Sunday, October 15, 2017

Atheis dan Legenda Si Nyai: Surat Undangan Menjadi Pemateri

Tags

Sebut saja si atheis dalam cerita ini adalah Si A -bukan nama sebenarnya.

Bukan lantaran ingin menjadikan tokoh Si A dalam cerita ini sebagai sosok misterius, -selain dia memang teramat aneh-, hanya ingin menjaga martabat keber-atheis-an Si A saja. Martabat dimana, walaupun Si A ini tetap berkeyakinan bahwa Tuhan itu tidak ada, tapi ternyata keber-atheisan Si A perlu dipertanyakan legalitasnya secara hukum.  

“Meskipun setiap hari kamu bilang adalah atheis, tapi saya memiliki kecenderung kalau ke-atheis-an kamu tidak konsisten.” Kata saya pada suatu hari, ketika saya meragukan ke-atheis-an Si A sembari ditemani secangkir kopi hitam yang aduhai nikmatnya.

“Kok bisa, loh? Harus berapa kali saya meyakini kamu kalau saya ini memang benar-benar atheis? Tuhan benar-benar tidak ada bagi saya.  100% saya yakin Tuhan itu tidak ada.  Seyakin-yakinnya Engkoh Felix Siauw dengan konsep khilafahnya.” Jawabnya Si A yang merasa tersinggung karena keimanannya terhadap ketiadaan Tuhan saya ragukan kosistensinya.

“Kalau kamu benar-benar atheis yang konsisten, kenapa kamu masih mencantum agama sebagai identitas kamu di KTP?” Kata saya menanggapi jawaban Si A.

“Asal kamu tahu, Boi, menjadi atheis di negeri yang ber-Tuhan ini sulitnya Naudzubillah. Saya harus berpura-pura memiliki agama di KTP itu supaya dapat diterima kerja dan bisa kuliah. Terkadang saya-pun harus berpura-pura sok-soa’an suci dan alim supaya dipandang sebagai menantu harapan mertua. Begitulah kira-kira kesulitan menjadi atheis di negeri yang serba ngawur ini, sesulit melupakan mantan. Jadi persoalan KTP adalah perihal lain dan bisa di-ma’fu.” Kata Si A tegas.

Terlepas dari persoalan identitas agama di KTA milik Si A, ke-atheis-an Si A jangan diragukan lagi keimanannya. Si A adalah atheis yang kaffah. Bahkan karya monumental Richard Dawkins yang berjudul God Delusion, buku yang dipandang sebagai kitab sucinya atheis ini, oleh Si A telah dibabat habis. Sudah khatam berkali-kali. Lewat buku God Delucion ini pula, menjadikan nama Si A sudah malang melintang sebagai pemateri di ruang diskusi-diskusi dan bahkan sampai Seminar Nasional.

Banyak alasan mengapa Si A tetap beristiqomah terhadap ke-atheis-annya; mulai dari Tuhan itu tidak real secara saintifik, Tuhan hanya persoalan omong kosong lewat khayalan manusia, Tuhan tidak lagi mampu menjawab doa-doa Si A yang sering berujung PHP, dan bahkan sampai pada tingkat ekstrim: “Tuhan tidak memiliki peran apa-pun dalam kenikmatan secangkir kopi yang kita minum ini, Boi.” Kata Si A ketika kami lagi ngopi.

Hingga suatu kejadian menimpa Si A.
##################

Malam telah larut. Bulan yang menggantung di langit mulai terlihat tampak sendu. Para pengunjung satu persatu mulai pulang. Suasana kedai kopi yang kami tempati-pun mulai sepi. Angka-angka pada jam yang terletak di samping tempat kami duduk, sudah menunjukkan hampir pukul dua belas lewat. Dikarenakan hingga pukul dua belas lewat tidak ada satu-pun wanita yang menjatuhkan sepatu kacanya, akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

Di tengah perjalanan pulang, lampu tiba-tiba mati. Gelap sekali. Setibanya kami di tempat tinggal yang kami huni, sekretariat dari organisasi pergerakan mahasiswa, penghuni lainnya dan para senior-senior yang biasanya berkunjung, mulai memadati ruang tengah yang hanya diterangi oleh satu batang lilin. Tapi tidak ada pengepetan di sini.

