Friday, October 6, 2017

Apa Itu Filsafat?

Tags


Apa itu Filsafat?
Luis O. Kattsoff (2004) dalam bukunya yang berjudul “Pengantar Filsafat” menerangkan bahwa filsafat “tidak membuat roti”. Ucapan ini sepenuhnya benar. Hal tersebut dikarenakan,  filsafat tidak memberi petunjuk-petunjuk untuk mencapai taraf hidup yang lebih tinggi, dan juga tidak melukiskan bagaimana cara-cara baru untuk membuat bom atom. Jika di antara kita berkeinginan mendapatkan jawaban terakhir (mutlak) yang ada di dalam persolan hidup yang ada di dalam kajian filsafat, yakni jawaban yang disepakati oleh semua filsuf sebagai hal yang benar, maka kita hanya akan kecewa dan bersedih hati.


Meskipun demikian, filsafat “tidak membuat roti”, filsafat membawa kita pada suatu pemahaman dan tindakan. Pemahaman dan tindakan melalui bagaimana kita menyiapkan tungkunya, menyisihkan noda-noda tepungnya, menambahkan jumlah bumbunya, dan mengangkat roti itu dari tungku pada waktu yang tepat. Sehingga secara sederhana, tujuan filsafat adalah mengumpulkan pengetahuan sebanyak mungkin, dan menerbitkan serta mengatur semua itu ke dalam bentuk yang sistematis. Yang menunjukkan arti bahwa, filsafat akan menghantar kita kepada pemahaman, dan pemahaman akan membawa kita pada tindakan yang lebih layak.



Kata filsafat sendiri, secara etimologi, berasal dari bahasa Yunani (philosophos) yang berarti “ Cinta akan hikmah” atau “Cinta akan pengetahuan”. Jadi, memaknai filsafat secara etimologi, pengertian seorang filsuf adalah seorang pencinta, pencari (Philos) hikmah atau pengetahuan (Sophia). Kata philosophos diciptakan untuk menekankan pada sesuatu, yakni pada abad di Yunani Kuno yang mana kala itu itu kaum sophis berpendapat bahwa mereka tahu jawaban untuk semua pertanyaan dengan orientasi kemenangan. Bukan untuk kebijaksanaan dari hikmah pengetahuan itu sendiri.



Setidaknya ada tiga hal yang mendorong mengapa manusia itu berfilsafat, dan bisa dikatakan filsuf. Yakni, keheranan, kesangsian, dan kesadaran keterbatasan atau lemah.



Keheranan. Banyak filsuf yang menunjukkan rasa heran sebagai asal muasal dari filsafat. Misalnya Plato (428-348 SM), yang mengatakan: “Mata kita memberi pengamatan bintang-bintang, matahari, dan langit. Pengamatan ini mendorong untuk menyelidiki, dan dari penyelidikan ini adalah ujung pangkal dari filsafat.”



Kesangsian. Filsuf lainnya, seperti Rene Descartes (1596-1650 M), menunjuk kesangsian sebagai sumber utama dalam pemikiran filsafat. Manusia heran, kemudian ia ragu-ragu. Ragu-ragu apakah ia tidak ditipu oleh panca indranya kalau ia heran? Apakah kita tidak hanya melihat yang ingin kita lihat? Di mana kita dapat menemukan kepastian? Di tengah dunia ini yang penuh dengan macam-macam pendapat, keyakinan, dan interpretasi. Sikap seperti ini kemudian dikenal dengan sikap skeptis.



Diktum terkenal dari sikap ini, skeptinisme, adalah Cogito Ergo Sum (aku berfikir, maka aku ada), yang disusun oleh Rene Descartes lewat dikotomi: res extensa (yang berpikir) dan res cogitas (yang dipikirkan).



Kesadaran keterbatasan. Filsuf-filsuf lainnya lagi mengatakan bahwa manusia mulai berfilsafat, adalah ketika ia menyadari betapa kecil dan lemahnya dirinya bila dibanding dengan alam semesta di sekelilingnya. Semakin manusia tepukau oleh ketakterhinggaan, semakin ia heran akan eksistensinya.



