Monday, October 9, 2017

Wanita (dalam) Dekapan Imajinasi

Tags

Special Edition: Untuk Wanita Dalam Dekapan Imajinasi.
AKU TELAH MEMILIKINYA. Poros ruang waktu yang dahulu menjadi penghalang dan batas pemisah antara harapanku dan impiannya, kini telah berhasil aku luluh-lantahkan. Ini kekuatan imajinasi: Kami telah menyatu menjadi kesatuan dalam bingkai cinta. Tidak ada lagi kata keakuan diantara kami. Tidak ada lagi kalimat -aku yang mencinta dan dia yang kucinta. Cinta telah mewujud dan mengikat kami untuk melepaskan aku dan dia menjadi satu.

Gemuru suara ombak di pantai dan burung-burung camar yang beterbangan di atasnya, tidak lagi aku hiraukan. Senja-pun tidak aku pedulikan lagi kedatangannya. Tidak seperti mereka, menanti kehadiran senja di ufuk barat. Sepintas terlihat olehku aktivitas manusia-manusia itu di luar. Di pantai dipenuhi oleh lalu lalang manusia yang datang dan pergi dengan menggunakan pakaian serba terbuka dan seksi.

Mereka tenggelam dalam kegiatan mereka sendiri tanpa memperdulikan yang lain. Ekspresi wajah mereka tampak menerangkan kebahagiaan bila dilihat. Lantas aku amati kegiatan mereka secara seksama, sembari membayangkan keadaan hari mendatang. Dapatkah mereka bertahan dengan keadaan seperti itu? Dapatkah mereka menyelesaikan tetek bengek persoalan hidup dengan segala persyaratan kriteria di dalamnya?

“Akhh. Aku sudah muak dengan urusan dunia itu.” Gerututku. Aku ingin menjadi manusia lain dan berbeda, menyingkar dunia itu dan menggantinya dengan duniaku sendiri. Aku harus terlepas dan terbebas dari dunia itu, dunia fana. Dunia yang selalu menimbukan persoalan. Dunia dimana ketika kau berharap, kau harus berebut dengan yang lainnya. Dunia dimana ketika kau bermimpi tidak selalu jadi kenyataan. Dunia yang selalu memberikan segala persyaratan kriteria supaya kau dapat dicintai.  

Seperti biasa, dia datang menghampir duniaku dengan pakaian serba putih. Langkah kaki kecil itu terlihat gontai dan penuh gemulai, seraya langkah bidadari ketika memangkas jarak di negeri Kayangan. Rambutnya panjang diikat rapi ke belakang, wajahnya sangat halus dan tampak cergas dengan mata yang indah. Tidak ada cela di setiap bagian tubuhnya. Dia melihatku dengan tatapan syahdu, dan terlukislah kaidah keindahan itu: Senyum tersamar namun tampak pasti dari tarikan kedua bibirnya ke samping sepanjang 2 senti.

Senyum itu mengingatkan aku pada titik kecil dari seberkas sinar yang hanya dapat aku temukan di sebuah petak ruang terpencil dan tersembunyi di dalam diriku. Sebuah senyum yang kesempurnaanya tidak dapat aku jelaskan dengan pasti, tapi selalu memberikan makna dari alegori di balik kehidupanku. Alegori dimana aku tidak lagi bisa membedakan mana yang nyata dan yang fana, hanya cinta.

Aku-pun semakin terjerat dan terus melaju menerobos poros ruang dan waktu. Gerak penaku-pun terus bekerja sesuai dengan perintah kekuatan imajinasi. Di luar, mereka mulai sibuk membicarakan senja yang datang. 

"Lihat itu, ini senja paling keemas-emasan." Tunjuk mereka pada suatu arah sembari bergumam: Indah. Mereka mengabadikan momen senja melalui kamera sederhana. Ada yang mengabadikan momen itu dengan bergandengan tangan, ada yang berpelukan, ada yang berciuman mesra, ....., dan ada yang lainnya. Sekarang aku sudah tidak peduli dengan aktivitas mereka. Itu bukan duniaku.

Entah apa sebenarnya yang ada dalam benak mereka tentang senja. Apakah mereka tidak tahu bahwa senja adalah pembatas antara siang dan malam. Pembatas dimana menyebabkan dua entitas ini tidak pernah bersatu. Hadirnya senja merupakan penanda berakhirnya cerita dari siang kepada malam supaya tidak perlu lagi menunggu untuk bisa berjumpa. Eksistensi senja melambangkan bahwa kehadirannya adalah bentuk kemirisan dari keindahan. Bahkan senja yang paling keemas-emasan sekalipun hanya akan berakhir oleh malam begitu gelap, sangat menyedihkan, dan fana.

Lewat derit gerakan pena di atas kertas kosong, aku bisa merasakan harum tubuhnya yang selama ini aku impikan. Harum tubuhnya menyadarkan bahwa duniaku semakin mendekat. Pena kecil ini-pun terus menenun bait-bait kata untuk melukiskan dirinya dalam dekapan imajinasi: Senyum 2 senti itu, andeng-andeng itu, dan lesung pipit itu, perlahan namun pasti dia masuk secara utuh. Euforia dalam diriku meningkat drastis

Dia dekap dan membelaiku dengan mesra. Kudekap dia semakin dekat, dia-pun membelaiku tambah mesra. Tidak ada bahasa di antara kami: Cinta telah meleburkan kesemuanya. Akal-pun tidak punya eksistensi, hanya hati yang berkendak bebas dengan tenunan cinta. Tidak ada ruang dan tidak ada waktu dunia ini, cinta kami-pun abadi dalam dekapan imajinasi.


EmoticonEmoticon