Search This Blog

Arsip Blog

Followers

Bookmark
Featured Post

Aku dan Ilusi yang Menepi

Aku bertemu seorang gadis cantik tadi malam di kedai kopi. Sebuah tempat yang paling masuk akal bagi manusia gagal untuk berpura-pura baik-baik saja …

Liturgi Pagi dan Delusi yang Menepi

Aku bertemu seorang gadis cantik kemarin. Perjumpaan itu terjadi di gardu belakang rumah—sebuah altar kecil tempatku merayakan kesunyian dan meratapi beban eksistensial sebagai pengangguran yang sedang diuji oleh waktu. Ia muncul tepat ketika matahari mulai tergelincir, meninggalkan puncak zenith menuju haribaan senja yang melankolis.

“Apakah surga sedang direnovasi hingga bidadari ini harus mengungsi ke bumi?” selorohku dalam batin. Aku terpaku dalam kekaguman yang nyaris religius.

Jika harus kurinci perjumpaan itu, ia adalah sebuah simfoni ruang dan waktu. Saat mata kami beradu, ia melemparkan sapaan “Kak” dengan nada yang cergas namun menyimpan kelembutan yang purba. Garis bibirnya ditarik ke samping, membentuk kurva senyum yang begitu presisi—seolah Tuhan sedang dalam performa terbaiknya saat memahat wajah itu. Ia bukan sekadar cantik; ia adalah persekutuan antara eforia visual dan kedamaian batin yang mampu mengusap dinding hatiku yang selama ini gersang dan berkarat.

Pikirku, Tuhan mungkin sedang dalam kecerobohan yang indah dengan lupa menyisipkan cacat pada makhluk ini. Aku yakin—seyakin Felix Siauw dengan doktrin khilafahnya atau barisan PA 212 dengan romantisme kepulangan imam besarnya—bahwa tak ada terminologi dalam kamus mana pun yang mampu membedah tuntas anatomi keindahannya. Bahasa, pada titik ini, hanyalah deretan huruf yang gagal menjalankan tugasnya.

Kepada kawanku yang menatapku dengan sorot mata penuh tanda tanya, aku berbisik lirih: aku telah menemukan Juliet-ku. Aku siap menenggak racun hingga tetes terakhir demi menjadi kekasih abadinya. Atau jika harus, aku bersedia menjelma Rahwana, mendeklarasikan perang total pada Ayodhya, dan mempertaruhkan segala singgasana demi membuktikan siapa yang paling berhak mencintai Shinta ini. Persetan dengan dogma bijak yang mengatakan bahwa cinta lebih mematikan daripada malaria. Aku memilih untuk menderita dalam keindahan ini.

Dalam buaian harap, aku ingin waktu berhenti bereksistensi. Aku ingin hukum fisika tentang waktu yang seragam dan absolut itu runtuh seketika. Jika waktu tak bisa dibekukan, setidaknya izinkan momen ini berubah menjadi slow-motion—seperti fragmen protagonis dalam FTV yang sedang jatuh cinta (tentu saja tanpa klise konyol seperti buku yang terjatuh atau sentuhan tangan yang dipaksakan kaku).

Aku ingin meresapi lebih dalam kerlingan matanya yang hanya sepintas, namun sanggup mengacak-acak ritme jantungku hingga ke level anarki. Aku ingin memastikan bahwa rona merah di pipinya bukanlah sekadar pantulan cahaya senja, melainkan sebuah sinyal malu yang jujur karena ia menyapaku di hadapan orang lain.

Malamnya, imajinasiku meledak dalam eforia yang liar. Di bawah rasi bintang yang seolah berkonspirasi untuk menjadi romantis, aku berkelana mencoba mencuri seonggok hati. Karena takut ketahuan oleh mata-mata domestik di rumah, aku menarik diri, mengunci diri di kamar, dan membiarkan jemariku menari di atas kertas. Lahirlah sebuah puisi berjudul: “Kau Berhasil Mengambil Duniaku.” Aku ingin mengabarkan padanya bahwa benteng pertahanan hatiku telah jebol; bahwa hati yang belum sembuh total dari luka masa lalu ini telah diketuk paksa oleh senyumnya.

Aku tahu siapa namanya. Aku tahu di mana koordinat rumahnya. Dari meja tempatku menuliskan coretan ini, rumahnya bisa kutangkap hanya dengan satu bola mata—tak perlu kacamata minus, tak perlu teropong. Rencanaku bulat: esok pagi, sebelum embun menguap, sebelum ayam jago menantang matahari, dan sebelum corong masjid desa meneriakkan panggilan Tuhan, aku akan berdiri di depan pintunya. Puisi ini adalah mandat cinta yang tak bisa ditunda.

Begitu fajar menyapa, aku terbangun dengan detak jantung yang berpacu dengan waktu. Aku ingin segera meraih lembaran puisi itu dan bergegas pergi. Aku tak lagi mampu berkompromi dengan detik. Namun, seketika dunia seolah berhenti berputar. Lembaran itu raib. Meja itu kosong. Hampa.

“Ke mana perginya?” Otakku mencoba mensimulasikan logika Sherlock Holmes, merunut kembali setiap fragmen memori dari semalam. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan sisa-sisa eforia yang masih berdenyut di nadi, dan mencoba mengingat titik terakhir aku meletakkan puisi itu...

Hingga kemudian, kesadaran itu datang seperti tamparan dingin di wajah: Oh, ternyata semua ini hanyalah rekonstruksi neuron di alam bawah sadar. Semua keindahan, senyum, dan puisi itu hanyalah delusi tidur yang lancang.

Sial! Aku tertipu oleh mimpiku sendiri.
Post a Comment

Post a Comment