Thursday, May 11, 2017

Habis Dian Sastro Terbitlah Raisa.

Tags

Raisa hadir di waktu yang tepat, tidak hanya tepat waktu. Kedatangan Raisa sebagai selebtritis di dunia industri musik Indonesia bak sebuah perjuangan pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia yang menghantarkan para jomblo-jomblo menuju pintu gerbang khayalan asmara baru, dengan selamat sentosa dan bahagia. Merdeka.

Atau kita ubah kata jomblo dengan sebutan tuna asmara, ya? Kata jomblo selau punya kesan dan stigma negatif di sosial media.

Iya, tuna asmara saja. Hal itu mengingatkan dan mendasari bahwa sesungguhnya para jomblo di tanah air ini juga punya hak yang sama atas segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan kesan dan stigma negatif bagi para jomblo harus dihapuskan.  Hal itu tidak sesuai dengan peri kemanusian dan peri keadilan, dan diganti tuna asmara.   

Tidak seperti lagunya yang menerjebakkan para kaum gagal move on dalam sebuah ruang nostalgia, bagi tuna asmara kehadiran Raisa adalah pembuka horison untuk melepaskan mimpi buruk yang amat gelap pada titik terang, dan menjawab kegalauan para tuna asmara dalam pekikan lagu "Apalah Arti Menunggu", dengan sebuah "Firasat" kehadiran sosok pengganti dalam genjutsu "Mantan Terindah", yang mana sebelumnya membuat para tuna asmara merasa "Serba Salah", dan kemudian kehadiran Raisa menawarkan "Kali Kedua".

Sama seperti kehadiran Rene Descartes yang membawa pencerahan bagi abad kegelapan di Eropa, Renaisans, setelah bertahun-tahun, mungkin begitulah kira-kira kehadiran Raisa di mata tuna asmara Indonesia jika dicoba untuk disamakan, atau dipaksa disamakan.

Jauh waktu sebelum munculnya Raisa, para tuna asmara di negeri ini telah bermufakat menjadikan Dian Sastro sebagai The Best of Woman In Indonesia. Hal ini memang patut dimaklumi dan dianggap wajar. Sosok wanita yang memainkan peran sebagai Kartini ini memiliki kesemua aspek kenapa harus dicinta kaum adam dan dijadikan wanita terbaik. Bahkan kepesonaan dari wanita yang pintar bikin puisi dan ketua mading ini, mampu membuat Si Rangga yang tampan dan coll, menjomblo selama berada di New York. Maka pesona mana lagi yang tuna asmara dustakan?

Bukan hanya para tuna asmara yang mengamani maklumat tersebut, kesemua lelaki yang menatap kepesonaanya seolah ingin mencari dan mendapati bentuk kerestuan Allah untuk meminangnya dengan ucapan Bismillah. Jelas tidak anomali kan, kalau para tuna asmara memberikan predikat seperti itu kepada Dian Sastro: The Best of Waman In Indonesia?

Sosok yang melejit melalui film "Ada Apa Dengan Cinta" ini, sukses membuat para tuna-tuna asmara dibawa ke dalam lamunan tertinggi menuju ke nirwana, bertemu dan mendapati sajak-sajak atau syair-syair melankolis dalam tenunan mozaik-mozaik langit yang indah. Dia-lah alegori kehidupan bagi para tuna asmara dalam bingkai konsep kesyukuran untuk mengarungi kompleksitas kehidupan tak berperi, sebelum mereka sadar bahwa hidup ini memang tak berperi dan terjatuh disleding takel oleh Indraguna Sutomo.

Para tuna asmara yang disleding tekel dan mendapati kabar pernikahan Dian Sastro dan Indraguna Sutomo, muntab, menangis, merintih, meringis, dan murtad dari tuna asmara syari'ahnya. Lalu terjebak dalam genjutsu absolut iblis yang gelap.

"Habis Gelap Terbitlah Terang", mungkin wejangan revolusioner dari bangsawati Jepara ini, R.A. Kartini, merupakan kalimat yang pas untuk mendeksripsikan tentang datangnya Raisa sebagai kabar gembira pada para tuna asmara di negeri ini yang dilanda kegamangan dan kegalauan selama berpurnama-nama setelah ditinggal nikah oleh Dian Sastro, dan juga mengalami banyak cobaan oleh nama-nama artis lainnya.

Sebelum setelah ditinggal Dian Sastro, para tuna asmara yang menetapkan dirinya berafilisasi kepada keindahan platonis ini, memang mendapati sosok wanita lain sebagai protetipe pengganti Dian Sastro. Seperti Alisya Soebandono, dan kemudian Revalina S. Temat.

Tapi, bagai petir yang menyambar di siang bolong, tatkala tuna-tuna asmara sedang asik-asiknya menyahdui pemilik lesung pipit satu ini, Alisya Soebandono, seperti masuk dan membelah atmosfir berlapis-lapis, meluncur bersama paus akrobati dan ngebut ke rasi bintang paling romantis, akhirnya juga terjatuh sebelum berlabuh. Karena secara drastis tanpa ada babibu dan bubiba, Dude Herlino datang menyela para tuna asmara ditengah asik-asiknya berkhayal dengan meminang Alisya Soebandono yang juga tak kalah romantis.

