Tuesday, April 18, 2017

Doa Sederhanaku Untuk DU2

Tags

Kalau ada bertanya padaku dulu sekolah SMA di mana? Aku selalu menjawab di Madura, di SMA 2 Bangkalan. Kebohongan ini terus aku pelihara dan teristiqomahi sampai akhirnya benar-benar yakin kalau aku pernah bersekolah di SMA bla bla bla (sebut saja DU2), setelah mendapatkan namaku terpampang jelas di salah satu situs web.

Bukan bermaksud untuk apa aku selalu beristiqomah menyembunyikan DU2 sebagai SMA yang pernah kutempuh kurang lebih dari 37 purnama itu. Tapi karena enggak pernah bisa percaya diri saja dengan kebodohanku ini mengaku sebagai alumni dari sekolah yang dulu sempat memakai embel-embel RSBI di belakang namanya, sebelum kemudian dihapus oleh Mahkamah Konstitusi lewat sidang putusan pembatalan Pasal 50 ayat 3 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) di Gedung MK, Jakarta, Selasa (8/1/2013).

Selain enggak pernah bisa percaya diri, baru-baru ini aku berpikir kalau para tim penyeleksi penerimaan siswa baru Du2 tahun 2009 itu salah menerimaku sebagai murid. Tentu pikiran konyol ini muncul dari kebodohanku untuk tetap beristiqomah menjadi bodoh yang logis.

Aku masuk DU2 tahun 2009 selepas menyelesaikan SMP terlebih dahulu tentunya, di SMPN 3 Peterongan Jombang. Masuk dan menjadi murid DU2 ternyata enggak sama seperti sekolah di pedesaan, yang tinggal daftar dan langsung diterima. Coba kalian pikirkan, tapi enggak usah mikir serius-serius, eman-eman kalau pikiran kalian memikirkan pikiranku. Untuk jadi murid DU2 aku harus mengikuti tes seleksi terlebih dahulu. Harus diseleksi, bro. Harus. Enggak boleh enggak harus, kan songong banget ini sekolahan. Punya standar menerima peserta didik sekolahan ini. Standar, bro. Yang enggak berstandar dibuang.

Eh, bukan hanya DU2 saja sih yang kanyak gini, hampir semua instansi pendidikan sekarang kayak gini -miris, kecuali di pedesaan. Harus mengikuti tes seleksi, sempat aku pernah punya pikiran kalau ada 2 macam jenis sekolahan di negeri yang sudah merdeka sejak 1945 ini. Yakni, sekolah menerima kita apa adanya dan ada apanya. Yang menerima kita apa adanya ini biasanya di pedesaan, tanpa seleksi, dan kusebut sekolahan jenis sekolah Sosialis. Yang menerima kita ada apanya ini, yang barang tentunya memakai tes seleksi terlebih dahulu sebelum dianggap murid itu, kusebut jenis sekolah Positivistik. Kenapa Positivistik? Karena selalu diukur untung dan rugi.

Sekolahan berjenis Positivistik ini biasanya memiliki kecenderungan dianggap sebagai murid pintar, karena telah melalui tahap kepintaran dites ujian seleksi masuk, serta lewat peralatan labarotirum yang canggih. Adapun untuk jenis sekolahan Sosialis, biasanya memiliki stigma agak kumuh, jauh dari perdaban, kelas menengah ke bawah, serta tidak begitu pintar ketika disanding dengan sekolahan Positivistik (red: perspektif ini ditinjau dari bagaimana pandangan secara umum masyarakat menilai kepintaran cenderung menempatkan sekolah terlebih dahulu sebagai patokan awal, sebelum kemudian pintar itu sebenarnya melekat kepada sebuah subjek bukan objek).

Padahal kita sama-sama tahu dan bersepakat kalau tujuan kita bersekolah untuk menjadi pintar, kan. Sepakat, kan? Oke. Logikanya gini, kalau ingin menjadi pintar berarti sebelumnya tidak pintar dulu, kan? Berarti karena kita bodoh maka kita harus bersekolah, kan? Iya, kan? Kalau sudah tidak bodoh lagi ngapain juga harus sekolah? Bener, enggak? Kan sudah pintar. Ngapain juga harus rela-rela sekolah. Itu pekerjaan sia-sia bagi orang pintar bersekolah. Tidak bermanfaat.

