Malam itu, kami tenggelam dalam perdebatan tentang film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Fokus kami tertuju pada sikap Zainuddin terhadap Hayati yang terasa teramat puritan sekaligus kejam: “Pantang pisang berbuah dua kali. Pantang lelaki memakan sisa.”
Menyelami aforisme Zainuddin yang tajam itu, ingatanku terlempar pada mahakarya Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia. Minke, sang intelektual muda, akhirnya mempersunting Annelies Mallema—si Bunga Penutup Abad. Namun, sebuah guncangan eksistensial muncul di malam pertama saat ia menyadari bahwa ia bukanlah lelaki pertama yang mereguk "buah cinta" dari Annelies. Dalam balutan kekecewaan yang purba, Minke bertanya, “Siapa lelaki itu?”
Jauh sebelum era reformasi, saya masih ingat sayup-sayup berita di televisi tentang seorang pesohor berinisial FH yang menceraikan istrinya hanya beberapa hari setelah akad. Alasannya sangat mekanistik: sang istri dianggap sudah tidak "orisinil".
Sebuah lembaga survei pernah memotret persepsi lelaki Indonesia mengenai keorisinilan pasangan. Hasilnya mencengangkan sekaligus menyedihkan: 85,9% lelaki menginginkan pasangan yang masih "bersegel". Statistik ini seolah mengonfirmasi bahwa nilai kemanusiaan perempuan di negeri ini masih sering kali direduksi hanya sebatas selaput dara. Padahal, kita—para lelaki—sering kali menafikan diri bahwa kita pun tak lagi "perawan" secara moral sejak kita menemukan fungsi lain dari jari-jemari di balik pintu kamar mandi.
Ayu Utami dalam Pengakuan Eks Parasit Lajang pernah melancarkan kritik pedas terhadap seorang Da’i yang menganalogikan selaput dara sebagai "segel Tuhan", layaknya segel pada botol softdrink yang jika rusak, maka kesegarannya patut diragukan. Sebuah analogi yang merendahkan martabat manusia menjadi sekadar barang konsumsi pabrikan.
Mengikuti alur logika itu, aku membayangkan sebuah pabrik di tengah Taman Surgawi, tepat di sebelah Pohon Pengetahuan (Khuldi). Dalam ruang produksi itu, tubuh-tubuh telanjang berjejer rapi di atas ban berjalan menuju pos "Penyegelan". Mesin bergerak mekanis, merentangkan kaki-kaki itu, sementara sepasang jepit besi mencengkeram pinggang agar presisi. Sebuah tuas masuk ke celah di antara dua kaki, terdengar bunyi gertak dan desis mesin—dan selaput dara pun terpasang.
Perempuan kemudian dikirim ke muka bumi sebagai komoditas. Para lelaki membelinya dengan mahar, namun merasa berhak "menukar tambah" jika segelnya didapati telah rusak. Sebuah tragedi kemanusiaan yang dibungkus dengan jargon moralitas.
Katrin Bandel pernah berujar bahwa nilai-nilai moral yang diajarkan sehari-hari sering kali terlalu sederhana dan tidak memadai untuk menilai liku-liku kehidupan manusia. Jika kita memakai kacamata yang lebih luas, "kesucian" tidak bisa dinilai secara hitam-putih.
Tengoklah Hayati. Kita tak bisa menutup mata pada kekuatan eksternal adat yang mencekiknya melalui tangan sang Datuk. Pengkhianatannya terhadap Zainuddin bukan sekadar pergolakan hati internal, melainkan bentuk ketidakberdayaan subjek di hadapan struktur kekuasaan adat.
Jikalau Zainuddin adalah manusia yang benar-benar bijak, ia tak akan menjatuhkan hukuman moral pada Hayati yang telah remuk oleh musibah yang bertubi-tubi. Orang yang benar-benar mencintai akan memahami bahwa ada kekayaan yang lebih besar dari sekadar selaput dara: kekayaan cinta yang hanya diberikan kepada satu orang, meskipun tubuhnya telah "dijarah" oleh keadaan atau orang lain.
Dalam konteks ini, Minke menunjukkan kelasnya sebagai manusia modern yang matang. Meski sempat kecewa, ia memilih untuk memahami alasan di balik "tak bersegelnya" Annelies. Ia memilih untuk merangkul penderitaan pasangannya alih-alih menghinakannya. Bagi Minke, cinta yang otentik melampaui urusan "sisa" atau "bukan sisa".
Realitas biologis jauh lebih kompleks daripada dogma moral yang kaku. Banyak perempuan kehilangan selaput daranya karena kecelakaan, olahraga keras, atau tindakan paksaan seperti yang dialami Annelies. Bahkan, sains membuktikan ada perempuan yang lahir tanpa selaput dara atau memilikinya namun sangat elastis sehingga tidak mengeluarkan darah saat penetrasi pertama.
Bayangkan sebuah malam pertama yang sakral berubah menjadi pengadilan yang menjijikkan. Seorang lelaki masuk ke kamar, namun alih-alih melihat belahan jiwanya sebagai sosok utuh, ia hanya melihat "sekelangkangan"—terbatas pada robek atau tidaknya sebuah selaput. Jika tidak ada darah, maka hanya "belas kasihan" yang menyelamatkan martabat sang istri. Bagaimana mungkin manusia hidup dalam relasi yang didasari belas kasihan serendah ini? Menilai perempuan sebatas objek konsumsi yang diukur dari tetesan darah adalah sebuah kenaifan yang mual.
Secara pribadi, aku tidak menafikan keinginan memiliki pasangan yang "bersegel", namun itu adalah poin terakhir, bukan yang utama. Aku menolak menilai perempuan dari satu titik pendarahan. Aku ingin melihat perempuan sebagai konsep manusia yang utuh; manusia yang memiliki sejarah dan masa lalu. Aku tak berhak menghakimi masa lalunya sebagai ukuran mutlak kepribadiannya di masa sekarang.
Agama memang menentang perzinaan, namun Tuhan tidak se-Maha Kejam itu dalam menilai hamba-Nya. Tuhan adalah Maha Pengampun dan Penyayang. Jika seorang hamba bertaubat, bukankah kasih sayang-Nya melampaui segala kesalahan fisik?
Salam kenal semuanya jangan lupa mampir ke blog aku ya :) banyak artikel menarik, bermanfaat dan lucu ^^ Dan jangan lupa adu keberuntungannya di Taipanpoker. org yach http://artikeltaipanpoker.blogspot.com/2018/01/10-mitologi-asal-indonesia.html
1 comment
jangan lupa mampir ke blog aku ya :)
banyak artikel menarik, bermanfaat dan lucu ^^
Dan jangan lupa adu keberuntungannya di Taipanpoker. org yach
http://artikeltaipanpoker.blogspot.com/2018/01/10-mitologi-asal-indonesia.html