Seperti biasa, tanpa basa-basi terlebih dahulu, ketika keadaan suasana sudah demikian, salah satu senior langsung menjadi menceritakan kisah Legenda Si Nyai. Keberadaan Si Nyai ini tidak seperti kita. Si Nyai ini berbeda. Si Nyai ini tidak tampak dan kasat mata, tapi nyata. Kadang-kadang kalau Si Nyai berkenan, ia menampakkan diri di manapun. Tidak memperdulikan tempat dan siapa-pun.

Menurut perkononan dalam legenda, meskipun sekretariat yang kami huni sudah beberapa kali pindah tempat, tapi Si Nyai selalu ikut pindah mengikuti kepindahan kami.

Ada sebuah isu bergetayangan menyebutkan bahwa Si Nyai ini merupakan salah satu kader seperti kami, meskipun kami sangat yakin kalau Si Nyai tidak pernah mengikuti pelatihan kader secara formal. Sebagian dari kami juga percaya bahwa Si Nyai adalah kader muda yang dikaderisasi oleh generasi-genarasi sebelumnya, meskipun kami sangat tahu kalau Si Nyai sudah tidak lagi muda.

Konon, dengan alasan itulah mengapa Si Nyai mengikuti kami pindah. “Si Nyai itu kader militan dan loyal, maka jangan heran kalau Si Nyai itu selalu mengikuti kepindahan sekreatriat.” Kata salah satu senior.

Pernah suatu waktu katanya, untuk memberikan dedikasi nyata atas keikut-sertaan Si Nyai di setiap lini perkaderan dan perjuangan organisasi yang kami pilih dari balik keghaibannya, salah satu pengurus pada periode-periode terdahulu hendak mengangkat dan menetapkan Si Nyai sebagai Kader Kehormatan. Semuanya sepakat, meskipun pada akhirnya inisiasi ini gagal karena tidak sesuai dengan aturan AD/ART di Konstitusi.

Ketika mengadakan kegiatan diskusi di sekretariat-pun, untuk menghormati keberadaan Si Nyai, ada satu ruang kosong yang tidak boleh kami tempati. Tempat itu diyakini telah ditempati oleh Si Nyai. Karena menurut isu bergentayangannya lagi, Si Nyai ini sangat menyukai diskusi. Apalagi tema-tema diskusinya sangat radikal.

Dalam dinamika diskusi-pun tidaklah jarang Si Nyai mengangkat tangannya kepada Si Pemateri, meskipun kami tidak yakin apakah itu benar-benar tangan. Tindakan seperti ini biasa dilakukan lantaran Si Nyai berbeda pendapat dengan Si Pemateri, meskipun Si Nyai sendiri sangat tahu bahwa Si Pemateri itu tidak akan menyadiri tindakannya.
##################

Legenda Si Nyai telah selesai diceritakan. Lampu masih mati. Jam sudah menunjukkan waktu pukul dua pagi lebih sedikit. Sebelum saya beranjak untuk tidur, saya pamit terlebih dahulu kepada yang lain. Si A yang sendari tadi duduk terpisahkan dari yang lainnya dan selalu tidak pernah mendengarkan kisah dari Leganda Si Nyai, juga mulai beranjak dari ruang tengah. Tapi sebelum masuk ke kamar, Si A pergi terlebih dahulu ke kamar mandi.

Di kamar, saya langsung mengambil posisi terenak di atas kasur. Satu buah bantal saya letatkkan di bawah kepala. Sepasang guling yang empuk tidak perlu saya jelaskan letaknya berada di sebelah mana. Sembari mengangkat selimut terhangat dan ternyaman pada bagian tubuh, saya mulai memejamkan mata dan membayang sesuatu.