Kan teramat aneh, setidaknya bagiku, sekolah yang menerapkan tes seleksi terlebih dahulu sebelum menerima muridnya. Iya, enggak? Kita kan sekolah dari kita bodoh menjadi pintar, bukan diseleksi dari pintar ke pintar. Yang sepakat cung kan jari saja. Terutama bagi kita yang merasa bodoh dan pernah ditolak di sekolahan seperti itu. Tapi tenang saja, sebenarnya merasa bodoh itu lebih baik daripada merasa pintar. Yang sepakat cung kan jari lagi, ya. Merasa bodoh itu enggak dosa. Asal jangan sampai dibodohi saja, apalagi dibego'in. Bodoh boleh, tapi dibodohin jangan.

Aneh. Bener-bener aneh, sampai-sampai kebodohonku enggak bisa melogikakan sekolahan yang menerapkan regulasi seperti itu, tes seleksi. Selain itu, regulasi tes seleksi jelas bertentangan dengan isi pembukaan UUD 45 RI yang diresmikan oleh Raden Kian Santang. Eh, diresmikan oleh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) ding kalau enggak salah ingat saja, sih. Iya, diresmikan oleh PPKI bukan Raden Kian Santang. Maaf, aku agak lupa. Kan, namanya juga orang bodoh jadi bisa dima'fuh dong kalau lupa.

Oke. Oke. Aku lanjutkan mengapa DU2 yang salah menerima murid aku.

Kembali ke DU2 lagi.
Kalau tidak salah ingat peserta yang mendaftarkan diri ada 600 lebih, dan yang diterima hanya 200 peserta. Tentu dari 200 peserta yang terpilih itu ada namaku, diurutan ke 164. Sejujurnya keterima di DU2, kalau boleh jujur aja sih, aku enggak segirang yang lain dan terlalu senang ketika mendapatkan namaku terpampang di papan pengumuman. Ya mau gimana lagi, aku memang enggak ada niatan sama sekali dan berkeinginan menjadi murid DU2. Terpaksa dan dipaksalah ceritanya sampai aku sekolah DU2 itu. Oleh? Rahasia dong. Dan diterima di DU2 bukan persoalan aku pintar atau cerdas lho. Kubilang aku ini bodoh.

Kali ini kalian enggak usah pikirkan lagi, cukup bayangkan saja. Ketika mengikuti tes seleksi aku mengisi lembar jawaban tanpa membaca soal terlebih dahulu. Tanpa baca soal. Keren, kan? Jadi enggak butuh 2 menit aku sudah menyelesaikan tes seleksi itu. Lalu tertidur sebelum dibangunkan sama petugas, yang katanya waktu tes sudah berakhir. Apa aku beruntung diterima di DU2? Tidak. Aku pantang menerima segala hal lewat ucapan beruntung. Beruntung itu seolah akan lebih membodohkan diriku yang sudah bodoh.

Lantas kalau bukan beruntung dan pintar saja kagak, terus apa? Pasti itu kan pertanyaan kalian. Sebenarnya para pembaca yang budianduk, eh budiman dan budiwati ding, sebelum aku mengisi lembar jawaban itu, aku sempat melobi Tuhan terlebih dulu lewat doaku yang terbilang diplomatis. Begini doaku:
"Aku memang tidak pantas menyandang gelar murid dari sekolahan pintar, Tuhan, tapi aku tidak ingin juga mengecewakan mereka yang berharap aku masuk menjadi bagiannya. Jikalau memang Ridho-Mu adalah melalui Ridho mereka, maka jawaban terbaik adalah keinginan mereka, dan melalui tangan-tangan-Mu lah aku pasrahkan untuk mencari Rindo mereka."
Doa itu terbilang manjur untuk mereka yang berharap aku masuk di DU2. Tetapi..... Diplomasi itu hanya bertahan satu bulan saja, dan Tuhan tidak lagi bisa kulobi. Akhirnya Guru BK memanggil orang tuaku. Kenapa? Sering bolos katanya.

