Tuesday, October 24, 2017

Perkaderan HMI Dalam Teori Relativitas Albert Einstein

Tags


Salah satu dorongan untuk membahas judul dalam tulisan ini, selain diminta oleh mas Cecep -pengurus KPC-, tidak lepas dari sedikit banyaknya fenomena kader HMI saat ini yang berkesimpulan bahwa, perkaderan HMI tidak mampu menjawab keinginan atau tujuan mereka masuk dalam organisasi Himpunan ini. Tentu pemahaman seperti ini tidak dapat dikatakan memiliki kebenaran, tapi juga tidak masalah dipertanyakan.

Meminjam kalimat Luis O. Kattsof (2004) bahwa filsafat “tidak membuat roti”, Perkaderan HMI-pun demikian. Hal itu dikarenakan, Perkaderan HMI tidak pernah secara spesifik menjelaskan tentang bagaimana menjadikan kadernya sebagai politikus, pengusaha, pemikir Islam, dan sebagainya yang kita inginkan. Perkaderan HMI hanya bertujuan menjadikan mahasiswa Islam sebagai Insan Ulil Albab secara umum. Yang mana kualifikasi Insan Ulil Albab terbagi menjadi 4 bagian: Mu’abid, Mujahid, Mujtahid, dan Mujadid.

Tapi meskipun perkaderan HMI “tidak membuat roti” (Red: bisa dibaca tujuan kader masuk HMI), melalui Perkaderan HMI (Insan Ulil Albab) bisa menghantarkan setiap kader pada suatu pemahaman dan tindakan. Pemahaman dan tindakan melalui bagaimana setiap kader menyiapkan tungkunya, menyisihkan noda-noda tepungnya, menambahan jumlah bumbunya secara, dan mengangkat roti itu dari tungku pada waktu yang tepat.

Adapun konsekuensi dari pemahaman dan tindakan di atas, dapat dikatakan bahwa proses kita dalam Perkaderan HMI bersifat relatif. Tergantung bagaimana kita memaknai dan memahami dari posisi mana kita memandang Perkaderan HMI. Hal ini sesuai dengan ketentuan Teori Relativitas Albert Enstein yang mengemukakan bahwa:

 “Jika ada sebuah pesawat (acuan O) yang bergerak dengan kecepatan V terhadap bumi (acuan O) dan pesawat melepaskan bom (benda) dengan kecepatan tertentu, maka kecepatan bom tidaklah sama menurut orang di bumi dengan orang di pesawat.”

Atau penjelasan kerelatifan dalam proses Perkaderan HMI terhadap tujuan kita secara sederhana seperti ini -penulis dapatkan dari novel Edensor-: Jika proses perkaderan di HMI seumpama rel kereta api dalam eksperimen teori relativiatas Albert Einstein, maka pengalaman demi pengalaman yang menggempur kita dari waktu ke waktu (entah itu di tingkat Komisariat, Cabang, PB, Lembaga Koordinasi, Lembaga Khusus dan Lembaga Kekaryaan) adalah cahaya yang melesat-lesat dalam gerbong di atas kereta rel itu. Relativitasnya berupa seberapa banyak kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman di dalam proses cahaya yang melesat-lesat itu pada tujuan kita.

Analogi eksperimen ini tidak lain karena kecepatan cahaya bersifat sama dan absolut, serta waktu relatifnya tergantung dari kecepatan gerbong itu sendiri. Oleh sebab itu, pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja di dalam proses perkaderan HMI, namun sejauh mana dan secepat apa pengalaman yang sama tadi memberikan pelajaran dan sampai kepada tujuan kita hasilnya akan berbeda, relatif satu sama lain.

Dari penjelasan di atas, maka ambillah pelajaran dari setiap perjalanan di atas rel kereta itu -perkaderan HMI. Jadilah kita sebagai penumpang kereta api yang mampu mengambil makna serta menyeimbangi kecepatan gerbong tersebut terhadap cahaya yang melesat-lesat dalam pengalaman kita. Sehingga dari pengalaman itu akan membentuk kita mencapai tujuan berHMI. Tapi tentunya memalui konsep insan Ulil Albab.

Oleh sebab itu, kesimpulan bahwa HMI tidak mampu menjawab tujuan kita berproses dalam Perkaderan HMI bergantung bagaimana kita dapat memahami Perkaderan HMI secara timbal balik. Juga apakah HMI itu memberikan ruang terhadap tujuan kita sebagai politikus, pengusaha, pemikir Islam, dan sebagainya, adalah sebagaimana bisa kita dapat mentransformasikan nilai-nilai dari konsep Insan Ulil Albab itu sendiri. Dan apakah tujuan itu tercapai atau tidak, itulah relatifnya. Tergantung dari kita.

Tapi terlepas dari itu semua. Hal terpenting yang harus kita tahu dan sadari, bukan pertanyaan atau kesimpulan apa yang HMI berikan kepada tujuan kita, melainkan apa yang akan kita berikan terhadap HMI. Sebagaimana yang pernah disampaikan Ahmad Wahib bahwa HMI alat, bukan tujuan. Di HMI kita hanya mencari Ridho Allah SWT, lainnya hanya bonus. Jadi bisa dikata tulisan ini hanya buang-buang waktu saja untuk kita baca. Selesai. Maaf.

.....................................
Artikel ini terbit dalam Jurnal "Qahweh" Korps Pengader Cabang Yoogyakarta. Edisi V Oktober 2017


EmoticonEmoticon