Wednesday, May 24, 2017

21 Mei: Hari Patah Hati Nasional

Tags

"Cukup sudah, Kau sakiti aku lagi, Serpihan perih ini, Akan kubawa mati." Mungkin sepenggal lirik lagu dari D'masive ini bisa mewakili segenap kepatah-hatian rakyat Indonesia.

Menjadikan ataupun menetapkan tanggal 21 Mei pada tahun 2017 sebagai pengawal hari patah hati nasional untuk rakyat Indonesia sebenarnya tidaklah begitu kelewatan. Setidaknya menurut saya pribadi dan para fans-nya.

Gimana tidak, sosok Raisa, si pelantun lagu "Serba salah" yang sejak kemunculannya langsung dijadikan prototipe The Best of Woman In Indonesia pengganti Dian Sastro dan juga sebagai figur penenang nan penyejuk rakyat Indonesia di tengah kegaduhan politik identitas saat ini, secara tiba-tiba memutuskan betunangan dengan Hamish Daud.

Jadi tidaklah terlalu menghebohkan diri ketika rakyat Indonesia mendapatkan kabar pertunangan secara sepihak itu, bagaikan kesambar petir di siang bolong, karena sakitnya tuh memang di sini "sambil menunjuk hati". Bagaikan juga, Hamish Daud adalah penjajah baru rakyat Indonesia setelah Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan negeri ini pada 17 agustus 1945.

Yang seolah kehebohan di berbagai media nasional saat ini, seperti keputusan Ahok yang mencabut permohonan banding di tengah desakan pembebasan oleh PBB, serta dugaan kasus konten pornografi Rizieq Shihab dan Firza Husein, tiada berarti sama sekali bila dibanding dengan berita pertunangan Raisa dan Hamish Daud dalam perspektif integrasi kebhenikaan berbangsa dan bernegara.

Tentu banyak alasan mengapa tanggal 21 Mei harus ditetapkan sebagai hari peringatan patah hati nasional. Salah satunya, selain kepatah-hatian rakyat Indonesia, juga sebagai bentuk dedikasi bangsa ini terhadap Raisa. Karena tanpa bisa kita dipungkiri, kehadiran Raisa telah sukses membawa bangsa ini mengarungi kompleksitas berkehidupan berbangsa dan bernegara dalam sebuah tenunan keberagaman yang terbingkai nuansa persatuan, yakni lewat YourRaisa.


Untukmu, Raisa, sebagai pengukuhan tanggal 21 Mei sebagai hari patah hati nasional, kutulis tulisan ini. Tentu sebagai pembuktian kami, kegalauan rakyat Indonesia, yang kehilangan dirimu secara tiba-tiba. Betapa tidak Raisa, ketika sebagain dari kami "Jomblo" tengah asik menyahdui dirimu dan terbawa ke dalam khayalan tertinggi menuju nirwana dalam tenunan cinta kasih yang berlapis-lapis, tatkala mendengar kabar pertunanganmu itu langsung muntab, meringis, menangis, merintih, dan murtad dari Jomblo syariah-nya.



Namun kami juga bisa mengisyafi bahwa, sebagaimana sebuah kompetisi yang selalu mengeluarkan pemenang, Hamish Daud lah lelaki pemenang yang melepaskan dirimu dari keterjebakan nostalgia dalam sebuah ikatan pertunangan. Kami memang sangat menyadari ketetapan kompetisi itu. Tapi, Raisa, tapi; "Tak bisakah kau menungguku, Hingga nanti tetap menunggu" seperti halnya lagu Peterpan. 



dan ditinggal tunangan olehmu, Raisa, akhirnya kami menyadari bahwa dalam ilmu ekonomi kerakyatan, menitipkan barang dagangan haruslah kepada pedagang yang tepat dan amanah. Tentu supaya barang dagangan itu bisa berbalas setimpal dengan barang yang kita dagangkan. Tapi, karena kami terlalu asik dan terlena menyahdui dirimu itu, tidak pernah memperhatikan ikhwal penting dari ilmu ekonomi kerakyatan tersebut. 



Kami terlalu nekat. Terlalu nekat menitipkan barang hati ini kepadamu, dan lebih nekatnya lagi, malah ada yang hanya menitipkan kepada dirimu saja. Iya, hanya pada kamu thok. Tidak dibagi ke yang lainnya. Tidak seperti produsen yang menitipkan barang dagangannya tidak pada satu pedagang saja.



Hingga pada akhirnya, hasilnya bisa ditebak. Karena tawaran hati yang kami dagangan, dan juga kami titipkan kepadamu hanya terongok begitu, tak pernah kamu transaksikan. Atau mungkin tak pernah kamu jamah sama sekali.  Tapi tentu kami tidak bisa menyalahkanmu, karena kami tahu kalau kamu bertindak dan mengambil keputusan selayaknya pedagang yang mengukur untung rugi sebelum barang dagangan itu kamu traksasikan.



Barang mungkin kami khilaf. Khilaf karena telalu asik mengagumimu. Tapi apa daya kami bisa melawan khilaf ini, karena ternyata, mengagumimu adalah kekhilafan yang begitu mengasikkan. Ia, sangat mengasikkan hingga kami dibuatnya lena. Terlalu lena hingga sampai tidak sempat mengambil cermin untuk berkaca.



Tapi terlepas dari itu semua, kami tetap mengucapkan terima kasih kepadamu, Raisa. Terima kasih karena telah mengisi satu titik hitam dalam ruang khayalan asmara kami. Satu titik hitam keropos yang sangat mungkin saat ini sudah berubang kembali, serta meninggalkan perih yang teramat sakit untuk kami tanggung dari kenyataan.



Juga berangkat dari kekeroposan hati supaya tidak terlalu berat kami tanggung sepanjang hidup. Agaknya, inilah saat yang tepat untuk melepaskanmu. Melepaskan, serta mengikhlaskan dirimu menghabiskan sisa hidupmu bersama Hamish Daud. Yang semata-mata, supaya kekeroposan hati pada satu titik hitam itu tidak berlubang semakin membesar, dengan menggantikan posisi "The Best of Woman In Indonesia" oleh Chelsea Islan.


Terispirasi dari Agus Mulyadi: Wanita yang membuatku lena
Kaliurang, 24 Mei 2017


EmoticonEmoticon