Monday, May 15, 2017

Sekedar Curhatan: Bunuh Diri Filosofis

Tags

Mulai hari ini saya harus memikirkan masalah-masalah lain, terutama terbelengkalainya masalah kuliah, dan meninggal masalah-masalah yang berputar-putar dalam skala kecil ini. Iya, saya harus memikirkan hal lain. Masalah kuliah yang tidak tahu sampai dimana rimbanya ini harus dengan cepat saya pertanggungjawabkan kepada kedua orang tua di kampung halaman.

Tanpa begitu, saya tidak bisa memandang masa depan secara tegas. Sebuah harapan orang tua kepada anaknya yang telah lama saya emban dini, sebagai anak lelaki satu-tunya dari banyak saudara. Tapi meskipun begitu, saya harus flasback ke belakang, sambil melihat, memilah dan mencari makna dari momen-momen masa lalu. Terutama momen-momen benturan yang barusan terjadi.

Iya, saya harus memeras makna dari momen-monen masa lalu tersebut. Tanpa seperti itu saya akan tetap menjadi seorang dengan berkepribadian tanpa proses. Memang terbilang sakit dan menyakitkan jika kembali mengenang momen masa lalu yang pahit itu. Tapi, sekali lagi, tanpa seperti itu saya akan tetap menjadi seorang aku yang hanya bisa meng-aku saja, tanpa pemahaman proses.

Saya harus mengurai absurditas ini dengan ‘bunuh diri secara filosofis’, karena saya bukanlah saya yang saat ini. Saya-pun harus menginsyafi pertentangan dalam diri ini, dengan suatu kenyataan betapa paradoks kehidupan. Serta mengami bahwa segala sesuatu adalah menjadi sunnatullah dari yang Maha Tinggi di atas kekuasaan dan keinginan manusia. Dengan demikian saya bisa mencari, dan terus mencari siapa saya seharusnya dari pemerasan makna masa lalu.

Jika di lihat secara internal, ada beberapa hal yang menjadi kelemahan saya. Pertama, saya melihat fenomena-fenomena sosial itu secara umum, bukan melalui bahasa khusus. Dari hal tersebut, menyebabkan pergaulan sosial yang saya jalani dan lalui hanya sebatas pembelajaran saja, hingga tidak bisa membendung intrik-intrik lain dari luar secara khusus. Akibat dari kelemahan yang pertama ini menyebabkan saya, melihat ke luar begitu rasional dan jika ke dalam secara intuitif. Itulah saya kedua, yang begitu polos.

Ketiga, ternyata benar juga apa yang sering dikatakan oleh kawan karib saya di Komisariat FTI UII, Kakanda Eko Rudi Setiawan, yaitu; saya melihat sesuatu yang ada hidup ini dalam skala besar, dan melupakan hal-hal kecil. Yang oleh sebab itu berakibat pada saya yang tidak begitu peka dari perihal sepele, dan hanya memutarkan saya pada kamar absurditas yang tidak tahu kapan akhir berhentiannya. Absurditas.

Adapun yang keempat, saya tidak benar-benar bisa membedakan apa itu tempat tinggal dan tempat singgah: Kurang berfikir mendasar dan bebas. Sebagaimana bahwa filsafat yang telah lumayan lama saya geluti hanyalah tempat singgah yang baik bukan tempat tinggal, ternyata, saya memandang HMI dari sisi sebaliknya.

Ya, saya terlalu mengagungkan HMI sebagai rumah tinggal yang baik, bukan tempat singgah yang baik. Menjadikan HMI sebagai sebuah ruang ideal yang memaksa saya harus ikut naik turun dalam setiap degup jantungnya, dan melupakan ada tanggung jawab lain di luar darinya yang harus saya selesaikan dengan cepat. Sehingga manejemen waktu saya begitu buruk, keenam.

Bukan berarti saya mengatakan bahwa organisasi Himpunan ini tidak baik. Bukan. Bukan itu yang saya maksudkan. Karena tanpa dipungkiri dari HMI jugalah saya bisa berpikiran seperti ini. Pun karena HMI pulalah saya bisa mejadi seperti sekarang ini. HMI lah yang paling banyak merubah karakter saya dalam melihat apa yang terjadi dalam diri saya dan di luar kedirian saya saat ini. Hanya saya belum pantas mengambil banyak peran di dalamnya secara konteks waktu.

Permasalahan kelima yang menjadi kelemahan saya adalah, tanpa disadari dan sangat disadari, katanya, saya memiliki sifat yang tidak bagus. Yakni egois, hingga tidak bisa menerima kritikan. Permasalahan inilah yang paling fatal yang harus saya bunuh secara cepat. Karena dari perihal inilah, katanya, saya tidak bisa menerima kenyataan untuk menjadi yang lebih baik lagi.

Tetapi, perihal keegoisan, dalam pertentangan diri antara keinginan menjadi lebih baik dan alasan kelogisan; apakah ada manusia yang bersedia untuk dikatakan tidak mau jadi egois, jika apa yang menjadi pemikiran dan keyakinannya ingin dibekukan dengan suatu alasan yang ketidak-logisan? Ya, apakah ada manusia ingin seperti itu? Saya kira, terutama untuk saya pribadi, jelas tidak ada. Bagi saya itu bukan keegoisan, melainkan perihal prinsip.

Saya masih ingat dengan jelas, yang pernah saya dengar, ada orang yang mengkritik kalau saya ini bodoh, dan bahkan teramat bodoh. Jelas saya tidak bisa menerima pernyataan dari kritikan tersebut. Bukan saya tidak mau menerima dikritik, dan mengatakan bahwa kritik itu tidak membangun. Tetapi, apakah orang yang mengatakan itu tahu saya secara utuh? Dan tidak terhindar dari Fallacy?

Juga; apakah orang tersebut memiliki data-data secara valid “proposisi premis mayor dan minor yang benar” hingga pernyataan itu “Konsklusi” bisa dikategorikan kebenaran?, jika premis yang dibangun hanya diambil secara subjektif melalui perkiraan dan kemungkinan. Ah, iya saya lupa, kalau kebanyakan dari manusia itu hanya bisa berkata-kata saja, dan melupakan kalau kata-kata merupakan konsep yang mewakili realitas.

Sekarang kebanyakan dari manusia hanya bisa berkata dan tidak tahu kalau kata-kata yang kemudian menjadi pernyataan kritik tersebut, adalah suatu kesimpulan yang dibangun melalui proposisi premis-premis yang harus divalidasi kebenarannya. Apalagi, untuk saat ini makna dari setiap kata-kata sering kali dirubah artinya, dan setiap arti kata-kata dirubah maknanya dari realitis objektif. Entahlah, dan mereka bangga akan penyataan tersebut.

Dan dari keberfikiran yang terlalu logis inilah, terlepas dari kategori salah dan benarnya, saya menjadi orang yang kaku dalam berkomunikasi dan berkompromi. Inilah kelemahan saya yang sekiannya. Semoga dari intropeksi ini membantu saya untuk segera melihat dan menarik kedirian saya menjadi lebih baik, melalui proses bunuh diri secara filosofis: Sebuah proses pembunuhan jiwa, dengan cara membunuh akal atau pikiran, sebab dunia tidak lagi dapat dipikirkan. Yaitu prosesi pembunuhan diri secara bijak, “bunuh diri filosofis” bukan bunuh diri shofis.
  


EmoticonEmoticon