Monday, April 17, 2017

Si Pemilik Senyum 2 Senti

Tags



Kita dipertemukan dalam ketidaksengajaan, di tempat asing yang belum pernah kita jamah sama sekali, di mana waktu pertemuaan itu tidak pernah kita rencanakan. Barang mungkin, karena tanpa didasari rencana itulah mengapa pertemuan kita bisa dibilang ketidaksengajaan. Ya, mungkin alasan itu yang paling pas untuk mendeskripsikan ketidaksengajaan tersebut. Ketidaksengajaan pertemuan kita.

Kamu diam, aku juga. Begitulah sepintas lalu bila diulas dari pertemuan kita bermula dan juga berakhir. Sebenarnya aku tahu kondisi seperti itu (diam) adalah situasi canggung, aku pernah menontonnya di sinema FTV. Sebagai lelaki pula, seharusnya akulah yang harus memulai. Memulai inisiatif melenyapkan diam, tapi ternyata tidak. Aku masih saja diam. Begitupun juga denganmu. Dan pertemuaan kita hanya dibahasakan oleh diam. Tanpa kata. Hanya diam. Itu saja, diam.

Awalnya aku biasa-biasa saja, tak merasakan apapun, tak ada yang istimewa. Dan tak ada yang spesial juga tentunya. Lambat laun semua agak berubah. Seperti ada yang lain. Tentu kelainan ini bukan akibat dari negara api yang menyerang. Lain, ini memang lain. Seolah aku pernah merasakannya dulu, tapi lagi-lagi kelainan ini lebih lain. Lain apanya memang masih rancu, tapi tetap ada yang tidak wajar. Kucoba mencari. Usut punya usut, setelah dari perenungan, ternyata sesuatu yang membuatku merasa lain pada ketidakwajaran itu penyebab utamanya adalah kamu. Ya, kamu. Si pemilik senyum dua senti.

“Mungkin aku terkesima?” tanyaku dalam hati. Ya, mungkin. Terutama dengan senyum dua senti yang kamu punya. “Sial,” lirihku mengeluh dalam sepi. Hati yang belum sembuh total ini, yang dulu pernah tersakiti kembali diketuk, dan semua itu sudah barang tentu pelakunya adalah kamu. Pertahananku pun jebol. Dinding hatiku kembali terbuka dan tentu juga itu karena ulahmu. “Sial,” kembali aku melirih sambil mengeluh dalam sepi.

Sama seperti pertemuan kita, diam, kamu datang secara diam-diam pula, kemudian masuk perlahan dan menyelinap ke dinding hati yang dulu sempat terjamah, tanpa permisi, tanpa salam, tanpa sopan-santun. Tak beradab. Asal masuk saja, curang bukan? Juga dalam diam, aku mulai mengaksrakanmu kata, meskipun sangat kutahu setiap kata yang kurangkai takkan pernah bisa mewakili dirimu secara utuh. Apalagi keindahan senyum dua senti yang kamu punya itu.

Tunggu dulu, tunggu. Aku lupa pada sesuatu yang seharusnya kutahu terlebih dahulu, nama. Iya, nama. Siapa namamu? Apa awalan huruf yang melekat pada namamu dan berapa rangkaian huruf yang terlabel di namamu? Itu penting. Teramat penting bagiku. Tanpa nama, bagaimana bisa aku menyebutmu dalam doa? “Oh, tidak. Tidak. Aku tidak boleh melakukannya,” kesadaranku pun melarang. Sebab aku takut. Takut kalau kamu tahu dan menyebutku sebagai lelaki tak tahu diri dan lancang. Lancang karena telah berani menyebut namamu dalam doa. Apalagi sampai mengadu ke orang tuamu. Tidak. Itu tidak boleh. Aku takut. Maaf.

Baiklah, Pemilik Senyum Dua Senti, aku harus membuat rencana dan barang tentu sambil memantapkan diri juga, karena akutahu dari pengalaman, jika hati dibiarkan begini terus malah akan tambah terkonyak. Tentu aku mengetahuinya bukan lagi sekedar teori dalam buku-buku yang selalu kubaca karena pernah merasakannya. Pernah mengalaminya. Tapi itu dulu. Dulu sekali, jauh sebelum pertemuan dalam ketidaksengajaan kita bermulai, dan aku juga tak ingin membahasnya. Bukan mengangap itu tak penting atau ingin melupakan, hanya tidak ingin. Lagi pula sedari dulu hati sudah bermufakat kalau dia sudah (pernah) menjadi rerangkaiku.

“Aku harus berbuat sesuatu,” inisiatifku kembali mulai berfikir. Ya, sejenis konspirasi hati meskipun akal terkadang tidak menghendaki. Setidaknya dari konspirasi hati tersebut aku bisa mengenal namamu. Meskipun dari mengenal nama itu tidak akan kusebutkan dalam doa, tapi dari situ, mengenal namamu, bisa kujadikan sebagai konsumsi hati. Setidaknya 3 kali sehari seperti resep obat. Aku janji tidak mengkonsumsi lebih dari 3 kali. Karena aku takut kalau nanti lebih dari 3 kali  bisa over dosis.