Seperti, kalau dunia dan hidup kita kelihatan tidak berarti dalam keadaan-keadaan tertentu –misalnya kalau di antara kita harus menghadapi kematian seseorang yang tercinta, kalau kita bersalah, kalau kita menderita-, maka di antara kita merasa terdorong untuk menarik kesimpulan bahwa harus ada sesuatu yang mengatasi keterbatasan kita. Yakni, ketakterhinggaan yang “membatasi” segala sesuatu yang lain.

Apa yang Menjadi Objek dalam Filsafar?
Isi dala kajian filsafat ditentukan oleh objek yang dipikirkan. Ada dua objek apa yang menjadi diskursus dalam kajian filsafat. Dua objek dalam filsafat itu di antaranya:
a.     Objek Material
Objek material filsafat adalah segala yang ada dan yan mungkin ada. Jadi objek material itu luas sekali dan tidak terbatas. Objek material antara filsafat dengan sains (ilmu pengetahuan) sama, yaitu sama-sama menyelidiki segala yang ada dan mungkin ada. Tapi ada dua hal yang membedakan di antaranya, yakni:
·    Sains menyelidiki objek material yang empiris. Sedangkan filsafat, selain objek materil, menyelidiki bagian yang abstrak.
·     Objek material filsafat yang memang tidak dapat diteliti oleh sains seperti tuhan, hari akhir -hal-hal yang tidak empiris). Jadi objek material filsafat lebih luas daripada sains.
b.      Objek Formal (sikap penyelidikan)
Objek formal filsafat adalah penyelidikan yang mendalam atau ingin mengetahui bagian dalamnya. Kata mendalam artinya ingin tahu tentang objek yang tidak empiris. Objek ini hanya dimiliki oleh filsafat saja. Sains tidak mempunyai objek formal. Objek sains hanya terbatas pada sesuatu yang bisa diselidiki secara ilmiah saja. Jika sains tidak dapat menyelidiki, maka akan terhenti sampai disitu. Tetapi filsafat tidaklah demikian, filsafat akan terus bekerja hingga permasalahannya dapat ditemukan sampai akar-akarnya.

