
Buku tidak sekadar memiliki daya untuk merestorasi peradaban. Ia juga menyimpan sisi gelap yang sanggup menyeret pembacanya ke jurang kegilaan.
Tak ada personifikasi yang lebih paripurna untuk menggambarkan fenomena itu selain Don Quixote.
Melalui tangan dingin Miguel de Cervantes, kita diperkenalkan pada seorang lelaki paruh baya yang melahap hikayat-hikayat kepahlawanan hingga realitas di kepalanya retak, lalu merekonstruksinya menjadi imajinasi absurd tentang dunia keksatriaan.
Kekuatan hipnotis literatur itu mengingatkanku pada fragmen-fragmen kecil dalam kehidupan nyata.
Aku teringat pada seorang kawan yang, di suatu sore melankolis di tepi pantai, tiba-tiba dirasuki hasrat ganjil untuk memotong senja dan mengeratnya menjadi empat sisi demi dipersembahkan kepada kekasihnya. Ia tentu tidak kehilangan akal sehat secara klinis; ia hanya sedang “terpapar” virus puitis dari Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma.
Atau tengoklah para novelis pemula yang nekat memesan tiket satu kali jalan menuju Paris hanya karena terobsesi pada romantisme kesusastraan generasi The Lost Generation dalam A Moveable Feast karya Ernest Hemingway. Bagi mereka, Paris bukan lagi sekadar koordinat geografis, melainkan sebuah “pesta yang berpindah” di dalam kepala.
Tapi Don Quixote melampaui seluruh bentuk imitasi literer itu. Ia bukan sekadar manusia yang terinspirasi oleh bacaan. Ia adalah sosok yang memaksa realitas tunduk pada imajinasinya.
Don Quixote memberontak terhadap kenyataan yang banal. Baginya, kincir angin yang membosankan menjelma raksasa-raksasa jahat yang harus ditumbangkan dalam duel terhormat.
Dengan tombak di tangan dan logika yang tercerabut, Don Quixote juga memaksa para pedagang pasar mengakui kecantikan Dulcinea del Toboso—seorang perempuan yang bahkan mungkin tak pernah benar-benar hadir selain di ruang pikirannya sendiri. Ia menuntut pengakuan atas sesuatu yang tak kasatmata; sebuah pemaksaan imajinasi yang melampaui batas kewajaran.
Lantas, apa yang membuat novel setebal bantal ini didapuk sebagai salah satu karya paling berpengaruh dalam sejarah manusia? Apa gerangan pesan yang tersembunyi di balik zirah berkarat itu?
Jawabannya mungkin terletak pada kegilaan itu sendiri sebagai bentuk resistensi. Sebagaimana konsep “normal”, kegilaan kerap kali hanyalah garis batas buatan yang diciptakan masyarakat untuk menyingkirkan mereka yang berbeda.
Bagiku kisah Don Quixote adalah manifestasi manusia yang mengambil tanggung jawab secara radikal atas keyakinannya sendiri. Cervantes seolah ingin membisikkan pesan eksistensial: manusia mencapai puncak kebebasannya justru ketika ia berani menghidupi gagasannya secara total—tanpa peduli apakah dunia menganggapnya absurd, konyol, atau gila.
Akhirnya, Don Quixote bukan semata kisah tentang seorang tua yang kehilangan kewarasan. Ia adalah perayaan atas keberanian untuk tetap menjadi “asing” di tengah keseragaman realit
Post a Comment