijrah di jalan Allah.

Sama seperti awal bertemu dan mengenal, dia tak ada bedanya dengan sebelum-sebelumnya. Juga tak ada beda pula bila dibandingkan dengan kader-kader akhwat di organisasi himpunan yang kami tempuh. Hingga dipenghujung akhir periode masa kepengurusan, perubahan yang sangat mencolok terlihat darinya. Pakaian yang dikenakan-pun sangat syar'i, berbeda dengan sebelumnya yang bisa dikatakan hanya memakai pakaian yang kekinian atau modis. Karena penasaran, kutanya pada teman-teman dekatnya. Tapi mereka tidak tahu, dan lainnya hanya menjawab "mungkin dia lagi dapat hidayah". Yang agak sama dengan arti namanya.

Memang pernah sempat kudengar, dari temannya juga, perubahan awal ketika dia memutuskan untuk Hijrah diawali saat dia berpacaran. Alasan apanya meraka belum tahu. Memang jauh hari sebelum tersadar dari perubahan yang sangat mencolok itu, aku tahu ada perubahan sedikit demi sedikit bisa terlihat darinya. Tapi, aku tak tahu bahwa keputusannya untuk berhijrah telah sangat mantap. Bahkan, sebelum aku mengetahui kemantapan niatnya untuk berhijrah, aku sering mengolok-ngoloknya dengan perkataan "Gagalkan Indonesia menutup aurat. Gagalkan Indonesia berhijab. Kita gagalkan hijrah ......".  

Lepas waktu semakin berlalu, lima bulan kemudian, setelah dia meninggal kota Jogja, kini dia tidak hanya berhijab besar dan longgar tapi juga bercadar atau berniqob. Sebuah terobasan perubahan yang membuat aku, sebagai temannya tercengang dan tak menyangka sampai seperti itu. Bahkan dia sampai memutuskan melepaskan mimpinya untuk melanjutkan kuliah (S2) di luar negeri, dan memantapkan hati mengikuti jalan Allah di sebuah pondok pesantren Bandung. Program Tahfidz Al-qur'an.  

Selepas mengetahui hal itu, aku kembali tertarik lagi mencari kebenarannya. Kebenaran cerita mengapa dia memutuskan untuk berhijrah, dan bagaimana perjalanan dia dalam berhijrah. Kali ini bukan lagi bertanya pada teman-teman dekatnya, tapi kepada dia sendiri. Meski aku tak yakin apakah dia bersedia menceritakannya ataukah tidak. Karena aku tahu sendiri, dia bisa terbilang orang yang pendiam. Tapi apa salah dicoba, dan Alhamdulillah, setelah sedikit agak dipaksa dia-pun bersedia untuk menceritakannya.

"Surga Allah tidaklah mudah dan tidaklah murah" begitulah sepenggal kalimat yang dia utarakan sebagai pengawal cerita yang dia sampaikan kepadaku. Namun, katanya kembali bercerita, hidayah Allah tidak akan datang dengan sendirinya. Kita harus berusaha. Kita harus menjemput hidayah tersebut. Meski jalan menuju pada-Nya terbilang berat kita harus tabah. Justru, karena semakin berat cobaan yang diterima kita, berarti Allah semakin mencintai kita. Sedang untuk hasilnya, biarkan Allah sendiri yang memutuskan jalan kita. Karena, sekali lagi dia berbilang "Surga Allah itu tidaklah mudah dan tidaklah murah". Hanya hamba-Nya yang tabah dan istiqomah-lah yang akan sampai pada surga-Nya.

Kemudian dari cerita-cerita berpotongan yang dia sampaikan dari berbagai pesan media sosial itu, kutulis menjadi sepenggal cerita pendek sebagaimana berikut. Hijrah: Surga Allah (Tidak) Mudah


EmoticonEmoticon