Hari itu terbilang cerah, serupa senyum dua senti yang kamu punya. Sangat menyeduhkan dan menghangatkan hati, dan sebuah konspirasi hati pun telah kumulai. Berbeda dengan pertemuan kita yang pertama, kali ini bukan di tempat asing lagi yang mempertemukan kita. Pertemuan kedua ini juga telah kurencanakan. Jadi pertemuan kedua ini bukan lagi seperti yang pertama, pertemuan yang tidak disengaja. Karena aku datang ke desamu setelah pulang dari perantauanku, Jogja.

Datang ke desamu yang berbeda kecamatan dengan desaku, harus kutempuh selama 30 sampai 45 menit jika memakai kendaraan sepeda motor. Memang pakai apalagi? Mobil? Sepeda motor itupun hasil minjam, karena memang enggak punya sepeda motor. Bila kuingat-ingat pada pertemuan kedua itu kamu duduk bersama teman-temanmu dengan memakai pakaian serba putih. Sedang aku tepat berada dihadapanmu sekitar 10 meter. Melihatmu dari jarak sedekat itu aku mulai percaya denga apa yang katakan Dewi Lestari yang katanya, terkadang malaikat itu juga tak bersayap, lewat lagu: Malaikat juga tahu. “Eh, maaf, kalau terbilang menggombal. Maaf.”

Maaf, ya. Maaf, kalau kalimatku tadi lancang, tidak mengenakkan hatimu dan terbilang gombal. Tapi aku bisa menjelaskan mengapa aku merasa seperti itu. Boleh? Terimakasih.

Aku sependapat dengan kawanku kalau banyak sekali penyair, sastrawan dan penulis yang terinspirasi oleh wanita yang dicintainya. Bahkan, katanya, manusia biasa yang tak pernah belajar sastra pun akan menjadi penulis sajak yang indah ketika dirinya benar-benar jatuh cinta. Jika tak percaya, coba tengok kisah Zainuddin yang menempatkan Hayati sebagai permata inspirasinya, dan sampai ke Beatrice Portinari yang menjadi ilham bagi Divine Comedy-nya Dante. Demikian pula denganku kepadamu.

Jadi ketika melihatmu berpakaian serba putih itu, aku merasa semua alegori kehidupan tercipta. Euforiaku pun meningkat. Sehingga aku tak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang fana, dan kesemuannya seolah menjadi satu dalam disposisi-Nya. Karena jujur saja, wanita, terutama kamu, iya kamu, kamu si pemilik senyum dua senti, bagiku adalah pembuka horizon dalam menanggapi kompleksitas kehidupan menjadi tenun mozaik indah yang dihiasi dengan syukur. Meskipun bersandar di pundakmu adalah ketidakmungkinan, tapi bisa melihatmu seperti itu saja merupakan hadiah doa terbesarku yang diberikan Tuhan. Dan aku tak tahu mengapa, alegori yang konon sulit untuk dituliskan oleh kebanyakan orang itu, seperti mengalir deras begitu saja tanpa bendungan ketika melihatmu berpakaian serba putih itu: Malaikat tak bersayap.

Setelah berselang beberapa menit aku mulai mendekatimu dengan memangkas jarak. Jangan ditanya kenapa atau untuk apa. Tentu untuk berkenalan.

Sama seperti teman-temanmu, kamu juga seperti kaget ketika kuulurkan tangan sambil memperkenalkan diri dan mempertanyakan namamu. Tapi kemudian kamu hanya diam dan tak segera menjawab. Kalau kamu tahu, ketika itu aku sudah menyiapkan mentalku secara penuh, Super Saiya 4, untuk berkenalanmu itu. Tapi kamunya? Eh, masih saja diam tak mengeluarkan suara. Sempat pula aku berpraduga buruk selama menunggu jawaban yang kuanggap terlalu lama itu, kalau alasan kamu tak kunjung mengeluarkan suara, karena tuna wicara. Bisu. Tapi dugaanku keliru ketika teman di sebelahmu menegor dan mencubitmu, kamu menjeriat: Aaakhhh.

Jelas ketika kamu menjerit aku kaget bukan main, ditambah lagi, akibat dari menjeritmu itu membuat orang-orang di sekeliling menoleh dan melihat kita. Karena kaget bercampur malu dan takut dianggap sebagai pemuda cabul akibat dari menjeritmu itu mentalku turun drastis. Super Saiya 4 pun lenyap. Akhirnya aku grogi. Kala itu, andai saja aku adalah Minato Namikaze, Hokage 4 Konohagakure, pastilah aku sudah menggunakan Hiraishin no Jutsu untuk berpindah tempat secara cepat dan sekejap melalui segel penghubung. Dengan alasan grogi tentunya.

Berada pada kondisi seperti itu, bukannya kamu segera menjawab tapi malah tertawa, yang tentu juga diiringi dengan senyum khasmu dua senti. Melihat senyummu dari sedekat itu, aku benar-benar yakin kalau tidak ada senyuman paling indah lagi selain senyum dua senti yang kamu punya. Sangat indah. Benar-benar indah dan sangat menyeduhkan hati. Meskipun terbuai oleh senyum dua sentimu, aku mulai mengurungkan niatku menunggu jawabmu memperkenalkan nama. Perlahan-lahan uluran tangan aku kendurkan yang siap diikuti derik langkah meninggalkanmu sembari mengucapkan salam perpisahan.

Semoga kita dipertemukan kembali dengan nama.


EmoticonEmoticon