Apa Saja Cabang-Cabang Filsafat?
a.      Epistemologi
Epistemologi adalah cabang dari ilmu filsafat tentang bagaimana, dasar-dasar dan batasan-batasan pengetahuan. Lebih spesifiknya epistemologi membahas tentang bagaimana kebenaran didapatkan oleh manusia, yang dalam hai ini adalah cara menangkap keberadaan sesuatu dan mengetahui adanya. Ada banyak aliran dalam epistemologi, empat di antaranya adalah sebagai berikut:
1.       Empirisme
Empirisme berpendirian bahwa semua pengetahuan diperoleh melalui indra. Indra memperoleh kesan-kesan nyata. Kemudian, kesan-kesan tersebut berkumpul dalam diri manusia sehingga menjadi pengalaman. Pengetahuam yang berupa pengalaman terdiri atas penyusunan dan pengaturan kesan-kesan yang bermacam-macam. Dari segi hakikat pengetahuan empirisme berpendirian bahwa pengetahuan berupa pengalaman. (Sudaryanto, 2013)
2.      Rasionalisme
Sumber pengetahuan menurut rasionalisme adalah akal. Akal memperoleh bahan melalui indra. Bahan itu kemudian diolah oleh akal menjadi pengetahuan. Rasionalisme mendasarkan pada metode deduksi, yaitu cara memperoleh kepastian melalui langkah-langkah metodis yang berttik tolak dari hal-hal yang bersifat umum untuk mendapatkan kesimpulan yang bersifat khusus.
3.      Intuisionisme
Intusionalisme adalah suatu aliran atau paham yang menganggap bahwa intuisi (naluri/perasaan) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran. Intuisi termasuk salah satu kegiatan berpikir yang tidak didasarkan pada penalaran. Jadi Intuisi adalah non-analitik dan tidak didasarkan atau suatu pola berpikir tertentu dan sering bercampur aduk dengan perasaan. Tokoh aliran intusionalisme, antara lain: Plotinos (205 -270) dan Henri Bergson (1859 -1994).
4.      Positivisme
Positivisme berpendirian bahwa kepercayaan yang dogmatis harus digantikan dengan pengetahuan faktawi. Apapun yang berada diluar dunia pengalaman tidak perlu diperhatikan. Manusia harus menaruh perhatian pada dunia ini. Filsafat positivisme berpandangan bahwa semua fenomena tunduk terhada hukum alam yang sama. Urusan kita adalah mengupayakan suatu penemuan akurat atas hukum-hukum itu.
b.      Ontologi
Ontologi merupakan cabang teori yang membicarakan hakikat sesuatu yang ada. Apa sebenarnya hakikat dan sesuatu yang ada itu? Ada empat aliran filsafat yang mencoba memberikan jawaban atas persoalan tersebut, yaitu :
1.       Materialisme
Materialisme adalah suatu airan dalam filsafat yang pandanganya bertitik pada meteri (benda). Materialism modern mengatakan bahwa materi itu ada sebelum jiwa ada (mains). Materi itu primer dan ide/pemikiran terletak pada sekundernya. Jadi, materialisme beranggapan bahwa hakikat benda adalah benda itu sendiri.
2.      Idealisme
Kata idealisme ditentukan oleh arti biasa dari kata ide. Ringkasnya, idelalisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari atas ide-ide, pikiran-pikiran, akal, atau jiwa, bukan benda (materi). Idealisme menerangkan bahwa jiwa sebagai hal yang lebih dahulu daripada materi. Dengan demikian, idealisme beranggapan bahwa hakikat benda-benda yang ada itu adalah ide atau akal jiwa bukan materi.
3.     Dualisme
Dualisme adalah aliran yang mencoba memadukan antara dua faham yang saling bertentangan, yaitu materialisme dengan idealisme. Dualisme mengatakan bahwa baik materi maupun ruh sama-sama hakikat. Materi muncul bukan karena adanya ruh, begtu pula ruh muncul bukan karena materi. Tetapi, dualisme juga masih mempunyai masalah yaitu tentang hubungan antara materi dan ruh, bagaimana bisa terjadi keselarasan antara materi dengan ruh atau ide.
4.     Agnotraisme
Agnotraisme  adalah aliran yang mengatakan bahwa manusia tidak mungkin mengetahui hakikat sesuatu di balik kenyataan ini. Manusia tidak mungkin mengetahui apa hakikat batu, air, api dan lain sebagainya. Sebab menurut faham ini kemampuan manusia sangat terbatas dan tidak mungkin tahu apa hakikat sesuatu yang ada, baik oleh indera maupun pikirannya.
c.       Aksiologi
Dalam kamus besar bahasa indonesia diterjemahkan bahwa makna dari aksiologi, adalah kegunaan ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia atau kajian tentang nilai khususnya etika. Lebih spesifik makna dari aksiologi adalah tentang nilai dari adanya sesuatu tersebut. Aksiologi sendiri terdiri dari 2 cabang ilmu lain yaitu; estetika dan etika.
1.      Etika
Etika merupakan penyelidikan filsafat mengenai kewajiban manusia serta tingkah laku manusia dilihat dari sisi baik dan buruknya tingkah laku tersebut. Atas dasar hak apa orang menuntut kita unutk tunduk terhadap norma-norama yang berupa ketentuan, kewajiban, larangan dan lain sebagainya. Bagimana kita bisa menilai norma tersebut? Pertanyaan-pertanyaan tersebuat timbul karena hidup kita seakan-akan terentang dalam suatu jaringan norma-norma. Jaringan itu seolah-olah membelenggu kita, mencegah kita bertindak sesuai keinginan kita dan memaksa kita berbuat  apa yang sebenarnya kita benci.
2.     Estetika
Setetika membahas/membicarakan soal nilai rendah dan tidak rendah. Nilai baik dan buruk sering diterpkan orang kepada perbuatan atau tindakan menusia, sedangkan nilai rendah da tidak rendah lebih cenderung unutk diterapkan kepada soal seni. Estetika berusaha untuk menemukan nilai yang indah secara umum sehingga tidak mustahil kalau akhirnya timbul beberapa teori yang membicarakan hal itu.


EmoticonEmoticon