Thursday, April 19, 2018

Tentang Sandal

Tags


PROLOG: Agus Mulyadi –redaktur mojok.co, masih sibuk membandingkan sandal swallow dan sandal hotel. Yang katanya, seprestisius apapun sandal hotel, ia tak akan pernah bisa membawamu berjalan jauh, sebab sejatinya, ia hanya sandal spons yang ringkih dan murahan. Sebaliknya, sejelata apapun sandal swallow, ia akan selalu siap kau ajak menyusuri jalanan yang jauh dan terjal sekalipun, sebab ia adalah sandal karet yang kuat dan nyaman.
--------------------------------
Tatkala kami masih sibuk membandingkan sandal hotel dan swallow, datanglah laki-laki berbadan tegap, memakai tas kecampang, dan bersandal eiger. Dari perawakannya bisa ditebak kalau dia adalah seorang pendaki. Setelah memesan kopi kental, dia mengambil tempat duduk tetap di depan kami.

Bagaikan seorang waliyullah, dia langsung menimpali obrolan enak kami seolah dia telah mendengarkan isi percakapan kami dari perjalanannya menuju ke kedai bento kopi. Dan, berkatalah dia bak sebuah sabda. “Memilih sandal bukan perkara mudah dan gampang, cong. Butuh laku spiritual tinggi dalam memilih sandal yang pas untuk kita,” kata laki-laki itu memulai pembicaraannya.

Lalu kopi kental yang dia pesan, datang. Dia menyeruput kopi kental itu dengan khusyu’, sembari setelahnya menyalakan sebatang rokok apache. Tempias cahaya dari percikan api korek kriket itu menunjukkan tulang pipinya yang menonjol, petanda dia adalah penantang maut. Dengan air muka tampak serius, dia melanjutkan sabda-sabdanya bak sebuah hadist rosulullah.

“Dalam perjalananku yang jauh dan terjal, sudah tak terhitung meminta tumbal berbagai macam sandal. Semuanya berakhir dengan tragis. Kualitas material dan desain –yang pastinya menunjukkan kedalaman ilmu laku spiritual pembuat sandal– sangat berpengaruh pada kehandalan sandal, dan dari semua itu ada satu sandal.”

Kami yang mendengar perkataaan dari laki-laki yang mendakukan diri sebagai si pejalan jauh dan terjal, takjub, pun sembari menunggu sabda penutupnya. “Pada akhirnya, cong, hanya sandal eiger-lah yang sanggup menuntunku menuju puncak spiritualitas tertinggi. Bukan sandal swallow dan hotel, ataupun sky way dan lily,” kata si pejalan jauh dan terjal bersabda tegas.

Kawan-kawan yang budianduk, eh budiman-budawati, seperti kata Agus Mulyadi, kami memang sedang berbicara soal sandal, bukan soal cinta. Tapi silakan jika kalian mau menarik garis lurusnya. Sebab, pada akhirnya cinta adalah persoalan perjalanan jauh dan terjal.


EmoticonEmoticon