Tak ingin menyerah terhadap kenyataan, seperti Cu Pat Kai kepada Chang'e yang menemukan roda waktu, para tuna asmara mencoba untuk bangkit dari keterpurukannya. Memang terbilang berat, apalagi kala itu video klip dari musik di negeri ini yang lagi ngetren-ngtrennya adalah "Cinta Ini Membunuhku", D'masiv. Tapi, karena D'masiv masih punya single lainnya, "Sudahi Perih Ini", akhirnya para tuna asmara bisa keluar dari zona gelapnya dan menemukan secercah terang dari Revalina S. Temat.

Kehadiran Revalina S. Temat sebagai ikon wanita perjuangan pengganti selanjutnya untuk para tuna asmara, juga tidak bertahan lama. Wanita kelahiran Ibu kota Jakarta yang pernah menjadi pemeran sebagai bawang putih ini, selain memiliki kelembutan jika dipandang, dan juga punya senyum adem yang bisa meredakan panasnya perpolitikan, tapi sebagaimana bawang putih yang juga menyengat, membuat para tuna asmara ketika mendapati kabar kalau dia menerima persuntingan dari Rendy Aditya Gunaman menyanyi lagu lainnya dari D'masiv: Apa salahku. Kau buat begini? Kau tarik ulur hatiku. Hingga sakit yang kurasa.

Sekali lagi. Bukan Ibu Kita Kartini yang sejati, mulia dan harum namanya jika semboyan "Habis Gelap Terbitlah Terang" tak memiliki nuansa semangat bagi para tuna asmara. Semboyon itu telah masuk ke dalam denyut-denyut nadi penghidupan setiap para tuna asmara. Sebuah semboyon yang memiliki arti setera dengan pekikan semangat "Merdeka atau Mati". Sebuah semboyan bahwa di setiap masa sulit pasti akan hadir masa kebahagiaan yang menyertai, tidak terkecuali bagi para tuna asmara. Lantas siapa selanjutnya?

Disinilah mungkin forum yang agak cukup berat dan pelik dalam mentukan kata mufakat tentang siapa wanita selanjutnya yang menggantikan Dian Sastro dan wanita lain setelahnya, karena di persidangan Musyawarah Nasional para tuna asmara se-Indonesia ini memunculkan nama lain selain Raisa. Yakni Chelsea Islan. Sangat terbilang berat kata mufakat itu muncul, walaupan pada akhirnya melalui pleno 3 para delegasi dari utusan Cabang-Cabang Tuna Asmara menetapkan dan mengesahkan nama Raisa sebagai wantia yang patut diperjuangkan selanjutnya. Dengan rasionalisasi, bahwa Chelsea Islan dijadikan persiapan sebagai pengganti Raisa jika ditinggal menikah.  

Bagi para utusan-utusan tuna asmara, kehadiran Chelsea Islan seolah Tuhan ikut andil dalam perancangan mereka dalam mentukan wanita selanjutnya yang patut diperjuangankan. Sebuah takdir dari langit. Apalagi, kala itu Chelsea Islan sedang ditempa badai masalah seputar kasus video bugil yang mirip dengannya. Melalui fenomena itulah utusan Tuna Asmara mengangkatnya bahwa; Ini adalah suatu kesempatakan bagi mereka melalui pernyataan sikap Pengurus Besar Tuna Asmara menunjukkan bahwa kita adalah jomblo yang anti perbuatan asusila. Bukan malah ikutan streaming atau bahkan sampai mendownload.

Karena kita, kata para tuna asmara, adalah para jomblo-jomblo yang bermartabat. Suatu Kejombloan yang melihat keindahan wanita bukan dari sedekar keindahan lekukan tubuh. Seorang jomblo yang mengerti hak privasi. Sebab tubuh, terutama bagi kalangan wanita, adalah hak preogatif seorang. Apalagi sampai mengungah dan mengunduh vidio bugil tanpa izin pemilik si tubuh adalah pengupayaan merendahkan martabat orang tersebut.

Cukuplah kita sebagai jomblo beradab, yang melihat aksi keindahan Chelsea Islan melalui perannya di layar kaca, dan melupakan bahwa ia sempat pernah menjadi korban dari orang-orang yang punyai kepribadian tak beradad, meski punya kekasih. Cukuplah bagi kita melihat sikapnya dengan wajah imut dan bete nya saat memarahi Bintang diserial "Tetangga Masa Gitu". Atau membuka website Tokobagus memakai baju hijau.

2 komentar

Wow. Skill nulisnya asik but you've done a pretty nice job to define a married woman less valuable than the single one. Or even make it clear that for you, guys.. woman is just a property that you worship ehen they're perfect enough to be the object of your fantasies. It's disappointing. Keep writing but before write a stuff you better read planty of books and think smart before speak up :)

Terimakasih atas sarannya. Semoga bisa lebih baik lagi.


EmoticonEmoticon