Sebelum mata benar-benar terpejam dan kesadaran telah jerat dunia antah berantah di dalam mimpi, saya merasakan ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang mengganggu keharmonisan yang ada di dalam kamar.  Saya memicingkan mata dari balik selimut, berusaha melihat sesuatu itu dalam keremangan.

“Apa itu?” Tanya saya dalam hati. Tiupan angin agak kencang berdera. Ketakutan perlahan namun pasti mulai mendekap dan mencekam. Sepasang tangan menggerayangi bagian ujung di kedua belah kaki. Darah yang mengalir dalam pembuluh darah saya-pun terasa kental dan berat. Ranting-ranting pohon di luar menggambarkan jalinan ketegangan pada bingkai jendela. Takut.

“Ampun Nyai, saya enggak bakal membayangkan hal-hal aneh lagi. Ampun. Ampun. Saya khilaf, Nyai.” Ucap saya ketakutakan.

“Bukan, Boi. Saya bukan Si Nyai. Ini saya, Boi, Si A.” Jawabnya. “Saya tidur disini ya, Boi. Saya takut tidur sendirian di kamar. Takut sama Si Nyai.” Lanjutnya.

Jawaban dari Si A membuat saya ngerasa MAK JLEB !! Untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya, Si A merasakan bagaimana bulu yang ada di sekujur tubuhnya berdiri. Keringat bersuhu dingin pun jebol tidak bisa dibendung. Sesekali Si A menelan ludah dan berusaha berpikir rasional untuk menghibur dirinya sendiri dari Si Nyai, sembari berucap lirih penuh ketakutan: “Saya atheis yang tidak percaya sama Tuhan, bukan sama Si Nyai.”  Kalimat itu dilontarkan berkali-kali.

“Jiahh, kamu ini gimana sih. Katanya sudah atheis sejak pikiran. Atheis yang kaffah. Eh, malah takut sama SI Nyai. Harus konsisten dong. Tuhan sama Si Nyai kan sama-sama ghaib.”

“Tidak, Boi. Saya masih tetap atheis. Atheis saya kan tidak percaya Tuhan saja. Untuk Si Nyai itu perihal lain. Si Nyai berada diluar pikiran ke-atheisan saya ternyata.” Balesnya Si A yang masih penuh ketakutan.

Sembari menjelaskan kronologi bagaimana Si Nyai menampakkan dirinya dihadapan Si A, Si A menyerahkan sebuah amplop kepada saya. Kata Si A, amplop itu diberikan oleh Si Nyai sebelum akhirnya Si A kabur terbirit-birit dari kamar mandi tanpa terlebih dahulu mendengarkan penjelasan Si Nyai mengapa memberikan sebuah Amplop itu. Saya buka ampop itu dan begitu tercengang membaca isinya.

“Ini surat undangan dari Si Nyai. Lihat, ini ada tanda tangannya.” Tunjuk saya kepada Si A. “Si Nyai jadi ketua panitia pada seminar bedah buku God Delusion karya Richard Dawkins di institut Dunia Alam Ghaib, dan meminta kamu untuk jadi pemateri. Lengkap dengan Thor-nya juga.” Jelasnya saya kepada Si A mengenai amplop itu.

Mendengarkan penjelasan saya bahwa dirinya diundang menjadi pemateri oleh Si Nyai, membuat Si A semakin ketakutakan. Seketika itu pula Si A tiba-tiba langsung pingsan. Kalimat tuntasan saya-pun, bahwa dengan diundangnya Si A sebagai pemateri di Dunia Alam Ghaib akan memperlebar-luaskan benih-benih ke-atheis-annya ke luar dunia, tidak lagi didengar oleh Si A.

Setelah kejadian yang penuh dengan propaganda keghaiban itu, Si A mulai melaksanakan sembahyang malam dengan khusyuk. Hal ini seakan membuktikan bahwa keberadaan Si Nyai merupakan antitesa Tuhan yang sesungguhnya diciptakan bukan hanya sebagai pendobrak keimanan, tetapi juga sebagai tameng kepercayaan. Dan belakangan baru saya diketahui bahwa Si A adalah atheis yang bersekte Wahabi.


EmoticonEmoticon