Awalnya Guru BK masih percaya dengan alasan sakitku enggak masuk sekolah. Tapi, karena alasan sakit yang sering bergonta-ganti penyakit mulai dari demam, maag, tipes, dan sampai yang penyakit keraspun pernah aku pakai sebagai alasan enggak masuk sekolah, liver. Akhirnya mereka juga curiga, maka dipanggillah orang tuaku ke sekolahan.

Kata beliau-beliau ini, Guru BK, siswa pertama yang dipanggil orang tuanya di angkatan 2009 itu adalah aku, dan rekornya hanya membutuhkan waktu satu bulan saja. Kan, ngeri. Rekor bangetlah. Hanya aku dan cuma aku kata beliau-beliau itu, dan sampai 3 tahun di DU2, belum ada siswa yang bisa memecahkan rekor itu, atau bahkan sampai sekarang. Rekor mereka (siswa DU2) hanya berprestasi di olimpiade-olimpiade sains dan social saja. Tidak lebih. Tidak sepertiku.

Bukan itu saja kelakuanku di DU2. Aku pernah membuat satu sekolahan heboh dengan tingkahku mengisi lembar jawaban sewaktu UAS. Ketika itu aku mengisi lembar jawaban dari pelajaran Cambridge Bahasa Inggris dengan lirik lagunya Avenged Sevenfold: Dear God. Akhirnya heboh. Aku dipanggil lagi ke ruang BK, kemudian disusul ke ruang Kesiswaan. Tentu untuk ditanya alasanku mengisi lembar jawaban dengan lirik lagu Dear God.

Ya aku jawab saja dengan jujur, kalau pertamanya aku bimbang memilih (Dear God) untuk diisi sebagai jawaban di lembar jawaban itu. Pertamanya, kataku, aku ingin mengambil lirik lagunya Michael Jackson (Heal the World), tapi karena mendadak lupa lirik maka Dear God saja yang aku pilih.

Terus kenapa harus menjawab soal itu dengan lirik lagu? Tanyanya Guru Kesiswaan itu, sedikit agak kesal. Kalau aku jawab pakai Bahasa Madura takutnya yang mengoreksi enggak tahu artinya, Bu, kataku polos. Dari percakapan itu, baru pertama kalinya aku melihat Guru Kesiswaan yang terkenal tegas dan agak galak itu berekspresi melongo. Sekali lagi, ya, hanya aku dan cuma aku kata beliau-beliau. Lainnya? Hanya berprestasi saja di olimpiade-olimpiade sains dan social saja. Tidak lebih. Tidak sepertiku.

Selain perihal di atas, tentu masih banyak lagi kelakuanku yang tidak mencerminkan kepribadian sebagai siswa DU2 pada umumnya, seperti kepergok ngerokok di tempat umum, ketahuan bolos di warung kopi, sering telat, tidur di kelas, ninggalin kelas kalau pelajaran Bahasa Inggris, marah kepada Guru (kalau enggak salah namanya Bu Ulum. Guru paling cantik di DU2. Tapi sayangnya sudah nikah), nyogok petugas sekolah pas ketahuan manjat tembok karena terlambat dengan 2 batang rokok Djarum, dan banyak lainnya lagi. Oh iya, satu lagi yang fatal, ketahun makai. Ketahuan makai maksudnya disini itu ketahuan memakai sepeda motor guru waktu mbobol dari pondok. Jadi jangan salah sangka dulu, ya.

Meskipun sekarang dengan bangganya aku meyakini DU2 sebagai sekolahku dan tidak lagi beristiqomah bohong. Tapi, dengan mengenang masa laluku bersekolah di DU2, setelah sholat biasanya selalu sebagian doaku aku panjatkan terkhusus untuk DU2. Tentu tanpa ada diplomasi dan lobbying Tuhan lagi. Doa yang terbilang sangat sederhana:
"Ya, Tuhan, Dzat yang Maha Tepat Sasaran, semoga tim penyeleksi tes penerimaan siswa baru DU2 tidak lagi salah menerima murid."


EmoticonEmoticon