Search This Blog

Arsip Blog

Followers

Bookmark
Featured Post

Aku dan Ilusi yang Menepi

Aku bertemu seorang gadis cantik tadi malam di kedai kopi. Sebuah tempat yang paling masuk akal bagi manusia gagal untuk berpura-pura baik-baik saja …

Satu Paragraf: Setelah Nonton Drakor

Dua hari ini, karena masa aktif paket data tinggal beberapa hari lagi sementara kuotanya masih melimpah, aku menghabiskan waktu dengan menonton beberapa film—mulai dari film Jepang, China, hingga drama Korea. Menariknya, aku menemukan pola yang terasa begitu akrab. Sama seperti para pengarang sastra lama yang seolah memiliki kegemaran menjadi malaikat maut bagi tokoh utama mereka—seperti dalam Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Layar Terkembang, hingga Tenggelamnya Kapal van der Wijck—film-film yang kutonton pun tampaknya memiliki kecenderungan serupa: membunuh tokoh utama mereka sendiri. Kadang kematian itu diawali penyakit kronis yang perlahan menggerogoti tubuh tokohnya. Kadang lebih brutal lagi: tokohnya tiba-tiba mati begitu saja, seolah penulis skenario memang sengaja mencabut nyawa mereka demi menciptakan luka emosional bagi penonton. Aku tidak benar-benar tahu apa yang melatarbelakangi kecenderungan semacam ini. Jika boleh berspekulasi, mungkin ada semacam “warisan romantisisme” yang masih hidup hingga hari ini. Sebagaimana para pengarang sastra lama yang gemar mengorbankan tokoh-tokohnya demi menghadirkan tragedi yang menyayat, film-film modern tampaknya juga ingin menegaskan satu hal yang sama: bahwa cinta, kehilangan, dan penderitaan memiliki kekuatan emosional yang jauh melampaui logika. Semangat seperti ini mengingatkanku pada romantisisme Eropa pada akhir abad ke-18 hingga abad ke-19. Sebuah gerakan yang, meminjam ungkapan Armijn Pane, berusaha membesarkan pengaruh perasaan sebagai perlawanan terhadap zaman rasionalisme. Jika rasionalisme menempatkan akal sebagai pusat dunia, romantisisme justru ingin menghidupkan kembali kesadaran hati—bahwa manusia tidak hanya hidup dengan logika, tetapi juga oleh cinta, kesedihan, harapan, dan kehilangan. Mungkin karena itulah tokoh-tokoh dalam film romantis jarang dibiarkan hidup bahagia terlalu lama. Sebab tragedi, dalam logika romantisisme, sering kali dianggap sebagai bentuk cinta yang paling sempurna: cinta yang gagal dimiliki, tetapi justru abadi dalam ingatan. Meski begitu, pada satu sisi, akalku tetap memberontak sambil berkata: “Ah, bual aja nih film.” Hehehe.
Post a Comment

Post a Comment