Friday, May 26, 2017

Sekadar Opini: "Ada Yang Hilang, Begitu Dekat, Tepat di Depan Jari-Jemari Kita" (Part II)

Tags

Ada yang hilang di tengah masifnya arus informasi, tepat di depan jari-jemari kita, begitu dekat, dan kita masih saja berseolah tidak tahu dan tidak mau tahu. Padahal problematika kebangsaan dan kebernegaran kita berada diambang batas kebhenikaan, yang dimana kerukunan antar umat, suku, ras maupun etnis semakin memanas dan terpecah.

Sedang orang kepercayaan dari kita yang duduk di pemerintahan masih saja sibuk dengan kepentingan politik. Mungkin untuk partai politiknya, mungkin. Atau mungkin lagi, di balik kekacauan integritas ini, selayaknya sebuah drama yang telah diskenariokan oleh sang sutradara, mereka yang melihat permainan drama kita sedang tertawa terbahak-bahak. Sesuai dengan rencana dan naskah cerita, kanyaknya berkata.

Jujur ada yang hilang di tengah masifnya arus informasi ini, begitu dekat, tepat di depan jari-jemari kita. Sedang mahasiswa yang notabene diberkati gelar adihulung sebagai agen of change, of control dan sebagai macamnya itu, masih saja sibuk mencari hastag populer ketika memposting status di "Instragram". Untuk menambah followers, katanya.

Mungkin benar juga apa yang pernah ditulis oleh Muhammad Al-Fayadl pada tanggal 09 Maret 2017 lalu, di facebook-nya; “andaikan saja mahasiswa tidak dilenakan oleh seminar-seminar motivasi, tidak dilarang membaca buku-buku kritis, dan tidak sibuk dengan kegalauan-kegalauan kejombloan asmara yang bermentalitet borjuis kecil, mungkin akan berbeda ceritanya.” Iya, mungkin.

Ada yang benar-benar telah hilang di tengah masif arus informasi teknologi ini, rasa kebhenikaan. Iya, kehilangan rasa kebhenikaan di tengah masalah politik indentitas saat ini. Semua berkomentar tanpa mengerti batas. Tanpa lagi menengok dan memperdulikan keberagaman, dan tanpa lagi be-cover pada toleransi dan bhenika tunggal ika. Atas nama kebebasan hak, katanya.

Padahal kita sama-sama tahu bahwa, menerima takdir berbangsa dan bernegara di Indonesia, berarti harus siap pula menerima kenyataan keberagaman dari berbagai segi perbedaan. Menerima NKRI, berarti harus siap pula menerima bentuk negara ini terdiri atas wilayah yang luas dan tersebar dengan bermacam adat, suku, etnis, keyakinan serta budaya yang berbeda. Dan menerima sejarah berbangsa dan bernegara di Indonesia, berarti kita harus siap pula bersikap toleran dan terbuka. Bukan malah saling menghujat, mengintimidasi, dan bahkan sampai mendeskriminasi.

Mari kita bersama-sama merfleksikan diri, siapakah diri kita yang telah berani menghujat, mengintimidasi dan mendekriminasi ini? Padahal kita benar-benar tidak pernah merasa meminta untuk dilahirkan, tetapi tahu tidak menahu kita langsung ada. Tidak kah dari perihal ini kita menyadari bahwa, kita hanyalah momen pendek dalam sebuah kontemplasi yang mencoba sangat rasional di tengah ruang yang begitu dingin dan sekaligus panas. Makhluk yang tidak mempunyai kekuatan, serta tidak punya daya dan upaya untuk melegitimasi kebenaran sejati dengan mengatas-namakan Tuhan. Kita hanya mendapat cipratan dari-Nya dan menafsirkan saja.

Tidak kah pula kita sama-sama berfikir bahwa, keberagaman yang ada di negeri ini merupakan keniscayaan Tuhan? Sudah menjadi ketetapan-Nya. Karena benar-benar tidak ada makhluk dan ciptaan di muka bumi ini diciptakan Tuhan dengan kesamaan yang benar-benar sama. Bahkan anak kembar-pun walaupun dibilang mirip, pastinya memiliki sisi perbedaan. Tidak sama. Jadi menerima eksistensi Tuhan dan keberTuhanan kita, berarti menerima keberagaman pula.

Untuk kita semua sebagai rakyat Indoneisa, apakah kita sudah kehilangan kesadaran dan pikiran tehadap kecintaan kita pada negeri ini? Sehingga dari kita telah kehilangan rasa bersikap selayaknya hidup berdampingan dalam nuansa keberagaman berbangsa dan bernegara seperti pendahulu kita sebelumnya: Berbangsa dan bernegara lewat cover toleransi dan kebhenikaan.

Marilah segenap rakyat di negeri Indonesia, mencoba menerukan pesan yang disampaikan Emha Ainun Najib (Cak Nun) pada 23 Mei 2017 di I.L.C: “Kalau kita naik bus, rasa kita itu rasa bus, bukan rasa colt, atau lainnya. Jadi cara berpikirnya dan cara berhitungnya, ya bus. Mau belok di perempatan dan mau nyalib, kita harus tahu besarnya bus. Jadi cara berpikir orang naik bus adalah cara berpikir bus. Kalau kita orang NKRI, sikap kita harus sikap NKRI. Dan cara berpikir kita pun harus cara berpikir NKRI, bukan cara berpikir golongan, PDIP, Golkar, Nasdem, Hizbut Tahrir, dan lainnya..”

Sebagai penutup, dengan meminjam kalimat dari sepenggal puisi Ahmad Wahib; tulisan opini ini hanyalah sekadar opini tanpa isi. Jikapun opini ini disebut prosa, ini hanyalah sekadar cetusan tanpa rasa. Tetapi, benar-benar ada yang hilang di tengah masifnya arus informasi di negeri ini, dimana perpecahan dan kekerasan atas nama SARA sedang merusak tenun kebangsaan dan kebernegaraan, begitu dekat, tepat di depan jari-jemari, dan kita masih saja berseolah tidak tahu dan tidak mau tahu. Sedang mahasiswa masih sibuk mencari hastag populer, .


EmoticonEmoticon